My Fa
1 awalnya sesakit ini
“Brukkkkkkkkkk……………” suara hantaman mobil lain membuyarkan lamunan
singkatnya.
” eh Mbak,,nyetir itu pake
mata, bukan pake hidung” sahutnya marah sambil menunjuk memundurkan mobilnya
pelan “ awas kalau ketemu lagi….!? Gertaknya buru-buru meninggalkan mobil yang
baru di tabraknya, gadis itu cukup lega, karena laki-laki setengah baya itu
tidak turun dan meminta ganti rugi atau apapun sejenisnya.
Gadis itu menarik nafas
dalam-dalam mengembalikan kesadarannya, sambil melihat jam yang tertera di
hpnya. “sial…” gerutunya kembali melajukan mobilnya ketempat yang akan
ditujunya.
“ Hei Rena…! Tumben telat” sapa
gadis imut, berambut pendek saat gadis yang di panggil Rena, turun dari mobil.
Tanpa berkata apa-apa Rena menyerahkan kunci mobil Dinda yang dipinjamnya
kemarin. “ Rena…mobilnya kok gini….??” Teriak Dinda
“nanti saya jelaskan…!oke”
Ujarnya tanpa menoleh.
Dua jam berlalu, Profesor Yahya
terus memperhatikan Rena yang masih menyelesaikan ujian Skripsi, untung saja Rena
cukup menguasai materinya, hingga tidak cukup sulit baginya untuk menjawab
pertanyaan dari Profesor Yahya, meski waktu sudah habis dan teguran dari
Profesor yang terus menghujaninya tidak membuat Rena gugup.
Setelah menyelesaikan ujiannya,
Rena berlari kekelas Dinda, setengah berlari Dinda yang sudah menunggunya sejak
tadi, mengagetkan Rena dan menariknya
menuju parkiran mobil menunjuk bagian depan yang sedikit hancur.
“mobil kamu
apain sih ? sampai seperti ini”
“penjelasannya panjang Din,
sekarang kita berdua ke bengkel dulu ” kini gantian Rena yang menarik Dinda
naik kemobil.
Sejak tadi Rena terus diam
melihat keluar jendela, entah apa yang dipikirkannya, Dinda belum bertanya
sedikitpun, ia tahu kalau Rena memiliki sesuatu yang membuat pikirannya kacau.
“ Re…ayah menelponku kemarin,
dia juga menelponmu tapi katanya, kamu tidak menjawab?” sahut Dinda sedikit
tersenyum, pertanyaan itu cukup membuat mata Rena sedikit berpaling kepada
Dinda.
“hmmmm……aku tertidur!? Katanya
kembali melihat keluar jendela. Dinda tahu kalau saudara tirinya itu punya
masalah yang tidak ingin diceritakannya. Rena dan Dinda memiliki perbedaan umur
hanya seminggu, Rena lebih tua darinya mereka berdua cukup dekat dan akrab,
tidak seperti saudara tiri pada umumnya. Rena bersyukur memiliki Dinda dan
ayahnya. Kedatangan mereka bedua membawa suasana baru di keluarga Rena, dia
tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sejak umurnya masih lima tahun
sedangkan Dinda sendiri selama dua tahun kehilangan ibunya karena mengidap
kanker. Pertemuan pertama Rena dan Dinda memang tidak semulus seperti saat ini,
mereka berdua sering bertengkar dan itu berlangsung hanya beberapa bulan saat
ibu Rena dan ayah Dinda membawa mereka berkemah, saat itu pula Rena mulai
lembut dan akrab dengan Dinda, begitupun sebaliknya, mereka berdua telah
bersama selama 4 tahun dan tidak terasa kebersamaan mereka terjalin begitu
erat.
Suasana rumah begitu sepi,
hanya suara tv yang terdengar dari ruang tengah, ayah dan ibunya tidak di
rumah, mereka berdua berada diluar kota menghadiri pernikahan teman ayahnya.
Dinda sibuk dengan Hpnya sedangkan Rena
hanya duduk menonton acara yang tidak begitu menarik, bahkan sesekali Dinda
mengodanya tetapi Rena hanya serius pada tayangan yang dia juga tak mengerti,
meskipun hpnya beberapa kali berdering, Rena masih tidak peduli. Dinda Beranjak
mendekati Rena meraih hpnya, nama seseorang yang begitu dikenal Dinda muncul di
layar panggilan. Sudah ada puluhan pesan bahkan panggilan yang diabaikan Rena.
“ Kamu sama Keno kenapa?” Tanya
Dinda, dia tahu saudaranya perempuannya itu bertengkar hebat dengan Keno,
kekasih Rena yang sudah lama dua tahun menjalin hubungan. Rena bergeser sedikit
dari tempat duduk, meraih bantal sofa memelukknya, terlihat menakutkan bagi
Dinda jika sesorang wanita tidak menangis sedikitpun ketika mengetahui
kekasihnya memiliki wanita lain. Dinda sudah tahu itu, ketika sempat mendengar Rena
berbicara ditelepon.
“ lebih baik kamu nangis deh,
daripada menahan perasaan sakit itu, sumpah !! kamu jadi menakutkan Rena “ ujar
Dinda mendekat pada Rena, dan akhirnya dia mulai berbicara, Dinda sangat senang
terasa baru saja mendengar suara Rena pertama kali.
“ Keno…pria bajingan itu……?” Rena
berhenti sejenak, lalu kembali menatap Dinda yang tida sabar mendengar kisah
percintaannya.
“ Dind, kamu tahu? Keno
selingkuh dnegan siapa? “ Tanya Rena sebelum kembali melanjutkan, Dinda
mengeleng tidak tahu.
“ Bahkan dia selingkuh dengan
wanita yang kecantikannya tidak begitu jelas, tubuhnya pun tidak jelas dari
mana? “ ujar Rena membuat Dinda bingung, tak lama berbicara Rena akhirnya
tersenyum untuk pertama kalinya sejak kejadian kemarin.
Pembicaraan singkat itu, begitu
berkesan buat mereka berdua, Rena memang cukup tegar meskipun hatinya terasa
berat dan ingin menangis, tetapi jika dipikir buat apa dirinya menangis untuk
pria seperti Keno.
2. menangislah
Hari yang begitu cerah, siang
itu matahari seperti lima jengkal dari kepala membuat orang-orang malas untuk
keluar rumah dan lebih memilih berada di ruangan yang ber- AC, atau di Café
menikmati minuman beku, bahkan toko es cream juga penuh dengan pelanggan yang
tidak henti-hentinya. Saat seperti ini juga yang dipikirkan Rena. Dia ingin
memberikan kejutan ulang tahun kepada Keno kekasihnya dengan mengunjungi studio
miliknya. Keno merupakan salah anggota Band dan bermain dengan drummer, dan
kadang menjadi vokalis. pertama kali bertemu dengan Keno begitu memorandum
untuk Rena, saat itu Keno merupakan senior Rena di kampus. Perayaan kampus yang
diadakan sekali setahun itu cukup meriah dengan hadirnya band Keno.
Setelah turun dari mobilnya, Rena
kembali memperhatikan penampilannya pada kaca jendela samping studio Keno, dia
ingin tampil cantik depannya, bahkan dia tidak memberitahu kedatangannya pada
Keno. kotak kue yang di bawahnya cukup besar, dia kembali melangkah memasuki
studio. Terdengar begitu senyap sampai akhirnya, Rena tiba di ruang latihan
Keno. Tampak Doni, Reza dan Dicki mengobrol lalu Rena masuk berharap Keno juga
berada di dalam.
“ Hei….” Sapa Rena meletakkan
kotak yang sejak tadi memberati lengannya.
“ Re…Rena “ Dicki menhampiri Rena,
dia sangat terkejut dengan kedatangan Rena yang mendadak. Reza dan Doni ikut
berdiri dengan tiba-tiba, tingkah mereka begitu aneh seperti menyembunyikan
sesuatu.
“ aku nggak nganggu kalian kan?
“ ujar Rena berdiri membelakangi pintu.
“nggak
kok, silakan duduk “ lanjut Dicki cemas
“ Keno mana?” Tanya Rena yang
sejak tadi tidak melihat Keno.
“ Keno…dia lagi….??” Ucap Reza
gugup.
“ Dia keluar beli makan siang,
panas banget yah “ tambah Doni mengibaskan tangannya beberapa kali.
“ emang Ac nya nggak nyala ?”
ujar Rena meraih Remote yang berada tepat di hadapannya.
“ Keno kok lama yah “ kata
Dicki tegang, Rena sedikit aneh dengan
mereka bertiga karena merasa cukup lama menunggu, hp Doni terus
berbunyi, Reza sibuk dengan mengirim sms keseseorang. Tanpa di sadari Rena
merebut hp dari gengaman Reza.
“ kalian kok aneh…” tambah Rena
membuka satu persatu pesan sms dari Keno. Reza tidak bisa mengatakan apa-apa
kecuali menatap hpnya sudah berada di tangan Rena.
Tubuh Rena tiba-tiba
tersungkur, seperti seseorang yang baru saja kehilangan sebagian jiwanya.
“ Rena…..” Dicki meraih bahu Rena
membantunya berdiri.
“ sorry Rena….Keno…?” belum
sampai ucapan Dicki, Rena mengembalikan Hp Reza.
“ dimana dia sekarang?” Tanya Rena,
mereka bertiga hanya bisa diam memberitahu keberadaan Keno.
“ingat,,aku nggak akan bisa maafin
kalian bertiga, jika salah satu dari kalian menghubungi atau memberitahu Keno
kalau akau akan menyusulnya sekarang” ancam Rena menunjuk mereka bertiga.
“ kami ikut…” sahut Reza
berjalan lebih dahulu disusul Rena, tak lama Dicki dan Doni berlari dengan
tegang masuk ke mobil Reza. Hanya rasa penyesalan yang mereka katakan sepanjang
Rena mengemudi.
Tak lama mengalahkan perjalanan
yang begitu macet hanya beberapa menit saja, Rena tiba di sebuah Café yang juga
merupakan studio tempat Keno selalu tampil bersama teman-temannya, langkah Rena
hampir tiba di sebuah ruangan yang sempat di baca di pesan masuk Reza. Mereka
bertiga masih mengikuti Rena hanya suara bisik-bisik yang terdengar dari mereke
bertiga. Tubuh Rena seakan sudah bersiap menghadapi apa yang akan dilihatnya di
balik ruangan ini, sebelum membuka pintu, Rena membalikkan tubuhnya ke Dicki,
Reza dan Doni.
“ kalian bertiga tahu hari ini
hari apa?” Tanya Rena menunggu jawaban dari salah satu dari mereka.
“ hmmm hari kalian akan
putus??” sahut Doni. Dicki dan Reza bersamaan memukul Doni.
“ hari ini hari ulang tahunnya”
ujar Rena menatap kotak kue yang dibawanya lalu membuka kotak itu, tulisan
ucapan ulang tahun ke-27 untuk Keno dan lilin berbentuk 27 menghiasi kue itu, Rena menyalakan lilin
“ Keno lupa hari ini
ternyata………!!” belum sempat Dicki
meneruskan ucapannya, tangan Rena sudah memegang gagang pintu dan membuka
pintu.
“ Rena….. “ ujar Keno tiba-tiba
beranjak dari pelukan seorang gadis, Rena memperhatikan gadis itu sebentar dari
ujung kaki hingga ujung rambut, menggunakan higher setinggi 15 cm, kaki, paha
dan betis yang cukup putih dan mulus, menggunakan rok mini yang begitu pendek,
pinggang yang langsing, buah dada yang seperti buah kelapa yang hampir jatuh
dari pohonnya, leher yang tinggi, wajah yang bertopeng, bibir yang merah, Rena
bisa menebak mereka pasti sudah berjam-jam berciuman, menjijikkan pikir Rena
dia bahkan belum pernah melakukan hal seperti sejak bersama Keno. Setelah
memperhatikan gadis itu, Rena tersenyum mengarahkan pandangannya kepada Keno.
“ ini tidak seperti yang kamu
pikirkan Rena…” tambah Keno mendekati Rena memegang kedua pundaknya, hanya
beberapa detik Keno melayangkan tatapan tajam kepada Dicki, Doni dan Reza yang
hanya bisa menunduk melihat Rena.
“ selamat ulang tahun, Ken..”
ujar Rena memberikan kue itu pada Keno dan membiarkannya meniup lilin
terakhirnya.
“ uda deh,, Ken, kamu jujur
saja sama gadis ini” gadis yang bersama Keno lalu berdiri menghampiri Rena
tersenyum menarik lengan Keno menjauh darinya. Kue yang berada di tangan Rena
terjatuh. Rena kembali tersenyum meraih serpihan kue yang terjatuh tadi dengan
kedua tangannya, menghampiri Keno dan melemparkan kewajahnya. Rena segera
beranjak dari ruangan itu, Dicki dan Reza mengikuti Rena, Doni menghalangi Keno
mengejar Rena. Gadis yang bersamanya tadi masih berada disamping Keno dan tak
lama, Keno mengusirnya keluar.
“ Rena…” teriak Dicki belum
sempat ia menghampirinya.
Perlahan titik air membasahi kaca mobil, tangisnya yang
sejak tadi di simpannya kini berjatuhan bersama derasnya hujan.
3 awal yang baik
Beberapa bulan berlalu, Rena
mulai melupakan Keno dengan kesibukannya yang sekarang. Rena tidak seperti
teman-temannya yang lain, yang melanjutkan studinya di luar negeri, atau
bekerja di sebuah perusahaan, kini ia mewujudkan mimpinya sejak kecil, memiliki
sebuah tempat yang bisa didatangi oleh banyak orang, sekedar untuk berbicara
dan tertawa dengan menikmati secangkir kopi yang hangat dan makanan yang enak.
“ wauw..luar biasa” puji Dinda
melihat orang-orang yang terus berdatangan di café milik Rena. Café”R begitulah
nama tempat itu diberikan, sederhana tapi baginya begitu luar biasa, café “R
cukup luas, dan strategis bagi orang-orang yang begitu penasaran dengan tempat
ini. Selain makan dan minum, Rena juga menyediakan ruangan bacaan atau
perpustakaan terbuka di Café “R. Berkat Dinda yang mempromosikan Café milik Rena,
hanya beberapa bulan saja, Rena sudah bisa memperluas dan menambah fasilitas
Café “R sesuai dengan keinginan pengunjung,
Tentu saja Rena begitu sibuk,
apalagi malam ini adalah malam pergantian tahun, sebulan lalu Rena dan Dinda
membuat event malam tahun baru sehingga hanya beberapa hari saja, reservasi
sudah memenuhi kuota di café”R, Rena bahkan lupa kapan ia terakhir kali makan,
meskipun Dinda juga sibuk bekerja tetapi sesekali ia membantu Rena di Café, dan
malam ini Dinda datang membawakan makanan buatnya. “tubuhku rasanya sudah
mencapai batasnya” ujarnya sambil terus di suapi oleh Dinda tangannya masih
mencoret kertas-kertas yang tidak di mengerti Dinda. “ masih ada enam jam,
sebelum jam delapan, setelah makan kamu harus istirahat dulu”.” Hmmm…masih
banyak yang harus aku selesaikan Dinda”. Ujarnya menelan dengan cepat suapan
terakhir Dinda.
“memangnya hanya kamu yang
kerja di Café ini, manajer, dan karyawannya biarkan mereka bekerja, kamu hanya
perlu duduk, istirahat dan menyuruh mereka melakukannya semuanya”.
“aku juga ingin membantu,
pokoknya malam ini harus berjalan sempurna, biarkan café “R ini menjadi bahan
pembicaraan orang-orang, kau tahukan kalau bulan depan café kita akan mengisi
halaman pertama majalah” ujar Rena begitu semangat.
“lakukan sesuai keinginanmu,
tapi untuk tiga jam kedepan aku ingin kamu istirahat dan tidur, sisanya aku
yang urus” ujar Dinda keluar dari ruang kerja Rena yang begitu berantakan.
Tempat itu sudah membuat Dinda sakit kepala.
Belum melangkah terlalu jauh dari
ruang kerja Rena, seseorang dengan langkah terburu-buru sepertinya ada sesuatu
yang baru saja terjadi. Dinda menghentikan langkahnya dan menyapa laki-laki itu
dan beberapa detik memperhatikan papan nama yang tertera di di bajunya. “
Manajer Café Wahyu Prasetyo, ada apa?” tanyanya. “aku ingin menemui Mbak Rena
ingin melaporkan sesuatu padanya”. “sampaikan padaku, Rena sedang tidur, tidak
ada yang boleh menganggunya selama tiga jam kedepan” merebut kertas yang sejak
tadi di genggam manajer Rena, Dinda begitu kaget saat pria itu menarik kembali
kertas yang baru saja berpindah dari tangannya. “kamu dengar tidak, Rena lagi
istirahat, artinya tidak ada satupun orang boleh menganggunya, bahkan pak
Presiden sekalipun!!” ujar Dinda kesal. ”minggir” pria yang membuatnya kesal,
mendorongnya hingga terjatuh, dan lengannya menabrak tembok.
Mendengar keributan di luar
sana, membuat Rena terbangun dari tidurnya yang hanya beberapa menit. “ada
apa?” Tanya Rena menghampiri mereka, melihat Dinda yang kesakitan memegang lengannya
yang membiru. “apa yang kamu lakukan, cepat bawa dia keruangan, bawakan kotak
obat dan es ” bentak Rena kepada manajernya itu. “apa yang sebenarnya terjadi?”
Tanya Rena, yang begitu khawatir pada tubuh lemah Dinda, Dinda memang memiliki
tubuh yang rentang terhadap luka, bahkan luka kecilpun bisa membuat Dinda deman
beberapa hari. “hanya kesalahan kecil, apa luka ini akan membuatku tidak ikut
menikmati malam pergantian tahun ini” ujar Dinda, dari raut wajahnya Rena sudah
paham apa yang dipikirkan Dinda.” Dia manajer baru di café ini, sikapnya dan
sifatnya memang seperti itu yang kudengar dari karyawan dan pelayan, dia
sedikit arogan, cuek, pendiam dan bahkan tidak pernah tersenyum. Tapi
pekerjaannya cukup bagus dan ramah dan aku menyukai pekerja seperti itu”. Dan
tidak lama kemudian, manajernya masuk memberikan kotak obat dan es untuk
mengkompres lengannya. “ Wahyu, kamu di sini dulu jaga dia, aku akan turun
mengurus ini” tambah Rena mengambil kertas-kertas yang sejak tadi membuat Dinda
kesal.
“maaf” ujar Wahyu singkat.
Dinda mencibir dan berbicara pelan “ maaf katanya”. “iya maaf, doronganku
bahkan tidak begitu kuat, dan kamu begitu mudahnya terjatuh” Wahyu berdiri
beranjak dari tempat itu. “dasar laki-laki brengsek”.
“maaf atas kejadian tadi” sahut
Wahyu saat menghampiri Rena. “tidak apa-apa?”
“Mbak bisa memotong gaji saya,
karena kejadian tadi”.
“sudahlah, tidak apa-apa.
Jangan merasa bersalah begitu” Rena menepuk pundak Wahyu sambil tersenyum.
30 menit lagi kemeriahan
pergantian tahun baru, kembang api dan bunyi terompet akan menggema di sekitar
café dan seluruh dunia. Betapa tidak selain pergantian tahun baru juga
menyimbolkan awal berdirinya café “R bertepatan dengan tahun baru ini.
“maaf yah, aku tidak
menemanimu, waktunya hampir mulai” ujar Rena bersiap-siap, dia sedikit bersalah
kepada Dinda yang terbaring sakit, gara-gara luka yang di dapatkanya tadi
siang. “aku bisa melihat kembang api di luar sana, dan juga tidak ada yang
istimewa” keluh Dinda tersenyem kecut, dia tidak ingin membuat Rena khawatir,
meskipun terasa berat, Rena harus menemani orang-orang yang menjadi tamunya.
Lima menit lagi, Dinda berusaha meninggalkan sofa tempatnya berbaring, dia
melihat wajahnya di cermin sambil berkata “lihatlah dirimu Dinda, tubuhmu
begitu lemah, dan bahkan luka sekecil ini membuatmu deman, di saat seperti ini
dan semua ini gara-gara dia?”
“makanlah ini?” Wahyu muncul
tiba-tiba menaruh beberapa kue yang di bawanya
“tidak usah” Ujar Dinda,
berusaha tidak menunjukkan kalau ia sedang sakit.
“mengapa
tidak turun ? sebentar lagi acaranya di mulai”
“aku tidak tertarik,
pergilah!!” tanpa berkata apa-apa, Wahyu pergi meninggalkan Dinda sendiri, dari
wajahnya, dia tahu gadis itu sangat kesal pada dirinya meskipun sudah meminta
maaf.
Meski sedikit khawatir, Rena
bisa merasakan kelegaan saat rencananya berhasil sesuai dengan keinginannya.
Malam semakin larut waktu menunjukkan pukul empat, café sudah sepi pengunjung,
pelayan dan karyawan membersihkan tempat itu sebelum mereka pulang. Malam yang
melelahkan buat mereka tetapi meskipun begitu karena kebaikan hati Rena, semua
karyawan, chef dan pelayan bekerja dengannya merasa nyaman.
“Mbak, aku pamit pulang” ujar Wahyu
manajernya yang terakhir meninggalkan café, tapi Rena memanggilnya kembali.
“ kamu pasti lelah, tapi aku mau
minta tolong sebelum kamu pulang”, Wahyu mengikuti langkah Rena masuk ke ruang
kerjanya. Dinda tertidur lelap, Wahyu mengangkatnya menuju ke mobil.
“thanks yah Wahyu,” tambahnya
masuk ke mobil “ oh iya, kitakan searah, gimana kalau barengan” lanjut Rena
membuka pintu mobilnya. Meskipun beberapa kali Wahyu menolak, karena Rena
adalah atasanya, mau tidak mau dia naik dan mengantikan Rena menyetir.
“oh iya mbak, Dinda temannya
Mbak yah? Tanyanya.
“bukan, dia adik saya. Dia
deman, makanya saya tidak bisa membiarkannya lebih lama di café. Maaf
merepotkanmu”,
“tidak apa-apa Mbak”.
“sebenarnya dia sakit gara-gara
kamu lho?” ujar Rena membuat Wahyu terkejut sebelum kembali melanjutkan
ucapannya.
“ternyata kamu tidak seperti
yang orang-orang katakan, kamu baik dan perhatian juga” puji Rena, membuat
laki-laki itu sedikit tidak merasa bosan.
“maaf Mbak, Dinda sakit
gara-gara saya maksudnya?” bertanya dengan penasaranya, belum sempat
mendapatkan jawaban, Wahyu lebih dulu turun di depan tempat tinggalnya.
4. pertemuan pertama
“kamu sudah baikan” ujar
ibunya, membantunya menuruni tangga, menuju meja makan.
“lihat gadis cantik ayah”
memuji kedua putrinya yang meskipun sudah dewasa dan umur yang seharusnya
menikah tetap saja ayah dan ibunya masih memperlakukan mereka berdua gadis
kecil.
“bagaimana kalau kita
mencarikan jodoh untuk mereka berdua” lanjutnya ayahnya tersenyum menunggu
kedua respon kedua putrinya itu.
“aku ingin menikah dengan
laki-laki yang kucintai sendiri” sahut Dinda lebih dulu, menunggu jawaban Rena
kemudian. “ terserah Ayah dan Ibu saja” jawaban Rena begitu sederhana membuat
makan siang di hari libur mereka lebih menyenangkan.
“hari inikan libur, kok kamu
mau ke café?”. Dinda yang sudah sehat, menghampiri Rena, Dinda begitu menyukai
saudara perempuannya itu, meski Rena selalu di buat kewalahan dengan sikap
Dinda, tetapi Rena tidak pernah mengeluh dan hanya tersenyum, dan hanya itulah
obat kesepiannya selama ini.
“ Wahyu “ panggil Rena saat
melihat Wahyu juga menuju ke Café.
“yah..hari ini semua karyawan
libur, apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Rena
“maaf Mbak, selama ini setiap
hari libur, saya selalu mengunjungi café, karena saya melatih diri saya”.
“melatih? Hei kamu itu manajer,
tugasmu hanya mengawasi dan memberikan laporan padaku. Kamu tuh yah,”
“aku seorang barista Mbak,
jadi,,,,,,,,” tiba-tiba Rena memotong pembicaraan Wahyu, sambil menuju ruang
kerja Rena.
“ahhh..! aku lupa kalau kau
juga seorang barista” Rena kembali menepuk bahu Wahyu menunjukkan kepuasan
kepada manajer berbakatnya itu.
“Dinda gimana Mbak?” Tanya Wahyu,
kembali Rena menatap manajernya itu, yang sudah dua bulan bekerja di cafenya.
“Mbak…? sekarang kita nggak
kerja Wahyu, jadi tidak usah panggil Mbak dan terima kasih yah bantuannya
kemarin”
“ iya… tapi kenapa datang ke
café? rasanya aneh nggak manggil Mbak” ujar Wahyu
“umur kita sama, jadi nggak
usah formal gitu” Rena kembali tertawa, ternyata Wahyu yang selama ini
dibicarakan karyawan yang biasa di dengarnya berbanding terbalik. “ besok aku
harus keluar kota selama dua hari” jelas Rena memberikan segala sesuatunya
kepada Wahyu selama ia pergi dua hari ini.
Perjalanan menuju kota Jakarta
selama dua jam lebih, di tambah cuaca di
kota itu hujan, membuat Rena mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan dan hanya
menuju ke lokasi yang di tujunya. Pertemuan yang tidak di sangka saat Rena
masuk ke toko keramik, sosok pria yang sudah tidak asing lagi berdiri di
hadapannya, menatapnya dengan terkejut dan tentu saja Rena berdiri mematung
memperhatikan sosok pria yang pernah ia sayangi dan cintai, yang pernah
memberikannya janji masa depan kini berada dua langkah di depannya.
“hei Re..” sapanya tersenyum.
Rena mengembalikan senyuman
Keno, meski satu tahun lebih berlalu, perasaannya itu baru saja terjadi kemarin.
Dia kembali tersadar, baru saja sejenak ia kembali ke masa lalu yang hampir
tidak pernah datang menghampirinya.
“hei…apa kabar?” balas Rena
memberikan salaman perjumpaan pada Keno, dia mengajak Rena ke studio untuk
berbincang-bincang dan bertemu dengan Reza, Dicki dan Doni. Tidak ada alasan
untuk menolak ajakan Keno, bagi Rena itu hanya masa lalu yang menyakitkan. Anggap
saja dia ingin mengunjungi teman-teman masa kuliahnya.
Tiba di studio miliknya, Reza,
Doni dan Dicki awalnya terkejut karena kedatangan Rena yang barengan dengan
Keno. Meskipun begitu Rena, di sambut hangat oleh mereka.
Meski setahun lebih berlalu
mereka berempat masih tetap bersama dengan anggota yang sama. Meski sedikit
canggung, dan gugup, Rena juga heran dengan perubahan sikap Keno, apakah sikap
ini karena sudah setahun lebih setelah mereka putus dan tidak pernah bertemu
lagi, atau hanya hatinya yang merasa bimbang.
Cukup lama mereka mengobrol, Rena
memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore, dia harus segera ke
bandara. “biar Keno yang mengantarmu ke bandara, taksi di saat hujan seperti
ini jarang lewat sini” usul Reza mendorong tubuh Rena lebih dekat dengan
Keno.“tidak usah,” ucapnya membuka pintu, di saat bersamaan itu pula seorang
pria tinggi, berambut panjang di kuncir, menggunakan kaos oblong, jeans robek
dengan ransel di pundaknya menatap tajam padanya, entah siapa yang ingin
melepaskan tangannya lebih dulu dari gagang pintu. Karena terkejut dan takut, Rena
cepat-cepat melepaskan tangannya. Tanpa mengatakan apa-apa pria itu membuka
pintu lalu pergi. “maaf Re, dia adiknya Keno, kamu terkejutkan?” ujar Dicki
mengantarnya masuk ke mobil Keno. “Dia Ray” Keno memperkenalkan pria yang ikut
masuk dalam mobil bersamanya. Pria itu tidak mendengarkannya saat Rena
memperkenalkan dirinya, dia hanya sibuk dengan gadget dan earphone di
telinganya. Sepuluh menit perjalanan, pria yang di panggil Ray itu menutup
matanya, sekali-kali kepalanya mengangguk pelan menikmati lagu yang
didengarnya, mata Rena begitu penasaran dengan pria yang berada di belakangnya
itu, entah dia merasa aneh dengan gayanya atau baru pertama kali melihat orang
seperti itu. beberapa kali pandangannya terus melihat kaca mobil hanya untuk
melihat Ray, tapi mata Rena tertangkap basah, Ray membuka matanya, menangkap
mata Rena yang sejak tadi memperhatikannya. Sigap Rena salah tingkah dan
melihat keluar jendela sedangkan dia kembali menutup matanya. “maaf” suara
hening sejak tadi pecah, saak Keno dengan pelan mengatakan ucapan yang tidak
pernah ia dapatkan. Rena memalingkan wajahnya ke arah Keno, Rea paham ucapan
itu. “maaf, atas semuanya, maaf karena waktu itu…?”. Rena memotong ucapan Keno,
“sudahlah, itu dulu” Rena melempar senyum getirnya, meski ia mencoba untuk
memahami yang sudah terjadi dan sekarang ini adalah masa untuk melangkah
kedepan, ia tidak ingin mundur karena pernah mengalami masa yang buruk untuk
hatinya.
“mungkin Ray akan satu
penerbangan denganmu, dia juga mau ke Bandung”
“dia memang seperti itu?” Tanya
Rea, Keno tertawa pelan, walaupun kemungkinan besar Ray tidak akan mendengarkan
apa yang mereka bicarakan.
“iya…dia itu pecinta seni,
waktu kecil dia melukis di mana saja, membuat apa saja hingga dapur dan rumah
begitu berantakan karena ulahnya, dan baru-baru ini dia membuat kekacauan di
kantor polisi” sambil berbisik “ dia mencoret dinding kantor polisi dengan
tulisan ejekan” jelasnya singkat, di benak Rena, pria ini hanya orang aneh yang
sikapnya berbanding terbalik dengan Keno. “untuk apa di ke Bandung?” tanyanya
kembali. “ayahku mengirimnya kesana, untuk mengadakan pameran pertamanya”
jelasnya singkat.
Sesampainya mereka di bandara,
sekejap mata, Ray menghilang begitu saja, Rena masih harus membeli tiket yang
sudah di pesannya sejak siang tadi, dan lebih dulu masuk ke pesawat mencari
tempat duduknya. Karena begitu lelahnya, Rena lebih dulu tidur tanpa menyadari
bahwa pesawat telah lepas landas. Hanya 30 menit menutup matanya, sudah cukup
untuknya melepas lelahnya, lagi-lagi dia di buat terkejut oleh pria yang
bernama Ray, sejam pesawat ada di udara, dia baru menyadari satu tempat duduk
dengannya. “ Hei…” sapa Rena lebih dulu. “jangan karena kamu kenal dengan Keno,
kamu juga akan kenal padaku” ujarnya, Rena menghembuskan nafasnya yang berat
ketika mendengar ucapan itu terlontar dari mulutnya. Pria itu menutup matanya
memasang earphonenya kembali. ”apa mereka berdua sama brengseknya?” pikirnya.
Rena melihat keluar jendela dia menyesal menyapanya barusan. Bercampur malu
saat kejadian di mobil.
5 pertemuan kedua dan ketiga, apa ini takdir?
“aku merindukanmu?” sambut
Dinda, memeluk erat saudaranya itu.
“hei..ini hanya dua hari” ujar
Rena, melepaskan pelukan manja Dinda.” Mana Ayah dan Ibu?”. “ mereka ke café”
“café, kenapa ke sana?” ujarnya
Rena penasaran.” Kau tahukan, gedung kosong yang berada di samping cafému itu,
seseorang menyewanya untuk dijadikan galeri, dan yang mengejutkan, gosip yang
kudengar, penyewanya seorang pria tinggi, kekar, dan incaran para wanita. Aku
bahkan tidak sabar untuk berkenalan dengan orang itu, dan juga….” Dinda meraih
majalah membuka halaman “ lihat tubuh
ini” ujar Dinda menunjukkan hanya tubuh kekarnya. “ini hanya tubuh, apa
hubungannya dengan orang yang kau bicarakan itu” Rena sedikit tidak peduli.”
Dia yang menyewa gedung itu, Fa,,,namanya Fa..”. “Fa, apa itu nama?” Rena
dibuat bingung olehnya. “ hmmm, itu nama di majalah, dia juga seorang pelukis,
“wah dia luar biasa” puji Rena
membuat hati Dinda senang, meski dia tidak terlalu paham dengan apa yang
dikatakannya.
Esoknya, Rena langsung menuju
café, Wahyu manajernya menghampiri Rena begitu ia tiba, kesibukannya di awal
tahun baru ini terkesan begitu indah buat Rena, betapa tidak, dia sangat
berperan penting dan ikut membantu melayani pengunjung yang datang. “Mbak saya
sudah memilih band Café, yang sudah direkomendasikan, “ Wahyu menyerahkan
profilnya, tetapi Rena tidak begitu pemilih dan langsung mengambil keduanya.
Dia begitu percaya dengan pilihan manajernya itu.
Seminggu berlalu dan hampir
setiap hari, Dinda begitu rajin mengunjungi Rena dan pulang bersama, dan
seperti malam ini, café hampir tutup dan karyawan sudah pergi, Dinda
menunggunya di bawah, Rena harus kembali ke ruang kerjanya mengambil tas.
“Wahyu Prasetyo…” panggil Dinda
saat melihatnya keluar dari café tanpa mengatakan apa-apa. “Wahyu, kamu kenapa
sih? Sejak sore kemarin, kamu cuek dan tidak pernah berbicara padaku dan hari
ini aku memanggilmu, tapi kamu tidak mengatakan apa-apa”, ujar Dinda mendekati
Wahyu, mereka mulai dekat saat beberapa hari ini dan tidak heran, Wahyu
menyimpan perasaan suka kepada Dinda dan begitupun sebaliknya. Kemarin sore
adalah saat Dinda datang dan mengajak teman-temanya ke Café, yang mengejutkan
Wahyu adalah teman-teman yang di bawanya, salah satunya seorang laki-laki yang begitu
akrab dengan Dinda. Wahyu hanya menatap tajam padanya. Dinda menarik tangan
Wahyu, ia tidak begitu suka ketika dia memberikan pertanyaan kepada seseorang
tanpa menjawabnya.”emang salah saya apa ?”. Tanya Dinda kembali.”kamu tidak
salah apa-apa” dengan judesnya, Wahyu melepas tangan Dinda yang kemudian
mengejarnya.” Terus sikap kamu begini, kenapa?”. Wahyu menghentikan langkahnya
berbalik kearah Dinda “aku hanya tidak suka, kamu tersenyum di depan pria itu,
memegang lengannya bahkan tertawa, aku membencinya” ucapnya pergi begitu saja.
Dinda dengan wajah bingung dan sedikit kesal mengerutu tentang Wahyu.
“wah, tadi aku melihat drama
kalian berdua” Sahut Rena yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan
mereka.”kenapa menatapku seperti itu?” Dinda mendorong tubuhnya masuk ke dalam
mobil.” Kamu itu bodoh atau pura-pura tidak tahu, apa maksud Wahyu mengatakan
omong kosong itu” Rena masih tersenyum mengingat kejadian tadi.”benarkan yang
kubilang, itu omong kosong dan anehnya dia benci padaku, dia membenciku saat tersenyum
dan tertawa, yaaaaa apa senyumku begitu jelek, dan tawaku seperti babi?” Dinda
meraih cermin ditasnya, memperhatikan wajahnya dan beberapa kali mencoba kedua
ekspresi itu. “Wahyu, menyukaimu, sangat jelas kenapa pria mengatakan itu saat
dia cemburu” singkat Rena membuat raut wajah Dinda berubah.” Sepertinya malam
ini aku harus mengunci kamarku supaya kamu tidak datang mengangguku”.
Semuanya terjadi begitu saja,
dia begitu bahagia melihat Dinda benar-benar menyukai seseorang, meski sering
gonta-ganti pacar, kali ini Wahyu berbeda bagi Dinda, pulang kerja Dinda selalu
sempat datang mengunjunginya dan tentu saja untuk bertemu dengan Wahyu. Meski
mereka merahasiakannya dari Rena, tapi mudah baginya untuk mengetahui hubungan
mereka.
“sepertinya akan hujan”
pikirnya, meski sudah malam, langit begitu pucat dan tak Nampak satupun bintang
yang bersinar, dari kaca jendela Café, dia bisa merasakan embun dingin yang
hinggap di kaca, dan benar saja gerimis yang mengawali datangnya hujan lebih
deras lagi, Rea bisa menyaksikan orang-orang yang berlarian ke sana kemari
untuk berteduh, angin berhembus begitu kencang, beberapa kali terdengar suara
petir dan kilat yang menghiasi langit dan terlihat begitu jelas, pohon-pohon
kecil dan besar yang berada di halaman Café, tertiup kesana kemari, pelayan
café sibuk mengangkat kursi-kursi yang berada di halaman café, mereka harus
membereskan kursi-kursi itu sebelum selesai. Waktu menunjukkan pukul satu
malam, mungkin malam ini dia tidak akan pulang, melihat cuaca buruk di luar
sana, tidak memungkingkan baginya untuk menyetir.
“cuacanya begitu buruk” ujar Wahyu,
menghampirinya membawakan secangkir cappuccino kesukaanya.”kamu tidak pulang?”
sambil duduk menikmati cappucinonya. “aku tidak suka cuacanya, malam ini saya
harus tidur di ruang kerja lagi, dan kamu?”. “ oh… saya akan tidur di ruang
istirahat, tidak mungkin keluar di saat hujan deras seperti ini “. Ujarnya
pergi setelah pamit kembali ke ruang istirahat. Tinggal dirinya yang masih
menatap keluar jendela menyaksikan jatuhnya rintik-rintik membasahi kaca, mobil
dan motor yang lalu lalang melawan derasnya hujan, tangannya terasa hangat
dengan cappuccino yang masih panas, sembari menikmati setiap seduhan buih-buih
cappuccino yang tersisa, Rena berjalan ke arah pintu, hampir saja dia lupa
mengunci pintu.
Tiba-tiba saja, tangannya
terhenti ketika ia ingin memutar kunci, pintunya terbuka dan tubuhnya
terdorong, wajahnya basah dengan tiupan angin yang membawa air hujan
mengenainya, bersamaan itu pula seseorang sudah berdiri di depannya, dan terasa
aneh baginya, tetes hujan itu masih mengenai wajah Rena ketika perlahan
wajahnya terangkatnya, melihat sosok pria tinggi yang kini hanya berjarak
beberapa senti darinya, wajahnya sedikit tertutup dengan payung hitam
diatasnya, perlahan payung yang sejak tadi mengenainya dengan tetesan air hujan
terjatuh di lantai, sehingga wajah pria di bawa payung dan keadaan basah yang masuk ke dalam cafénya
terlihat jelas. Pikir Rena keadaan yang terjadi padanya sekarang, tidak lebih
dari sebuah adegan film. Bahkan dirinya tidak sadar pria yang pernah satu mobil
dan pesawat itu ada di hadapannya menatap wajah Rena yang terkejut kaku. Pria
itu mengangkat tangannya dan mendorong bahu Rena mundur beberapa langkah. Dia
masuk begitu saja dengan tubuh yang basah, Rena bisa melihat wajah pria itu
dengan jelas, bahkan tubuh yang dianggap kurus oleh Rea bukanlah tubuh kurus
yang dipikirkan selama ini. Rena dengan cepat menghampirinya, dan lagi tanpa
mengatakan apa-apa, pria yang bernama Ray itu hanya mengambil kunci yang sudah
dititipkan oleh ibunya lalu pergi begitu saja, dan dia baru saja tersadar bahwa
pria yang disebut Dinda adalah dirinya.
Hari ini tidak terlalu sibuk
bagi Rena untuk melakukan pekerjaannya, seharian ini dia terlalu banyak diam,
dan pikirannya melayang, tentu saja kejadian semalam membuat pikiran Rena
kacau. Sekali-kali kakinya melangkah keluar café, entah apa yang dirisaukannya.
Dia terus memandangi gedung kosong yang akan di jadikan galeri oleh pria yang
bernama Ray. dirinya merasa gelisah karena orang-orang yang keluar masuk tempat
itu, dan hanya Ray yang belum muncul.
“Mbak ngapain sih,
mondar-mandir nggak jelas?” Tanya seorang pelayan yang sejak tadi berbisik di
belakang bersama yang lainnya. Tidak biasanya, bos mereka terlihat gelisah dan
tak tenang. Rena tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menyuruhnya pergi.
“Bos kemana sih?” Tanya Nina,
salah satu pelayan, yang begitu penasaran saat melihat ekspresi bosnya menyuruh
Wana pergi. “ nggak tahu, kalian semua bubar nanti Pak Wahyu marahin kita,
ngumpul di sini!? Ujar Wana mendorong teman-temannya kembali bekerja.
“selamat siang !” suara ketukan
seseorang membuyarkan lamunan Rena, Wahyu masuk dan memberitahukan kedatangan
Band yang sudah di kontrak oleh Rena, mereka hari ini sudah membuat janji
bertemu untuk menandatangani surat kontrak selama beberapa bulan kedepan.
Betapa terkejutnya Rena saat melihat orang yang tidak asing lagi baginya masuk.
“ternyata kalian” Rena menghampiri mereka berempat kembali membuka
kertas-kertas berisi profil mereka, dia sama sekali tidak pernah membuka file
yang diberikan Wahyu padanya. “aku tidak menyangka, café ini milikmu Rena” ujar
Keno menerima surat kontraknya untuk di baca sebelum di setujui dan di tanda
tangani oleh mereka.
“kita semua akan sering bertemu
yah, beruntung sekali kami merekomendasikan band kami di café ini”. Tambah
Dicki. Tidak terlalu lama merundingkan soal isi kontrak mereka, tanpa basa-basi
mereka setuju dan resmi bekerja selama lima bulan ke depan. “ Rena, dia Keno
kan? Ngapain dia di sini? Kamu sih nggak baca baik-baik sebelum memilih mereka”
protes Dinda memperhatikan mereka dari kejauhan, semenjak Keno menyakiti Rena,
Dinda juga ikut membenci laki-laki itu. “bagaimana kalau dia mencoba dekat
denganmu lagi, aku akan membunuhnya!” ujar Dinda tidak suka dengan kedatangan
mereka. “ kamu berlebihan deh, nggak mungkin aku bisa sama dia lagi, dan mau
kuberi hadiah?” Tanya Rena mengedipkan matanya pada Dinda, sejenak dia lupa
rasa kesalnya pada Keno.
Suara sorakan, memenuhi café,
penampilan pertama Keno dan bandnya cukup memuaskan, meskipun sudah hampir
malam, segerombolan pelajar dan
mahasiswa yang datang untuk bertemu dengan teman-teman mereka, bahkan yang
datang hanya untuk menikmati perpustakaan di lantai tiga, menikmati berbagai
macam makanan dan minuman yang mereka sukai tidak habis-habisnya berdatangan,
sekejap saja Keno dan Bandnya sudah mendapatkan penggemar, dan mereka di
sibukkan dengan gadis-gadis remaja yang meminta foto. Rena ingat betul kapan ia
mulai jatuh cinta pada Keno, saat Keno
tampil di festival kampus dan saat seperti ini sama ketika beberapa tahun yang
lalu.
Rena menarik nafas dalam-dalam,
dia tidak ingin hatinya goyah hanya karena ini. Dia berjalan menuju keruang
kerjanya, langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri di samping meja
kerjanya, memeriksa satu persatu buku yang berada di raknya. Laki-laki itu
berbalik lalu duduk. “ibumu memintaku membawakan surat-surat ini padamu”.
Katanya dengan sikap yang sama, Rena hanya tersenyum mengambil surat yang
dimaksud Ray dan memasukkannya langsung ke tasnya. “ aku Ray” katanya tiba-tiba menyodorkan salaman
pada Rena, yang terkejut dengan sikap anehnya. “ aku Rena “ balasnya, tapi
salaman Ray tidak dihiraukannya. ” Keno ada di bawah!” ujarnya duduk di hadapan
Ray, tetapi tak sedikitpun respon yang dia dapatkannya. “jangan katakan apapun
kalau aku ada di sini!”ujarnya dengan suara yang serak dan agak dalam terdengar
begitu kaku di telinga Rena, dan tidak lama setelah itu, Ray pergi tanpa
mengatakan apa-apa.
“ dasar pria aneh “ Rena hanya
geleng-geleng, merapikan meja kerjanya yang sedikit berantakan, suara bunyi hp
menghentikan tangannya, bunyi itu terdengar asing baginya, bahkan hpnya, dan
telepon tidak berdering sama sekali, Rena mencari arah bunyi itu berasal, dan
tepat sekali perkiraannya, dia menemukan hp di bawah meja, mungkin terjatuh
saat seseorang mampir di kantornya. Dia mengambilnya dan memeriksa hp yang
tidak diketahui pemiliknya itu, hpnya berhenti berdering, dia bisa tahu siapa
pemiliknya saat Rena melihat fotonya. “siapa wanita ini?” bisiknya pelan,
matanya hanya fokus pada Ray, dia terlihat berbeda di foto ini, rambutnya
pendek, dan cara berpakaiannya lebih rapi, sangat berbeda dengan apa yang
dilihatnya sekarang. Sudah cukup bagi Rena membuang pikiran aneh di otaknya,
dia bergegas keluar mengejar Ray untuk mengembalikan hpnya. Tapi Ray sudah
pergi begitu cepat, dia memutuskan untuk ke tempat Ray, dan tidak sengaja
berpapasan dengan Keno.
“ kok terburu-buru!?” sapanya
melihat Rena yang hampir menabraknya.
“tidak apa-apa, lho
kamukan lagi kerja, jangan karena kita kenal kamu berani bolos, inikan hari
pertama kamu kerja!” tambah Rena sedikit bercanda, Keno begitu senang bisa
melihat Rena tersenyum seperti dulu, seperti saat mereka bersama, tidak bisa dipungkiri Keno rindu saat-saat mereka
bersama, rindu ingin mengenggam tangannya. Keno menarik nafas dalam-dalam
mencoba untuk menjernihkan pikirannya, tidak sepantasnya dia ingin mengulang
kembali masa-masa itu bersama Rena. Sementara itu tanpa mereka sadari, Ray
memperhatikan mereka dari tempatnya berada di lantai dua, cukup dekat sehingga
Ray bisa melihat halaman café Rena. “pria bajingan itu, tersenyum tanpa beban!”
ucapnya pergi.
“hei..” sapa Rena saat
masuk ke ruangan yang masih berantakan, apa yang di lihatnya ruangan ini akan
menjadi tempat karya-karya Ray di pajang, Ray dengan rambut panjangnya, sungguh
berbeda dengan apa yang dilihatnya di foto itu.
“ada apa?” Tanya Ray,
tangannya sibuk menggores kuas-kuas di kanvasnya, dia tidak begitu terkejut,
karena tahu Rena akan datang menghampirinya setelah menyadari hpnya terjatuh
saat ia berdiri di tempatnya.
“aku datang
mengembalikan ini” memberikannya langsung “ yah karena kamu ingin Keno tidak
tahu, jadi aku datang sendiri memberikannya” lanjut Rena menyempatkan dirinya
menikmati lukisan-lukisan Ray. “aku dengar kamu akan mengadakan pameran pertama
yah!” ujarnya berhenti pada sebuah lukisan yang Nampak sebagian, karena
tertutupi oleh lukisan lainnya. Lukisan seorang wanita yang sangat mirip dengan
wanita yang berada difoto bersama Ray. “jangan sentuh itu!” Ray menarik lukisan
dari tangan Rena, dan menaruhnya kembali, tanpa di sadarinya, dia membuat
tangan Rena terluka akibat terlalu keras menarik lukisan itu. Rena dengan cepat
menyembunyikan tangannya yang meneteskan darah, sebuah paku yang tertancap di
lukisan tadi membuat goresan dalam di telapak tangan Rena. Dia segera
meninggalkan tempat itu setelah meminta maaf padanya.
Hal yang paling dibenci
oleh Rena adalah darah, melihatnya saja dapat membuat kepalanya sakit dan
tubuhnya lemas jatuh pingsan. Rena mencoba menahannya, ia sempat melihat Dinda
dari kejauhan menikmati makan malamnya bersama Wahyu, hadiah makan malam yang
diberikan kepada mereka berdua, setelah Dinda melihatnya dan menghampirinya,
tubuhnya tidak lagi bisa bertahan, dan tidak sadarkan diri, Keno yang juga
berada di sana segera berlari dan membawanya ke ruang istirahat. Keno tahu betul
kelemahan Rena, setelah lukanya di perban, Dinda, Wahyu dan Keno menunggu Rena
sadarkan diri.
Sementara itu Ray baru
sadar apa yang telah di lakukannya tadi, setelah melihat darah Rena berceceran
di lantai, Ray mengejarnya tapi terhenti saat melihat dari kejauhan Rena jatuh
pingsan, dan di bawa oleh Keno. semuanya berawal dari kejadian itu, setelah apa
yang terjadi Ray terus memikirkan Rena karena dirinya ia bisa terluka.
6. mulai dekat denganmu!
Meski selasa pagi ini
tidak begitu cerah, Rena masih bisa menikmati paginya dengan sarapan nasi
goreng kesukaannya. Ayah dan Ibunya serta Dinda sejak pagi tadi sudah meluncur
ketempat kerjanya, hanya sabtu dan minggu dia bisa menghabiskan waktu bersama
kedua orang tuanya. Dia memandangi lukanya yang di dapatnya tadi malam,
menghela nafas berdiri dari meja makan dan memulai paginya dengan menuju ke
Café,
“apa yang terjadi?”
Tanya Wahyu bersamaan masuk kedalam café. “hanya terjatuh, ini tidak apa-apa,
karena aku terlalu ceroboh” jelasnya singkat, Wahyu tidak bisa lagi bertanya
apa-apa setelah mendengar jawaban Rena. Meski tadi ia sempat melihatnya
memperhatikan seseorang yang masuk ke dalam galeri. Tidak lama kemudian Keno
juga datang, ia tahu kedatangannya terlalu cepat, seharusnya dia berada di café
pukul empat sore, tetapi ia datang sebagai pelanggan, sekaligus melihat keadaan
Rena. Meski tidak mendapatkan jawaban yang menyakinkan darinya. Setelah
beberapa menit mengobrol, Rena berdiri dari tempatnya, menghampiri Nina,
menyuruhnya menyiapkan minuman pesanan Keno. “kamu tidak apa-apa?” Tanya
seseorang yang suaranya begitu di kenalnya, Rena berbalik melihatnya tangannya
di raih oleh orang itu, Rena sekali lagi hatinya di buat berdebar olehnya, Ray
mengusap pelan tangan Rena yang terluka.” Aku minta maaf atas kejadian tadi
malam “ lanjut Ray masih mengengam lengan Rena yang bahkan tidak bereaksi saat
tiba-tiba Ray menarik tangannya melihat lukanya.
“Ray,,,ngapain kamu di
sini?” Keno menghampiri mereka berdua, apalagi setelah tahu yang datang adalah
Ray, terlihat jelas kedatangan Keno membuat Ray tidak suka, wajah Keno berubah
melihat Ray memegang Rena, yang akhirnya melepas tangannya dari Keno. “ ada
yang ingin aku bicarakan!” ujar Ray berjalan menuju lantai dua, Rena bingung
dengan sikap Ray yang aneh. “kalian sudah kenal?” Tanya Keno, Rena terpaksa
memberitahu Keno apa dan kenapa mereka bisa kenal.
“seharusnya aku yang
minta maaf, menyentuh lukisanmu tanpa izin, jadi tidak ada yang perlu
dibicarakan lagi” ujar Rena meletakkan secangkir teh yang sudah disiapkannya.
“baiklah kalau begitu, oh iya aku datang karena ingin minta tolong padamu, apa
hari ini kamu sibuk?” Tanya Ray. “memangnya ada apa?” tanyanya balik. “karena
kamu bos di café ini, mungkin tidak masalah kalau aku meminjammu sehari saja”
Ray memperhatikan Rena yang bingung, apa ini ajakan jalan-jalan yang
dipikirkannya baru saja. “iya ini ajakan jalan-jalan” lanjut Ray seolah ia bisa
mengetahui apa yang dipikirkan Rena. “aku juga sudah kasih tahu manajer kamu,
jadi ayo..” ajak Ray, Rena masih terdiam memperhatikannya. “apa kamu akan diam
saja?” lanjut Ray menarik tangan Rena turun, dia hanya mengikuti langkahnya,
entah apa yang dipikirkan Rena, ia tidak bisa melakukan apa-apa saat laki-laki
itu mengenggam tangannya, membawanya keluar café. meski di lihat oleh semua
orang di café itu, karyawan yang saling berbisik, Wahyu yang mengejarnya hanya
sampai di depan pintu, Keno yang terkejut mereka bersama, berusaha mengejarnya
tetapi tidak kalah cepat langkah Ray yang mendorong tubuh Rena masuk ke mobil
dan segera pergi.
“aku ingin memulainya
lagi dengan Rena” kata-kata itu tiba-tiba terlontar dari mulut Keno, Dicki,
Doni dan Reza yang tadinya bercanda saling mengejek satu sama lain terdiam.
“kamu yakin? “ ujar Dicki.”kalau saya jadi kamu, bakalan mikir-mikir lagi, kamu
masih ingat nggak, wajah Rena saat memergoki kamu selingkuh”. Lanjut Doni duduk
di samping Keno. “ tolong Ken, walaupun kita tahu kamu sudah berubah, tapi saya
tidak yakin dengan Rena, jangan buat masalah lagi” nasehat mereka memang benar,
tetapi Keno ingin meminta maaf dan ingin mengulang semuannya, dia menyesal
melakukan semua itu.
Berjam-jam Rena hanya
duduk sendirian melihat Ray dari kejauhan, entah apa yang dilakukannya mengajaknya
berkeliling dari galeri satu ke galeri lainnya. Dia pasti mencari ide untuk
pamerannya nanti. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Rena masih sabar
menunggu Ray keluar, Rena lagi-lagi dibuat terkejut, Ray menempelkan minuman
dingin di pipinya, sontak Rena melepaskan tangannya dari pagar besi, kedua
kakinya yang bertumpuh pada pagar membuat keseimbangannya hilang, Rena hampir
terjatuh dan Ray menangkap tubuhnya. “apa kamu senang membuat orang lain
terkejut?” ujar Rena sedikit kesal.” Sudah sore, aku harus balik ke café!”
lanjut Rena berjalan lebih dulu masuk ke mobil.
“Ren, kamu dari mana
sih” teriak Dinda saat melihatnya turun dari mobil Ray.”yah..bukankah dia Fa,
si pelukis itu?” Tanya Dinda mengejar Rena yang masuk ke café.”kok dia beda
banget yah!”. “hum rambutnya yang gondrong itu” ujarnya meninggalkan Dinda
sendirian, yang masih penasaran dengan mereka.
“ Rena…” panggil Keno,
ia sejak tadi menunggu kedatangan Rena.” Ada apa?”.
“besokkan kamu nggak
kerja, aku mau ajak kamu jalan!” ajak Keno berharap Rena mau menerima
tawarannya. “aku punya ide?” tiba-tiba Rena turun menyuruh Wahyu mengumpulkan
semua pekerja café, tanpa terkecuali. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, café
lebih cepat tutup tidak seperti biasanya. Setelah memastikan semuanya
berkumpul.
“ada apa sih Ren?” bisik
Dinda penasaran.
“ gimana kalau minggu
ini, kita semua pergi kesuatu tempat yang indah!” ucap Rena, menunggu respon
mereka.
“liburan…!” Sahut Nina semangat. Melihat bosnya mengangguk,
bersamaan mereka bersorak setuju dan senang dengan pengumuman yang mengejutkan
mereka dan tidak habis pikir, memang mereka harus melakukan kegiatan liburan
ini, minimal sekali setahun untuk menciptakan saling kerja sama dan
kekeluargaan di antara mereka. Rena tidak bisa memutuskan kemana mereka akan
pergi, dan hanya menunggu usul-usul dari yang lainnya.
“gimana kalau ke
pantai?”.usul Nina lagi
“ pantai terlalu biasa,
gimana kalau ke puncak, di sana kita bisa nginap semalam, pemandangannya sangat
bagus dan juga udara sangat alami.” Jelas yang lainnya. Setelah semuanya
setuju, mereka memutuskan ke puncak minggu ini. Dan menyuruh mereka mengurus
keperluan perjalanan mereka. Karena ini adalah hadiah selama bekerja di café ,
biaya perjalanan mereka di tanggung oleh pemilik café.
“Ren, hummm selain
karyawan café, orang luar bisa ikut nggak?” Tanya Dinda
“orang luar ? siapa?”
ujarnya, mengarahkan pandangan pada Dinda lalu melihat Wahyu yang berdiri di
samping Dinda. “kalau kamu ikut, aku harus menjagamu juga, kamu tahukan, kalau
kamu itu deman kalau terluka” bisik Rena. “ kan ada Wahyu yang jagain saya”.
Tambah Dinda menyenggol Wahyu.” Yah udah, kamu turun dulu, ada yang harus aku
bicarakan dengan dia” tunjuk Rena pada Wahyu.
“apa kalian pacaran?”
Tanya Rena.
“maaf Mbak…!”.
“yah..!! apa jawaban
dari pertanyaanku itu, maaf!!, apa kamu tahu bagaimana keadaan Dinda?” tanyanya
kembali menyakinkan raut wajah Wahyu. Tapi Wahyu tidak mengerti sama sekali
dengan pernyataan yang didapatnya.”kamu ingat pertama kalian bertemu, dia
mendapatkan luka di lengannya, dan setelah itu dia sakit !!” jelasnya,
mendengarkan penjelasan panjang dari Rena, membuat wahyu beranjak pergi begitu
saja, dari wajahnya Rena bisa tahu, kalau pria itu merasa bersalah pada Dinda
dan berlari menghampirinya.” Mereka berdua membuatku iri “ pikirnya dalam hati.
Cinta seperti teka-teki, kadang mendapatkan hal yang mudah untuk dipahami dan
terkadang ada hal yang begitu rumit untuk dijelaskan. Kadang orang yang
merasakannya langsung merasa bodoh sendiri, ia tidak tahu apa yang dihadapinya,
apakah ini cinta? Membuat nafasmu terengah-engah, berdebar, dan selalu ingin memberontak.
Iya orang yang benar-benar merasakannya akan sulit untuk paham situasi dan
kondisi, apalagi ketika cinta itu tumbuh perlahan lalu semakin tinggi, dan
tidak tertahankan, rasanya ingin mati ketika perasaan itu tidak mampu diucapkan
dengan kata-kata, ungkapan itu lebih muda dilakukan dengan perhatian, membuat
orang yang kita perhatikan merasakan jengkel agar dia selalu terlibat dalam
kehidupan mereka, terus bersama dan akhirnya jatuh cinta dan mengungkapkannya,
semua seperti itu !.
Sehari sebelum berangkat,
Rena datang lebih cepat sebelum café buka, di saat bersamaan itu juga Ray
datang menghampirinya, dan untuk kesekian kalinya, Rena terkejut melihat
penampilan Ray, ini terlalu siang bagi Rena untuk bermimpi. Rambut gondrongnya
yang kemarin sudah tidak ada lagi, terlihat lebih keren, menggunakan tuxedo,
meski sedikit berantakan membuktikan bahwa ini adalah pertama kalinya ia
menggunakan pakaian formal seperti itu. Rena memandang takjub pada Ray, tanpa
berkedip dia menghampiri Rena. “apa aku terlihat aneh bagimu” ujar Ray
mendekatkan tubuhnya tepat di hadapan Rena. “aku mencarimu karena ini…!” bisik
Ray memberikan dasi bercorak biru putih kepada Rena, meski terlihat sedikit
malu. “oh …aku akan memakaiannya!” katanya gugup, wajahnya yang memerah, dan kini
jantungnya berdetak kacau, hatinya berdebar itulah perasaaan yang dirasakan
mereka berdua. Memakai dasi hanya memerlukan satu menit, tapi entah berapa
menit yang mereka habiskan, tangan Rena terlihat gemetar, sekali menunduk
menyembunyikan wajahnya ke dada Ray. Ini pertama kalinya ia memasangkan dasi
keseorang pria selain ayahnya. “cepatlah,,,aku akan terlambat!!” ujar Ray,
mendorong tubuhnya lebih dekat dengan Rena. Dia bisa merasakan nafas gadis itu
berpacu dengan cepat, Ray tersenyum, Rena bisa lega bisa menyelesaikan urusan
dasi itu, dengan cepat Rena mundur menjauh dari Ray yang sejak tadi membuatnya
nafasnya tidak karuan. Tetapi tubuhnya kembali di tarik oleh Ray. “sampai jumpa
nanti malam!” bisik Ray di samping wajahnya lalu pergi.
Dengan kedua tangannya,
Rena menutup wajahnya sambil tersenyum, berlari ke ruang kerjanya . “kau lihat
itu!!” ujar Nina, menyaksikan hal seperti itu adalah hal yang tidak biasa bagi
mereka. Tanpa Rena sadari, beberapa pelayan cafenya, telah menjadi penonton
dari awal sampai akhir. “ kalian tahu, ternyata Mbak Rena dan Keno pernah
pacaran lho, aku dengar itu saat teman-teman membicarakannya” Lanjut Nina, dia
sudah di juluki ratu gosip di café ini. “kalian kembalilah kerja, café sudah
seharusnya buka sepuluh menit yang lalu!” tegur Wahyu, hal yang biasa baginya
untuk menegur mereka. Kejadian tadi membuat Rena tersenyum sepanjang hari,
pikirannya seolah tidak ada di tempat ini, bahkan ia tidak menghiraukan pelayan
yang memperhatikan sikap Rena.
“dia memang seperti itu
kalau lagi jatuh cinta!” tambah Dinda bergabung dengan pelayan-pelayan yang
sejak tadi menghebohkan Rena. “ngomong-ngomong dia jatuh cinta dengan siapa?”
Tanya Dinda, ia baru saja sadar kepada siapa ia berbicara, memperhatikan satu
persatu wajah ketiga pelayan wanita itu, dan segera pergi ketika Wahyu datang.
“sebaiknya kau tanyakan saja sama Rena” tambah Wahyu juga pergi meninggalkan
Dinda sendirian. “jangan sampai dia jatuh cinta dengan Keno…!! Keno…??? apa
benar dia !!!” ujarnya kesal, setelah melihat Keno menghampiri Rena. Dinda
memang tidak menyukai Keno, meski hampir bertemu setiap hari, dia mungkin
adalah keluarga satu-satu Rena yang menentang hubungan mereka. Malam ini Rena
duduk menyaksikan band Keno yang menghibur pelanggan yang datang, dan tentu
saja dia menunggu seseorang, Ray mengatakan padanya bahwa malam ia akan datang
menemuinya. Café juga akan tutup lebih cepat mengingat besok mereka akan
mengadakan perjalanan panjang untuk berlibur. Rena terus memandangi jam,
terlalu lama baginya untuk menunggu. Dari belakang Ray ternyata sudah datang,
sulit baginya mencari Rena di kerumunan orang-orang ini. “ayo kita bicara di
luar saja, di sini terlalu bising” ajak Ray menarik lengan Rena. “berhentilah
menarik tanganku tanpa alasan!!” protes Rena. Wajah Ray tampak begitu bahagia,
baru kali ini Rena melihat Ray tersenyum lepas malam ini. “ memang ada apa??
Kamu kelihatan bahagia sekali” ujarnya, duduk di samping Ray. “rekomendasi
pameranku di setujui. Aku akan mengadakan pameran pertama tunggalku dua bulan
lagi”.
“benarkah..?? wah itu
bagus sekali, meskipun kamu cukup terkenal di bidang ini, tapi mengadakan
pameran itu sungguh luar biasa, bahkan di usia muda seperti ini” seru Rena
menepuk pundak Ray, tapi tangannya kembali diraih olehnya. “jangan menepuk
pundakku seperti anak kecil” ujarnya tidak suka. “ yah kamu itu setahun lebih
muda dariku, kamukan Cuma beda satu tahun dengan Keno, aku dan Keno…!”
perkataannya terputus saat Ray menarik lengan, menarik tubuh Rena. “bisakah
kamu tidak membicarakan dia di depanku!!” Ray berdiri dari tempat duduknya dan
kembali ke galeri, dia sedikit kesal mendengar nama Keno. “ada apa dengan
mereka, dia tidak begitu suka dengan kakaknya sendiri”.
Dari kejauhan, sepasang
mata terus memantau Rena dan Ray, tidak lain adalah Dinda. “aku tahu apa yang
harus aku lakukan, ide ini tiba-tiba saja muncul di kepalaku!” ujar Dinda. “apa
kamu seorang fans, seolah-olah mengikuti idolanya sendiri” ejek Wahyu,
“benar…aku tidak akan membiarkan idolaku jatuh ke tangan orang yang salah”
katanya mengebu-gebu. Wahyu hanya bisa mengelengkan kepalanya. “jangan suka
mencampuri urusan orang lain” . “ini bukan orang lain Yu, Ini Rena, saudaraku,
meski dia saudara tiriku, aku sangat menyayanginya, dia selalu cerewat demi
kebaikanku, aku bahkan belum melakukan apa-apa untuk membalas kebaikannya”
Dinda berdiri dari persembunyiannya, wajahnya terlihat sedih, Wahyu mencoba
menghiburnya dan mengikuti rencana Dinda yang akan menemui Ray setelah ini.
Dan benar saja, sepuluh
menit kemudian, Dinda masuk menemui Ray tanpa sepengetahuan Rena. “hei, aku
Dinda, saudaranya Rena, ingatkan?? Kita sering bertemu di cafe” sapa Dinda,
menghampiri Ray yang sibuk mencoreti kanvasnya. Tanpa basa-basi, Dinda mengajak
Ray untuk ikut bersama mereka besok. “aku tidak bisa, banyak yang harus aku
kerjakan, aku sudah terlalu banyak berlibur dan aku bukan siapa-siapa di café
itu, jadi tidak ada alasan aku harus pergi”. Ucapnya menyuruh Dinda keluar.
“kamu suka dengan Rena kan?” Tanya Dinda tiba-tiba. “oke… beri aku alasan
kenapa aku harus pergi” Ray berdiri melipat kedua tangannya, menunggu
penjelasan darinya. “kamu tahu Keno, vokalis band café !!? aku tidak tahu apa
kamu pernah melihatnya, dia mantannya Rena, mereka putus setahun lebih yang
lalu, Rena sepertinya mulai jatuh cinta lagi dengannya, bahkan Keno juga ingin
meminta maaf dan memulai kembali dengan Rena, aku tidak suka dengan pria
brengsek yang bernama Keno itu”. jelas Dinda, Ray mulai terhanyut dengan cerita
mengenai Rena, sepertinya Dinda tidak tahu kalau Ray dan Keno bersaudara, dan
bahkan dia mengatakan pria itu brengsek di depan Ray.
Setelah mendengar semua
cerita dari Dinda, Ray mulai memikirkan apa yang pernah terjadi di masa lalu,
saat dirinya mulai membenci Keno, kakak kandungnya sendiri, dan semua itu
karena wanita yang bernama Siska, wanita yang sangat di sukai olehnya, siska
adalah cinta pertama Ray, meski Siska sudah mengetahui perasaan Ray, ia tidak
pernah membalas perasaan itu. di lain sisi ternyata Keno juga menyimpan
perasaan kepada Siska, walaupun sudah ia sudah tahu kalau Ray menyukainya,
tetapi tetap saja dia mendekati Siska. Dan pada akhirnya dengan sendirinya,
perlahan Ray mengetahui itu semua. Siska lebih memilih Keno di banding dirinya,
hanya beberapa bulan mereka pacaran, Siska memutuskan untuk berpisah dengan
Keno dan menerima tawaran kerja di luar negeri.
Dan sekarang, wanita
yang bernama Rena yang membuat hatinya mulai terbuka untuk mencintai lagi, yang
membuat hatinya terus ingin melihatnya.
Dia mulai menyukai Rena meski terkadang tidak yakin dengan perasaan itu dan
Rena berasal dari masa lalu Keno yang pernah menyakitinya. “aku tidak ingin
kejadian ini terulang lagi!!” tutur Ray, mematikan semua lampu dan masuk ke
dalam kamarnya.
7. sekarang tekan tombol Remove untuk masa lalu
ini
Esok datang begitu cepat,
pukul delapan pagi semuanya telah berkumpul di halaman café, tiga bus sudah
menunggu dan siap mengantar mereka. Butuh waktu enam jam untuk sampai ke
lokasi. meski perjalanannya begitu melelahkan, mereka semua tertidur pulas,
mungkin karena masih terlalu pagi, Rena asyik dengan gadgetnya, chatting
bersama teman-temannya dan mendengarkan musik, perjalanan seperti ini, Rena
sama sekali jarang tertidur, karena ia tidak ingin melewatkan
pemandangan-pemandangan yang dilaluinya, sesekali mengambil foto dan menguploadnya
di sosial media. Rena bahkan bukan selebriti tapi banyak memiliki penggemar di
akunnya. Rata-rata dari mereka adalah pengunjung setia café, dan tidak jarang
sebagian dari mereka adalah siswa dan mahasiswa.
Tidak terasa perjalanan
panjang itu berakhir di sebuah villa tempat mereka menginap, kelelahan yang
mereka rasakan seolah terbayar dengan pemandangannya. Rena tidak langsung masuk
ke villa, ia begitu semangat dan tidak sabar untuk mengelilingi tempat ini, di
depannya sekarang terbentang perkebunan teh yang begitu luas, gunung yang
menjulang tinggi samar tertutupi awan kabut. Kakinya melangkah menghampiri
beberapa turis yang sedang berbincang dan mengambil beberapa foto, meski tidak
terlalu ia berjalan, dan villanya masih terlihat jelas dari tempat ini. Rena
begitu menikmati suasana tenang seperti ini.
Seseorang menghampiri
Rena dari jarak 50 meter, sosoknya tidak begitu jelas, perlahan menghampirinya,
Rena hanya diam di tempatnya menunggu orang itu lebih dekat lagi. “Ray…!!!”
serunya terkejut melihat orang yang menghampirinya adalah Ray. “kamu kok..??
kamu ngapain di sini? Kamu bisa di sini??” ujar Rena, tidak tahu harus
mengatakan apa, dia benar-benar terkejut melihat Ray di sini. “Ray, aku tidak
tahu harus mengatakan apa, kamu selalu membuatku seperti ini, datang tiba-tiba
dan membuatku tidak bisa berpikir, bagaimana bi…??”. Tiba-tiba Ray
memeluknyanya, kata-katanya terpotong begitu saja dan apa arti pelukan ini bagi
Rena. “dasar aneh…” melepas pelukan Ray “ jangan membuatku salah paham seperti
ini…Keno tahu kamu ada di sini?” Tanyanya menjauh dari Ray dan berjalan lebih
dulu di ikuti oleh Ray. “tidak, jadi jangan katakan padanya kalau aku ada di
sini!? “tuturnya membingung Rena berpikir dan penasaran, apa yang terjadi di
antara mereka berdua, Ray terlihat begitu benci pada Keno. “kalian berdua
saudara, kenapa kalian nggak akrab sih?”. “ada sesuatu yang terjadi di masa
lalu, yang membuatku benci sampai saat ini” singkatnya, meski tidak dapat
jawaban yang memuaskan, untuk hari ini dia tidak berhak tahu dengan kehidupan
pribadi mereka. “ jam delapan malam temui aku di samping villa, aku ingin
menunjukkan seuatu padamu “ tuturnya pergi meninggalkan Rena.
Sementara yang lainnya
sibuk melakukan aktifitasnya masing-masing, Rena terus memandangi jamnya, masih
ada 30 menit menuju pukul delapan. Di benakknya hanya ada Ray. “ Hei” sapa Keno
duduk di sampingnya. “ada apa? “ tanyanya sejak tadi memperhatikan Rena yang
begitu gelisah. “nggak kok, mungkin karena cuacanya terlalu dingin !” tutur
Rena, sweater yang di gunakan Keno di kenakannya pada Rena. “makasih” ucapnya
tersenyum. “Ren, aku ingin bicara padamu”, gugup Keno sedikit khawatir dengan
apa yang akan dikatakannya pada Rena. “bukankah kita sedang bicara sekarang
!!”. “ iya tapi tidak di sini, aku harus mengatakannya padamu malam ini”. Meski
sedikit berusaha menyakinkan Rena, Keno senang saat Rena setuju.
“Ren, waktunya makan
malam!” panggil Dinda kesal melihat Keno berada di samping Rena. “sepertinya
Keno berusaha dekat lagi denganmu!” bisik Dinda menjauhkannya dari Keno. “tidak
mungkin, kamu tahukan ? meski aku sudah memaafkannya, aku tidak akan kembali
padanya lagi” bisik Rena, menyakinkan kekhawatiran Dinda. “Ren, kamu sudah
ketemu sama Ray nggak??” Tanya Rena berbisik, ekpresi Rena berubah melihat sorot
mata Dinda, sekarang dia tahu mengapa Ray bisa ikut dengan mereka.
Malam itu tanpa
sepengetahuan yang lainnya, Rena keluar villa, dari kejauhan Ray sudah
menunggunya, di bawah sinar lampu yang redup, Rena dibuatnya takjub, pria yang
berdiri di sana, membuatnya detak jantungnya dan perasaannya berubah. Saat Rena
mendekat padanya, Ray langsung memakaikannya syal di lehernya. Mereka berdua
berjalan berdampingan menuju tempat yang akan di datanginya, sedikit canggung,
tangan mereka sesekali saling bersentuhan, dan itu membuat Ray tidak tahan dan
berhenti. “ yah, kamu menyakiti tanganku “. Ucap ray, Rena langsung menjauh dan
minta maaf, kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Tidak terlalu jauh,
mereka tiba di sebuah kolam kecil, tidak ada satupun sesuatu yang istimewa yang
bisa dia saksikan, meski menerawang beberapa kali, yang dilihatnya hanya sebuah
pohon yang besar yang berjarak lima meter dari kolam. “hanya ini?” tutur Rena
sedikit kecewa, entah apa yang ingin ditunjukkan oleh Ray. “tunggu dulu, ini sebentar
lagi “. Tidak lama kemudian, Rena melihat sebuah cahaya kecil yang keluar dari
rimbungnya pepohonan, satu persatu dan kemudian menjadi banyak, cahaya itu
terbang tepat di atas kolam kecil, pantulan cahaya yang dihasilkan oleh
bias-bias air menjadi lebih indah. Rena tidak bisa berucap apa-apa.
Kunang-kunang itu telah menyihir matanya. Hanya beberapa menit, sekumpulan
kunang-kunang itu kembali ke pohon setelah memperlihatkan dirinya sebentar,
mereka datang di malam hari, dan hanya terlihat sebentar, karena kunang-kunang
itu keluar hanya untuk mencari makanan.
“bagaimana kamu
mengetahui tempat ini?” Tanya Rena kembali melanjutkan langkahnya menuju villa.
“warga di sini yang memberitahuku, “ katanya berjalan di di samping Rena. Ray
kembali berhenti, menunggu Rena yang terlalu jauh darinya. “ “kamu kenapa sih?”
Tanya Ray kesal. Rena terkejut, tanpa alasan Ray marah padanya. “perhatikan
jalanmu, dan kau terlalu jauh di sampingku” ujarnya membuat Rena bingung dengan
sikapnya yang begitu cepat berubah.” Yah !!! tadi kamu melarangku terlalu dekat
karena menyakiti tanganmu, dan sekarang…??” ujarnya menghela nafas dan pergi
begitu saja, tetapi Ray meraih tangannya, mengenggam jemari Rena yang begitu
dingin, tangan hangat Ray membuat Rena melupakan kekesalannya, dia tersenyum
sambil tertunduk, wajahnya memerah bukan karena udara yang begitu dingin,
tetapi tangan Ray yang mengaitkan jari-jarinya.
Sementara itu, para
karyawan Rena melakukan aktifitasnya di halaman villa, menikmati sup yang di
sediakan oleh salah satu chef café. Keno sejak tadi mencari keberadaan Rena,
meski sudah bertanya tapi tidak ada yang tahu keberadaan Rena. Keno menghampiri
Dinda, ia yakin kalau dia tahu Rena di mana. “ Rena tadi keluar membeli sesuatu”
ucapnya berbohong, Dinda yakin kalau Rena saat ini bersama Ray. “ kamu
berbohong lagi? “ sahut Wahyu melihat Keno keluar.
“kenapa dia pergi
sendiri malam-malam begini” ucapnya dalam hati, dia berdiri di pintu masuk
villa, berharap Rena segera datang. “ Rena…!!” panggilnya menghampiri Rena yang
sedang berjalan sendirian, setelah berpisah dengan Ray beberapa menit yang lalu.
“kamu dari mana sih?”
“cari udara segar”
singkatnya tersenyum’
“di luarkan dingin,
kenapa jalan sendiri”
“oh iya, tadikan kamu
mau ngomong sesuatu sama aku, “ ingat Rena, mengikuti langkah Keno, di samping
villa terdapat taman kecil, lampu di sana cukup terang dan sepi untuk mereka
berbicara. “kamu mau ngomong apa?” lanjut Rena, terlihat jelas wajahnya begitu
bahagia mengingat apa yang terjadi, tangannya masih terasa hangat membekas.
”aku mau kita pacaran lagi” lontarnya, memperhatikan raut wajah Rena yang
langsung berubah. “aku menyesal, aku ingin mengulang semuanya dari awal”. Tutur
Keno menunggu respon yang akan dikatakan Rena. “maaf Ken, aku tidak bisa !!
kamu tahukan, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang” tegas Rena, Keno
memegang tangannya penuh harap. “oke, tapi izinkan aku untuk memperbaikinya,
aku sangat menyukaimu, kamu tidak tahu setahun ini aku terus memikirkanmu”
jelas Keno. “ sudah Ken, aku tidak ingin membahasnya, bukankah sebaiknya kita
tetap seperti ini, berteman dengan baik dan semuanya akan berjalan baik-baik
saja” tambah Rena melepas genggaman Keno perlahan. “aku mohon Ren, aku tidak
tahan hanya melihatmu setiap hari, tersenyum dan tidak memilikimu”.tuturnya
meski cara menyakinkan Rena begitu memaksa. “jangan egois, kamu tidak tahu
hari-hari yang aku jalani saat kamu mengkhianatiku Keno…..di sini begitu sakit,
jadi aku mohon jangan buat masalah” Rena berdiri dari tempat duduknya,
membelakangi Keno, perasaan itu tiba-tiba hadir dari masa lalunya,
mengembalikan ingatannya saat mendapatkan Keno selingkuh dengan wanita lain.
air matanya mengalir, meski sudah berusaha menahannya. “kau tahukan, aku sudah
berusaha meminta maaf padamu, menghubungimu sampai puluhan kali, setiap kita
bertemu di kampus kau selalu menghindariku”.jelas Keno.
” tapi…kenapa baru
sekarang Keno?? kenapa?” ujarnya dengan suara serak. “kenapa tidak mencariku,
mendatangi, dan berusaha.! mungkin saja aku hatiku akan goyah dan kembali
padamu, tapi ini sudah setahun lebih Ken…”’.
“iya aku tahu, maka dari
itu sekarang aku ingin memperbaiki semuanya”. Berusaha menyakinkan hati Rena.
“tahu apa kamu tentang
apa yang aku alami haaa!!” bentak Rena membalikkan tubuhnya, melihat Keno yang
sekarang menghampirinya.
“apa kamu tahu,
bagaimana kecewa dan sakitnya aku, setiap hari selama beberapa bulan, harus
berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura tersenyum padahal semuanya di
sini,,,,,??” pekiknya, suaranya tak begitu jelas tertutupi suara tangisnya, ia
memukul dada Keno berulang kali “ di sini sakit Ken, kenapa harus mengingatkan
aku semuanya!!”.
“maafkan aku Ren…”
mendekati Rena, mencoba menenangkan dengan memeluk erat tubuh Rena.
“hentikan…!!” suara itu
memecah suasana tegang, Rena terlepas dari tangannya, kini pelukan itu tidak di
dapatkannya, dan menjadi milik Ray. Rena melepaskan semua tangisan dan
kepedihannya di pelukan Ray. “jangan memaksanya seperti ini, jangan egois Keno
atau aku bisa membuat tinjuku melayang!” ucap Ray begitu marah, tangannya yang
sejak tadi mengepal yang sejak tadi sudah memperhatikan dan mendengar
pembicaraan mereka.
“pergilah Ray, kamu
tidak ada urusan dengan semua ini!!? Usirnya mendekati Rena yang masih
menangis, Ray sangat mengerti luapan kesedihannya, semuanya tumpah, bekas masa
lalu yang di alaminya, menumpuk begitu lama dalam pikirannya, mengubahnya
menjadi kesedihan dan air mata.
“sekarang dia urusanku,
dengar Keno, aku tidak bisa lagi mengalah seperti dulu, aku tidak bisa lagi
bersembunyi dari orang yang aku cintai, dulu aku membiarkanmu memilikinya.
Karena aku yakin kamu bisa membahagiannya, tapi sekarang….! Sekarang meski Rena
lebih memilihmu, aku tidak akan membiarkannya. Melihat Dinda dari kejauhan, dia
memanggilnya membawa Rena masuk. Tinggal mereka berdua di tempat itu.
“sejak kapan kalian
dekat…??” ujar Keno.
“apa aku harus menjelaskannya?”. Maju
selangkah, mendapatkan kerah Keno. “jauhi Rena, sekarang jawaban yang selama
ini kamu ingin tahu, sudah kau dapatkan!” tuturnya menjauhkan tangannya dari
Keno.
“ karena Siska lebih
memilihku, jadi kebencianmu padaku seperti ini!?” bentak Keno, gilirannya
meraih baju Ray. “Rena masih mencintaiku, jadi jangan masuk di kehidupan kami”.
Jelasnya melepas tangannya.
“cinta…?? “. Bentak Ray
meninggalkanya Keno sendirian. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, yang
hanya akan membuatnya semakin benci kepada saudaranya itu.
Tangis Rena perlahan
redup, Dinda masih di sampingnya menemaninya. Ini kedua kalinya ia melihat
langsung Rena menangis. Selama ini ia berusaha tegar sendiri. Tapi ketegarannya
di luapkan malam ini.
“kamu baik-baik saja?”
Tanya Dinda
“hemmm…aku baik-baik
saja, rasanya lega sudah menangis seperti ini!” katanya, membersihkan sisa-sisa
air mata yang masih basah di pipinya. “apa yang lain melihatku dengan keadaan
seperti ini??” ujarnya. “tentu saja!” jawab Dinda pelan berdiri mengambilkannya
segelas air putih.
“benarkah…ahmmm !!”
keluhnya merasa malu, bahkan masih sempat berpikir apa yang akan di gosipkan
tentangnya, memikirkan karyawan dan pelayannya melihat keadaanya yang begitu
memilukan. Tawa Dinda pecah melihat Rena terus menggerutu dan mengira-gira.
“mereka memang melihatmu
masuk, tapi tidak melihatmu menangis, karena saat membawamu tadi Wahyu
menutupimu dengan selimut, kau bahkan tidak sadar” tutur Dinda menghilangkan
kekhawatirannya sejenak. “maaf Ren, karena memaksa Ray untuk datang dan
menceritakan semuanya”. Sesalnya menunduk.
“Ray dan Keno itu
saudara, apa kau tahu?” ujar Rena membuat Dinda terkejut tidak percaya.
“benarkah…aku tahu sekarang !! waktu itu Dicki dan Doni pernah cerita tentang
Keno yang tidak memiliki hubungan baik dengan adiknya, ah !! ternyata dia Ray”.
Dinda sudah tahu apa yang terjadi, mendengar cerita Dicki ia menjelaskan
situasinya pada Rena. “Siska…??? Gadis yang ada di foto hp milik Ray” pikirnya,
ia benar-benar paham yang sebenarnya terjadi antara Keno dan Ray. Sepanjang
malam ia terus memikirkannya, Ray dan gadis itu, melihatnya masih menyimpan
foto di hpnya, dan lukisan yang ada di galerinya, membuat hatinya bimbang. Jika
memang benar Ray sudah melupakannya, dia tidak mungkin menyimpan foto-foto
mereka.
Meski pagi sudah tiba,
Rena masih bermalas-malasan di tempat tidurnya, waktu menunjukkan pukul
Sembilan pagi, mengingat kejadian semalam membuatnya bingung, bagaimana ia
harus bertemu Keno. apa yang harus dikatakannya nanti?, apa dia harus meminta
maaf? Semua kebingungan itu berkumpul di kepalanya. “ayo turun, hari ini kita
akan jalan-jalan di kebun strawberry” ajak Dinda menarik paksa Rena. “bersikap
seperti biasanya saja, seolah tidak terjadi apa-apa !!” tambahnya. “ tidak
semudah itu melakukannya !!” ujarnya menuruni tangga.
“ selamat pagi “ sapa
Rena, menutupi mata bengkaknya dengan kacamata.
“Mbak baik-baik saja
kan?? “ Tanya Nina, pertanyaan itu membuat Rena berpikir kalimat yang tepat
untuk menjawab pertanyaan mereka
“Mbak sih, keluar
malam-malam , cuaca dingin seperti ini rentang kena hipotermia “ tutur Nina, jawaban konyol yang bisa mereka terima,
sepertinya Wahyu dan Dinda yang melakukan ini semua. Lagi-lagi meringankan
pundaknya. Masalahnya sekarang adalah Keno, dari kejauhan sesekali ia
memperhatikannya. Meski sedikit canggung. Menempuh perjalanan hanya selama 20
menit, mereka tiba di perkebunan stowberry, ada banyak hal yang bisa di lakukan
di sini, selain strawberry, mereka juga bisa melihat perkebunan apel yang cukup
luas.
Sudah hampir siang,
mereka masih menikmati suasana di tempat itu. meski di sibukkan dengan
pekerjaan di sosial media, tidak membuat Rena untuk lupa bersenang-senang.
“ oh iya..sore ini kita
harus balik, masalahnya besok siang, ada Klien kita dari malang yang akan
datang, beritahu yang lain “ ujarnya kepada Wahyu. “…dan juga panggil Keno ke
sini!” katanya. Tidak lama, Keno, Dicki, Doni dan Reza menghampiri Rena. “besok
akan ada mitra kerja kita dari Malang yang akan datang, Café R akan buka cabang
di sana, jadi besok kalian ikut rapat bersama kami” perintah Rena, begitu tegas
ketika ia berada di posisi di mana seharusnya ia menjadi atasan dari puluhan orang yang di bawanya.
Setelah menyampaikan
itu, Dicki, Doni dan Reza pergi, hanya Keno yang masih berdiri di sampingnya.
“oh iya Ken, beberapa minggu yang lalu aku mengirimkan beberapa video penampilan kalian di sebuah
stasiun rekaman, dan respon mereka cukup baik dan untuk besok mereka juga akan
datang untuk bertemu kalian “ tuturnya
begitu jelas. Keno hanya mengangguk. Rasanya tidak mungkin ia mengungkit
kejadian semalam di saat seperti ini. Baru saja terpikirkan olehnya, Rena lebih
dulu memulai pembicaraan itu.
“apa yang terjadi tadi
malam, aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi, jadi aku mohon, jika kamu
benar-benar mengerti, biarkan ini menjadi masa lalu kita “ ucapnya pelan,
berharap Keno akan memahaminya. “bagaimana dengan Ray, asalkan bukan dia Rena,
jika kamu menyuruhku untuk memahamimu, terus bagaimana caranya kamu bisa
memahamiku!!” ucapan itu seakan menjadi
cambuk pedih bagi Rena. “kita harus
kembali ke villa, semuanya harus sudah siap pulang sore ini “ tambahnya lalu
pergi.
Meski liburan kali ini
terkesan singkat bagi Rena, tetapi itu cukup membuatnya mendapatkan cerita hari
ini, karena kesibukannya ia bahkan lupa tentang Ray, ia bahkan tidak tahu di
mana dia sekarang, masih berada di sini atau sudah lebih dulu pulang
mendahuluinya, setelah semuanya bersiap dan naik ke bus, Rena di kejutkan
dengan kedatangan Ray. “bukankah dia Ray,!!” tunjuk Nina, suaranya yang begitu
jelas, membuat orang-orang yang sedang duduk,berdiri melihat keluar jendela.
Keno ikut kaget melihat Ray di luar sana bersama Rena. “ah..aku
ingat..laki-laki gondrong, yang menyewa gedung di samping cafekan??, dia
seorang pelukis !!” tutur yang lainnya, kembali duduk.
“ada apa?” Tanya Rena,
bersikap normal agar orang-orang yang penasaran dengan mereka, tidak terganggu.
“ayo kota pulang bersama!!” ajak Ray, meraih tas yang di bawanya. “ Yah…!! mana
mungkin aku pergi begitu saja, mereka melihat kita” tambah Rena berusaha
menarik tasnya. “ Dinda akan
menjelaskannya, jadi tenang saja, ayo…!!” Ray menariknya, membawanya masuk ke
dalam mobilnya. Bus juga berangkat di ikuti bus yang lainnya, mobilnya berada
tepat di belakang bus itu.
“kamukan atasan mereka,
jadi lakukan hal yang perlu di lakukan oleh seorang bos,, yaitu mendapatkan
privasi perjalanannya sendiri” jelasnya.
“soal yang terjadi
semalam, kamu dan Keno…!” ungkap Rena.
“kamu sudah dengar ?? semuanya
berawal dari sana “ ucapnya singkat.
Rena masih memperhatikan
Ray, dia masih sama ? masih membuatnya begitu kagum dan cukup membuat hatinya
berdetak, Rena menarik nafas, ada hal yang ingin diketahuinya langsung, tapi ia
sama sekali tidak berani melontarkan pertanyaan itu, alasannya masih menyimpan
foto dan lukisan milik gadis yang mebuat Rena begitu penasaran, sehebat apa dia
sehingga membuat hati Ray, membeku sampai saat ini. Dia ingin menanyakan semua
itu, agar kebimbangan di dalam hatinya lenyap, agar pikiran dan hatinya tidak
salah menempatkan kebaikan Ray selama ini, dia tidak ingin jatuh lebih dalam
kepada perasaanya , tidak ingin berharap lebih untuk hatinya.
8 jika memintaku untuk menunggu
Meski keadaan sedikit
berubah, kehidupan yang di jalani terus mengalir sesuai kehendakNya, dia tidak
ingin memaksa takdir memihaknya terus-menerus, yang di lakukannya hanya berdoa
kepada Sang Pencipta.
Bertemu setiap hari
karena tuntutan pekerjaan harus membuat Rena memisahkan urusan pribadi dan
pekerjaannya. Walapun Keno masih berusaha mendapatkan hatinya, yang dilakukan
Rena hanya berusaha menghindarinya dengan alasan yang masuk akal. Semakin hari
perasaan Rena membuatnya bimbang, di lain sisi ia berusaha menghindari
perasaannya kepada Keno yang semakin hari, semakin memberatkan hatinya, dengan
perhatian dan perlakukan Keno kepadanya. Di lain sisi juga dia memikirkan Ray.
Tetapi beberapa hari ini dia Ray tidak terlihat, galerinya juga terkunci, dia
tidak ingin menanyakan Keno tentang Ray, yang di lakukannya hanya menunggu.
Malam itu pukul Sembilan, Rena melihat cahaya lampu di galeri, dia begitu
senang, Ray pasti sudah datang. Rena berlari, meski gerimis tidak menahan
langkahnya menemui Ray.
Saat dirinya sudah
masuk, yang dilihatnya bukanlah Ray, tetapi seorang gadis yang berdiri memperhatikan
lukisan-lukisan yang bergantung di dinding. Rambutnya yang panjang terurai
begitu manis, menggunakan kaos, dan cardigan, di tambah rok mini, kakinya mulus
dan tinggi.
“hei..” sapa Rena, gadis
itu berbalik dan tersenyum padanya, dipikiran Rena ia begitu terpesona dengan
kecantikan gadis yang di lihatnya sekarang.
“kamu siapa?” Tanya
Rena, wajahnya tidak asing, Rena mengingat di mana ia pernah melihatnya.
Tiba-tiba hp gadis berbunyi.
“aku di galeri tempat
Ray, kamu dimana??...Cafe’R…??baiklah aku akan segera kesana” ujarnya menutup
telpon.
“Aku akan
mengantarmu…!!” ujar Rena.
“kamu kerja di sana?”
Tanya gadis itu mengikutinya.
“ah iya…aku pemilik
café, aku datang karena ada urusan dengan Ray, tapi sepertinya dia belum
datang.
“kebetulan sekali, apa
kamu kenal Keno? dia bilang kerja di cafe ini!!” tanyanya langsung duduk di
tempat Rena mengantarnya.
“Iya, aku akan
memberitahunya, mungkin dia sedang siap-siap tampil, aku akan menyuruhnya
menemuinya setelah itu.” menyerahkan menu padanya, sebelum pelayan datang.
“silahkan memesan dulu,
pelayan akan segera membawanya, oh iya aku tinggal dulu yah” pamit Rena ke
ruang istirahat, di mana Keno sering berada.
“Ken, seorang wanita
mencarimu di luar sana,,aku lupa menanyakan namanya, tapi aku sudah kasih dia,
kamu akan menemuinya setelah tampil “ jelas Rena.
“Siska…?? Dia pasti
Siska” sahut Reza, membuat raut wajah Keno berubah saat melihat Rena mendengar
nama Siska. Rena tidak menanggapi dan hanya pergi.
“siapa dia?” Tanya Dinda
menunjuk gadis yang bernama Siska.“baru lima menit di sini, semua pria di
tempat ini seolah hanya melihatnya!” tutur Dinda.
“Siska ?? pantas saja,
wajahnya begitu familiar, gadis yang ada di foto bersama Ray, cinta pertamanya
yang tidak terbalaskan dan juga pernah memiliki hubungan dengan Keno, membuatku
sakit kepala” ucapnya dalam hati. Rena memutuskan untuk pergi dan kembali ke
ruang kerjanya, dia tidak ingin memikirkan masalah ini. Setibanya di ruangan,
dia mendapatkan Ray sedang berdiri melihatnya, Rena tidak tahu kedatangannya.
Tiba-tiba saja ia merasakan hatinya yang merasa, karena melihat Ray yang
dirindukannya. “Yah…dua hari menghilang tanpa kabar, kamu dari mana sih?”
mendekati Ray. “kamu merindukanku??” ucap Ray. “apa yang kamu lakukan selama
ini, kamu kemana?” Tanya Rena kembali, air matanya seolah ingin tumpah. “apa
begitu merindukanku?” ulang Ray. Tetapi Rena belum menjawab pertanyaan itu,
sama ketika ia juga tidak menjawab pertanyaan darinya. Rena begitu saja memeluk
pria yang ada di hadapannya. “kemarin aku harus ke buru-buru kembali ke Jakarta,
aku bahkan tidak tahu nomormu” ujarnya pelan, memegang kedua pundak Rena, dan
mengelap air matanya. “aku minta maaf karena pergi tanpa memberitahumu”
ujarnya. Rena langsung meraih hp milik Ray, saat membukanya, Rena masih melihat
foto itu.
“aku sudah menyimpan
nomorku , jadi kamu harus menghubungiku!!” tutur Rena, terlihat lesuh.
Mengembalikan hpnya. “oh iya, tadi aku bertemu Siska di galeri, sekarang dia
ada di bawah bersama Keno”. mendengar itu Ray langsung pergi tanpa mengatakan
apa-apa. Rena hanya melihat punggungnya yang menjauh. “aku ini siapa ? kenapa
harus cemburu, bagi Ray aku hanya seorang yang butuh diperhatikan” tutur Rena
pelan, menjatuhkan tubuhnya di sofa. Menutupi wajahnya dengan tissue.
“ Siska…??” sapa Ray
menghampiri mereka berdua.
“Ray…apa kabar?” sapanya
kembali, gadis itu terlihat senang setelah sekian lama tidak bertemu. “kapan
kamu datang?” Tanya ray.
“seminggu yang lalu,
tapi aku baru sempat mengabari kalian, dan mencari tempat kalian setelah
bertanya dengan Tante Widya” jelasnya. Siska memang akrab dengan orang tua Ray.
Malam semakin larut,
Rena masih belum bisa memejamkan matanya, begitu banyak yang menganggu
pikirannya. Bahkan sampai ribuan kali ia menghitung, kantuk yang ditunggunya
tak kunjung datang. Tiba-tiba hpnya berdering. Baru kali ini dia mendapat pesan
di saat larut malam begini. “apa kau sudah tidur?” bacanya, Rena terkejut,
orang yang mengiriminya sms adalah Ray. Pukul dua lewat 15 menit, jari-jarinya
langsung membalas sms darinya, tak berapa lama, ia mendapatkan balasannya. Ray
meminta maaf atas sikapnya tadi, dan ia menyuruh Rena menemuinya besok di
galeri. Entah karena sms dari Ray yang membuatnya lega, Rena kini bisa dengan
cepat tertidur lelap.
Bangun pagi, pukul
delapan sudah menjadi hal yang biasa bagi Rena, dan sudah menjadi pemandangan
yang biasa, ketika dirinya bangun, sarapan pagi seperti nasi goring, roti dan
susu sudah disiapkan oleh ibunya begitu pagi. Sendiri di rumah saat pagi, dan
menikmati sarapannya sendirian.
Hari itu seperti yang
sudah dijanjikan, Rena datang ke galeri, Ray langsung menyambutnya, rambutnya
yang masih basah dan aroma sabun masih begitu kuat, itu berarti Ray baru saja
selesai mandi, tanpa mengeringkan rambutnya terlebih dahulu, ia segera menemui
Rena.
“kamu sudah sarapan ?”
Tanya Rena. Ray hanya menggelengkan kepalanya. Duduk di samping Rena. “aku
membawakanmu ini?” lanjutnya mengeluarkan kotak makanan yang berisi nasi goreng
buatan ibu Rena.
“kamu harus
sering-sering membawakanku sarapan” ujarnya membuka kotak makanan dan segera
menghabiskannya.” Oh iya, kenapa menyuruhku datang?” Tanya Rena.
“Hmm…hanya ingin
melihatmu saja !” ujarnya.
“kamu nggak sibuk?”
“nggak, buat apa aku
menyuruhmu datang??” tambahnya mengeluarkan kanvas dan beberapa cat dan kuas
dari bawa meja. “ duduklah di situ, hanya 20 menit “ lanjutnya, Ray ingin
melukis wajah Rena, meski beberapa kali menolak tapi akhirnya dia tidak bisa
berbuat apa-apa dan hanya duduk selama 20 menit.
“Ray,,,??” ucapnya
“hmmm…!!? Singkatnya,
tangannya sibuk dengan cat-cat yang digoreskannya di kanvas.
“Siska…dia cinta
pertamamu?” tanyanya meski terasa berat.
“kenapa tiba-tiba
bertanya seperti itu?”
“tidak, hanya ingin tahu
saja !!” tutur Rena.
Setelah beberapa menit,
lukisan yang di tunggu Rena selesai, karena begitu semangatnya Rena tidak
sengaja menumpahkan beberapa cat dan mengenai kakinya. “ maaf” katanya
menyesal. “naiklah ke atas, kamu bisa membersihkan kakimu di sana” katanya
mengantar Rena masuk ke kamarnya dan meninggalkannya sesaat.
“selamat pagi “ sapa
seseorang, dengan senyum cerianya menghampiri Ray yang sedang merapikan lukisan
Rena. Wajah Siska berubah melihat lukisan seorang wanita yang dilukis oleh Ray.
“dia pacarmu?” Tanya Siska duduk, Ray tersenyum kemudian menjawab pertanyaannya.
“aku bahkan belum mengatakan perasaanku dengan benar kepadanya “ ujar Ray.
“Ray, apa kamu ingin
tahu kenapa aku kembali?” Tanyanya tiba-tiba, tetapi Rena sudah turun dan
melihat Siska datang.
“Dia Rena…!” katanya
mengenal Rena kepada Siska.
“Hei…kami sudah bertemu
kemarin!” tegas Rena, menyalami Siska.
“kalian bicaralah, aku
harus ke café” katanya pergi meninggalkan mereka berdua.
“dia wanita yang kamu
sukai?” tunjuknya.”Ray…!!” Siska langsung memeluk Ray. “aku merindukanmu Ray,
aku ingin kembali padamu, !” tuturnya melepaskan pelukannya, meraih tangan Ray.
“kenapa tiba-tiba kamu
seperti ini!?” ujar Ray begitu terkejut dengan sikap Siska yang tiba-tiba
memeluknya
“aku tidak bisa
melupakamu Ray, selama empat tahun aku dipenuhi rasa bersalah, terkadang kamu
masuk dalam mimpiku, ada waktu di mana aku harus terjaga semalaman mencoba
menghubungimu, tetapi aku bahkan tidak tahu nomormu dan Keno. aku sudah
menunggu setelah menyelesaikan studiku, aku akan kembali menemuimu Ray, saat
melihatmu ada di majalah, aku benar-benar yakin untuk menemuimu lagi” jelasnya
begitu panjang. Ray tidak bisa mengatakan apa-apa, dia membalas pelukan Siska,
seketika itu hatinya luluh. Terlalu lama hatinya membeku, terlalu lama hatinya
tertutup hanya karena Siska. Dan inilah kesempatan baginya untuk memulai dari
awal, dan seketika itu juga dia melupakan perasaannya kepada Rena.
Hari berlalu, semenjak
kedatangan Siska siang itu, Ray tidak pernah lagi menyapanya dan bahkan setiap
malam, dia hanya menatap layar ponselnya, menunggu jika Ray akan mengiriminya
pesan. Tapi semuanya sia-sia, Rena meletakkan hpnya. Menutupi wajahnya dengan
bantal, dan menangis semalaman. Dia seolah di permainkan oleh keadaan, dan waktu tidak memihaknya saat ini. Dia seolah
merasa asing dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
“selamat ulang tahun !”
tiba-tiba ucapan itu memenuhi seluruh café, suara tepuk tangan dan ucapan
selamat mengelilinginya, kesedihan yang di rasakan akhir-akhir ini membuatnya
lupa seketika. Dia bahkan lupa hari ini adalah hari kelahirannya. Rena begitu
senang karena banyak orang-orang di sekitarnya yang begitu mencintainya,tidak
sulit baginya untuk mengalihkan kesedihannya. Meski malam ini adalah pesta yang
cukup meriah. Tetapi ia tidak membohongi hatinya, ia benar-benar merasa kosong,
ia melangkah meninggalkan keramaian, keluar café menghirup udara segar.
Pandanganya mengarah ke tempat Ray, lampunya masih gelap. “aku merindukanmu !!”
bisiknya, melihat layar hpnya mencari nama Ray. Dia memberanikan dirinya
mengirimi sebuah pesan singkat.
“hari ini aku berusaha
untuk lahir kembali, melupakan rasa ini. Aku begitu bodoh harus menyimpanmu di
hatiku. Hari ini izinkan aku bertemu denganmu. Aku menunggumu di café” jarinya
terhenti, dia sedikit menyesal mengirim sms itu.
“Rena…kamu ada di sini??
dari tadi aku mencarimu !” ucap Keno menghampirinya.
“ini untukmu!!”
menyodorkan hadiah kepada Rena, isinya kalung berbentuk hati, dan di sana
terdapat inisial nama Rena. “hadiah ini tidak pantas untukku Ken !”. ujar Rena
mengembalikannya. “jangan membuat aku merasa malu, menolak hadiahku “. Tambah
Keno. memasangkannya di leher Rena. “terima kasha Ken!!” ucapnya senang.
satu persatu pengunjung
meninggalkan café, malam ini Rena ingin menginap di ruang kerjanya, dan alasan
lainnya ia menunggu Ray.
Saat mendengar suara
pintu terbuka, Rena cukup senang, tetapi yang datang bukanlah Ray, tetapi
Siska. “dia tidak akan datang !! jadi aku mohon jangan menunggunya”. ujarnya.
“kamu wanita yang baik Ren, aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang lebih
menyayangimu, dan itu bukan Ray”. Tegasnya kembali, mendengar itu membuat
seluruh tubuh Rena remuk. “ aku tidak percaya, aku ingin mendengarnya langsung,
di mana Ray sekarang?” Rena berlari keluar, tetapi di tarik oleh Siska. “apa
kamu bodoh Ren, jika kamu tidak percaya coba pikirkan, buat apa dia mengabaikan
smsmu, dan menyuruhku datang menemuimu, pikirkan itu baik-baik “ katanya
kemudian pergi, setelah melihat Rena tidak berkutik dengan ucapannya,
Rena menjatuhkan
tubuhnya di lantai, hatinya begitu sakit, air matanya terus mengalir, rasa
sakit yang dirasakannya benar-benar tertancap kuat, seolah seseorang sedang
menarik sesuatu dari hatinya untuk keluar, tangisnya yang tersedu-sedu ia tahan
dengan menutup mulutnya. Jiwanya seakan tidak bersamanya lagi. Meski ia
menangis sekuat-kuatnya takkan ada seorang yang tahu tentang dirinya.
Sementara itu, Siska
meski merasa bersalah telah berbohong kepada Rena, demi mempertahankan Ray
tetap di sisinya, ia harus egois dan menyakiti orang lain. ia hanya
mementingkan perasaan dan kebahagiannya sendiri. Waktu di saat Rena mengirimkan
sms kepada Ray, Siska sedang bersamanya, meski hanya sekilas ia melihat sms
Rena, dan berusaha agar sms itu tidak di baca oleh Ray. Tetapi itu hanya
sementara, setelah mengantar Ray kembali ke galeri, beberapa menit kemudian dia
membuka pesan singkat dari Rena. Tanpa berpikir apa-apa, Ray berlari sekuatnya,
pintu café sudah terkunci, lampu di ruang tengah sudah gelap, tapi ia tahu
kalau Rena masih di dalam menunggunya. Meski beberapa kali berteriak memanggil
Rena, yang dilakukannya hanya sia-sia. Tapi itu tidak membuatnya menyerah. Ray
berlari ke halaman samping café, ia melihat dari bawah jendela ruang kerja Rena
lampunya masih menyala, ia kembali berlari ketempatnya dan membawa tangga
diletakkannya ketembok, tidak lama ia sudah sampai di jendela, ia melihat Rena
terbaring di sofa, dengan langkah hati-hati Ray mengeser jendela dan masuk.
Rena tertidur lelap, dia menghampiri gadis itu, gadis yang sudah menangis
berjam-jam, Ray lebih mendekat, melihat jelas wajah Rena. Tangannya merapikan
rambut Rena yang berantakan, Ray bisa merasakan kesalahan yang baru saja di
lakukan kepada wanita yang sejak tadi menunggunya. Ray meraih selimut dan
menutupi tubuh Rena yang kedinginan, dia bisa merasakan nafas Rena yang begitu
berat, bulir air matanya yang masih mengalir, tangannya yang masih mengenggam
bagian dada bajunya, dia memang tertidur tetapi seolah tidur itu hanya penutup
lukanya.
“Ren, maafkan aku !!”
bisiknya, mengenggam tangan Rena, matanya terus menelusuri wajah Rena, “maafkan
aku yang begitu bodoh, aku tidak sadar ada dirimu yang memikirkanku, maaf
karena terlambat menyadarinya”. Ujarnya mengeratkan genggamnya.
Sepanjang malam, Ray
terus berada di samping Rena, hatinya masih penuh dengan rasa penyesalan, di dalam
hatinya dia berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak mengabaikan Rena. Malam
berlalu, dan pagi tiba bersama sinar matahari yang terpancar di kaca jendela,
cahayanya membelai hangat di pipi Rena, cukup hangat hingga membuatnya
terbangun, dan terkejut melihat Ray yang
duduk sambil tertidur di sampingnya, memegang tanganya. “bagaimana dia
bisa masuk?” ucapnya dalam hatinya, melepaskan tangannya dengan hati-hati agar
Ray tidak terbangun, tetapi Ray menarik kembali tangannya. “lima menit” ucapnya
pelan, Ray masih menutup matanya. Rena merebahkan kembali tubuhnya, menatap
wajah Ray yang persis di sebelah wajahnya. “10 menit…!!” ujar Ray mendekatkan
wajahnya. “kenapa 10 menit?” ujar Rena. “lima menit memegang tanganmu, dan lima
menit menatap wajahku” tambah Ray, Rena hanya tersenyum kecil dan menggunakan
waktunya menghafal titik, lekuk garis di wajah Ray.
“bertanyalah…!!” sahut
Ray.
“apa yang harus aku
tanyakan?” balasnya.
“semua yang ingin kamu
ketahui…!!”.
“hmmm…terima kasih untuk
datang..”ujar Rena
“itu bukan pertanyaan
!!”. lanjut Ray, masih memejamkan matanya.
“baik..!! bagaimana
dengan Siska, apa kamu akan kembali padanya?” Tanyanya, Ray terdiam beberapa
detik.
“kalau aku kembali
padanya, bagaimana denganmu?”.
“aku hanya takut, orang
yang aku sukai, tidak bahagia bersamaku. Ray..!! jika saja kamu tidak datang
malam ini, tetap saja aku tidak akan bisa membencimu”. Ujar Rena.
“kenapa?”. Ucapnya
membuka kedua matanya, menatap Rena yang begitu dekat dari wajahnya.
“karena aku tidak punya
alasan untuk membencimu, dan aku juga percaya padamu, meski aku adalah titik
yang paling kecil di hatimu, aku juga akan bahagia setidaknya aku pernah
mengisinya” Tutur Rena bersama senyumnya yang membuat hati Ray semakin
menyukainya.
“kamu tidak akan menjadi
titik kecil dihatiku, tetapi selimut yang akan terus memberikannya kehangatan,
dan aku tidak akan mengucapkan kata-kata ini, ‘jadilah pacarku’ “. Ujar Ray,
mendengar kata-katanya membuat Rena mengerti maksud Ray.
Cinta tak selamanya
harus di ucapkan, cinta hanya akan jatuh pada tempat yang akan di tujunya.
Meski kadang cinta membuat orang tersakiti, tetapi cinta yang baik akan
memberikannya penjelasan, kenapa, mengapa dan kapan cinta yang tepat akan
datang.
8. memilih jalan yang tepat
“Dindaaa…..!!!” teriak
ibunya dari bawah, berulang kali sampai Dinda keluar dari kamarnya. “ Rena
belum bangun?” Tanya ayahnya, yang sejak tadi sudah menunggu di meja makan,
sambil membuka halaman surat kabar.
“Rena nggak pulang
Ayah…!!” ujarnya menuruni tangga.
“loh…dia nginap lagi di
café?, kan bahaya perempuan nginap sendiri”. Tutur ibunya sambil menyiapkan
sarapan pagi. “inikan hari sabtu, kenapa dia nggak pulang? Gimana kalau kita
susul dia ke café” ajak ibunya.
“Bun, Ayah… eeee Dinda
mau ngenalin seseorang ke kalian “ ucap
Dinda, sedikit takut.
“pacar yah?? Jangan
kenalin dulu kalau nggak serius!” tegas ayahnya.
“kali ini serius Yah,
malah Wahyu yang ngotot ingin ketemu kalian !!” tambahnya sedikit khawatir
dengan respon kedua orang tuannya.
“dia kerja apa?” Tanya
ibunya.
“dia manajer di café
Rena, “
“oh pantas kamu sering
ke sana…” tambah ibunya.
“Ayah mau lihat dulu,
Ayah nggak mau loh kalau kamu salah pilih!” ujarnya sedikit menasehati Dinda,
“ Ayah sama Bunda pasti
suka deh, kali ini Dinda serius !!” ujarnya manja.
“ jadi kapan kita
ketemunya?” Tanya Ayahnya kembali.
“malam ini Yah, di café
Rena karena berhubung Ayah nggak sibuk, kenapa nggak, dan nanti Dinda kenalin
sama pacarnya Rena juga”. Ujar Dinda menatap bergantian kepada Ayah dan Ibunya
yang begitu senang.
Sementara itu di café,
Ray dan Rena masih mengobrol tentang mereka berdua.
“kapan kamu udah mulai
suka sama aku?” Tanya Rena serius.
“belum lama ini sih, aku
mulai memikirkanmu saat pertama kali kau datang di ketempatku dan tanganmu
terluka, dan kamu pingsan, awalnya hanya merasa bersalah, kita sering bertemu
tanpa sengaja, dan semua itu yah…semuanya seperti ini,walaupun melihatmu setiap
hari tapi aku sering merindukanmu dan pada akhirnya Siska datang…” ujarnya
berhenti, menarik nafas, melihat wajah Rena sebelum melanjutkan ceritanya. “dia
membuatku goyah beberapa saat, aku berpikir perasaanku padamu, hanya perasaan
yang datang sementara waktu, tapi semuanya sudah tidak sama, jika aku bersama
Siska, entah kenapa yang ingin ku temui adalah dirimu.” Jelasnya, Rena hanya
tersenyum mendengar penjelasan Ray, dia terlalu banyak salah paham selama ini.
“aku akan datang lagi
nanti malam” ujar Ray berdiri dari tempatnya.
“orang tuaku akan datang
untuk makan malam, jadi malam ini kita….??”.
“benarkah,,,!? Kalau
begitu sampai ketemu nanti malam” ujarnya memotong ucapan Rena lalu pergi
“kau kemana?” Tanyanya
berdiri mengantar Ray keluar.
“kenapa? Mau ke ikut
denganku !” ucapnya menggoda Rena, kembali menutup pintu dan melingkarkan kedua
lengannya di bahu Rena, menatapnya sambil tersenyum. “lepaskan…!!” dorong Rena,
dari wajahnya yang terlihat sangat malu saat Ray memandang serius padanya.
“tentu saja aku akan
kembali ke galeri, aku jugakan tinggal di sana, tidak ada tempat yang bisa aku
datangi kecuali galeri itu dan……???” kembali memandang Rena. “ dan dirimu…!! “
bisiknya, lagi-lagi dia membuat hati meningkatkan level cintanya kepada Ray. “
ah…kalau kamu rindu padaku, kamu bisa datang, aku tidak akan kemana-kemana hari
ini, banyak yang harus aku selesaikan” tambahnya lagi sebelum pergi.
Hari ini adalah hari
yang begitu tak terduga bagi Rena, semalam ia menangis begitu sakit, dan ketika
ia terbangun sesuatu yang indah berada di depannya. Baginya kejadian yang buruk
yang telah berlalu bagaikan mimpi buruk, ia tahu bahwa kebahagian dan kesedihan
hanya titipan untuknya yang harus di gunakan sebaiknya.
Waktu menunjukkan pukul
dua siang, melewati jam makan siangnya, karena harus menyelesaikan
pekerjaannya. Setelah menyelesaikannya tak ada lagi kegiatan yang di lakukannya
hari ini. Tiba-tiba ia ingat dengan Ray dan kata-katanya ia bisa datang kapan
saja jika mau. Rena berjalan menuju ke dapur, dan menyuruh chef membuatkan kotak
makan siang untuknya. Saat itu ia melihat Wahyu dan mengajaknya mengobrol mengenai makan malam
bersama orang tuanya sembari menunggu makan siangnya.
“aku keluar sebentar
yah!!” ujarnya membawa kotak makan siangnya ketempat Ray.
Tapi hari itu juga tanpa
Rena tahu, Siska juga datang menemui Ray. Ketika Rena masuk ia mendengar suara
Siska yang sedang menangis dan menumpahkan kemarahanya kepada Ray. Rena hanya
berdiri tidak jauh dari mereka, dia
tidak bermaksud untuk menguping, tetapi untuk pergi ia juga tidak bisa, karena
Ray melihatnya datang, Siska berdiri membelakangi Rena, jadi ia tidak tahu
kalau ia datang.
“kau tahukan Ray, aku
kembali ke Indonesia karena dirimu “ ucapnya sambil menangis memegani tangan
Ray.
“sudah tidak ada yang
bisa aku katakan, sekarang kamu pergilah” ujarnya, sambil terus memperhatikan
Rena yang masih berdiri, Ray melepaskan tangan Siska dan menghampiri Rena.
“masuklah, aku sudah menunggumu!” ucapnya menarik lengan Rena. Siska yang masih
menangis hanya bisa pergi dengan kemarahannya.
“apa dia baik-baik saja?
Dia nangis Ray, nggak baik buatnya pergi menyetir dengan keadaan seperti itu”
ujar Rena khawatir kepada Siska, ia bisa merasakan kesedihan Siska, meski
sedikit bersalah ia tahu Siska tidak mungkin menerima keadaan yang dialaminya.
“aku sudah menghubungi
Keno untuk menjemputnya, jadi tidak usah khawatir” jelasnya. “kamu bawa
makanan?” Tanyanya membuka makanan yang di bawa Rena, ia masih memikirkan
Siska. Sehingga pikirannya saat itu begitu kacau, Ray yang menyadari itu, dan
menjelaskan apa yang terjadi. “aku mohon Ren, jangan pikirkan hal itu, saat ini
hanya kamu, dan pikirkan tentang kita berdua” ujarnya menyakinkan hati Rena.
Meskipun begitu Rena
belum yakin kepada Ray masih yang ingin di pastikan dan hal itu sangat
menganggu pikirannya. Sembari Ray merapikan lukisan-lukisannya, Rena mencuri
kesempatan mencari lukisan Siska, meski beberapa kali ia mencari tetapi ia
tidak menemukan lukisan itu. hatinya sedikit lega, Ray berbalik memperhatikan
Ray yang sedang sibuk, masih ada yang membuatnya begitu penasaran. Ia belum
melihat ponsel Ray. Tetapi tanpa di sadari oleh Rena, Ray sejak tadi sudah
memperhatikan Rena dengan tingkahnya yang mencurigakan. Ray sedikit paham apa
yang di pikirkan Rena tentangnya, hati gadis itu masih bertanya-tanya akan
sesuatu.
“Ren, ayo duduk, ada
yang ingin aku katakan!” sahut Ray duduk di samping Rena.
“aku harus kembali ke
café, kita bisa bicara nantikan !!” ujarnya berdiri, tetapi tangan Ray
menariknya kembali duduk, lebih dekat, Ray melingkarkan tangannya di pinggang
Rena, memeluknya dari belakang, menaruh wajahnya di di bahu Rena, tepat di
samping wajahnya. Rena terkejut dengan sikap Ray yang tiba-tiba memeluknya,
selama ini sudah wajar bagi Rena ketika Ray memegang tangannya, tapi kali ini
tidak sama, Ray yang sekarang kini sangat dekat dengannya, ia bisa merasakan
detak jantungnya lebih dekat, dadanya yang datar dan kekar. Rena memalingkan
wajahnya sedikit. Ia ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Ray, mengapa ia
melakukan ini? Rena diam sejenak menunggu Ray mengatakan sesuatu lebih dulu.
“ayo kita menikah…!!”
ujarnya, ucapan yang sangat jelas di dengarnya, kini Rena lebih terkejut lagi,
semua keraguannya seakan sirna begitu saja, di hatinya serasa ada sesuatu yang
ingin meledak, aliran darahnya seakan terhenti, bahagia ? iya tentu saja hal
itu bercampur dengan dirinya saat ini.
“ya…jangan bercanda
Ray!” ujarnya menarik nafas lebih dalam, melepas pelukan Ray dan berdiri di
hadapannya yang masih duduk dan tangannya masih mengenggam tangan Rena.
“Aku serius…” tatapnya
membiarkan Rena kembali ke café, terlihat dari wajah Rena yang begitu senang
mendengar permintaan Ray. Sesampainya di café ia masih saja terus tersenyum
mengingatnya, hanya dirinya yang merasakan kebahagian itu, sepanjang ia
berjalan senyumnya itu membuat para pelayan heran dan membisikkan Rena. Dia
bahkan tidak memikirkan itu semua.
Akhirnya matahari
kembali redup kembali ke tahtanya, malam ini Rena sendiri yang mengatur dan
mendekorasi meja makan, sebentar lagi kedua orangnya tiba, sementara itu Dinda
tiba lebih dulu ia sedang bersiap-siap sedangkan Wahyu berdiri begitu cemas di
samping meja kasir, melihat itu Rena menghampiri Wahyu.
“ tenang saja, orang
tuaku bukan seperti adegan di film-film kok, dia akan langsung menyuruhmu
cepat-cepat melamar Dinda ” ujar Rena, tertawa melihat sikap Wahyu. Setelah
mengatakan itu Rena menuju ke dapur memeriksa persiapan makan malamnya. Meski
pengunjung café cukup banyak, tetapi semuanya masih terkontrol dengan baik.
Sementara memeriksa makan malamnya, Dinda masih bersiap-siap dan Wahyu sedang
bersamanya, Rena sudah menyuruh pelayan untuk memberitahu mereka jika Ayah dan
Ibunya tiba.
Tidak lama kemudian,
Ayah dan Ibunya sudah tiba dan duduk di tempat yang sudah di sediakan, tidak
lama setelah itu, Ray juga datang menghampiri mereka, karena mereka sudah kenal
dengan Ray tidak sulit bagi Ayah dan Ibunya untuk berbicara banyak. Di susul
Dinda dan Wahyu setelah itu Rena. Ia begitu terkejut melihat Ray bersama dengan
mereka.
“apa yang kamu lakukan
di sini?” Tanya berbisik.
“bertemu dengan mereka
!” ucapnya mengedipkan matanya kepada Rena.
“Keno…!!” panggil
Ayahnya setelah melihatnya turun dari panggung. “Keno kerja di sini juga??
Kalian pasti selalu bertemu!” ujar Ayahnya yang memang sudah kenal dengan Keno,
mereka sering bertemu saat Rena masih pacaran dengan Keno. meskipun kedatangan
Keno sedikit membuat Rena canggung dan Ray tidak begitu suka, mereka berusaha
untuk menjaga pembicaraan.
“jadi kalian berdua
saudara??” ujarnya Ayahnya semangat, melihat Ray dan Keno.
“ senang sekali rasanya
malam ini melihat putri-putri Ayah bersama dengan orang-orang yang dicintainya,
oh iya Nak Keno, apa kamu juga serius dengan hubungan kalian, saya terkejut
saat tahu kalian putus dan ternyata kalian bisa bersama lagi” jelas Ayahnya,
membuat wajah Dinda mengernyit karena Ayahnya sepertinya sudah salah paham,
sedangkan Rena langsung terbatuk-batuk mendengarnya. Tiba-tiba Ray berdiri
membuat semuanya terkejut, setelah tenang ia tersenyum kepada Ayah Rena. “Oh
iya Pak…perkenalkan aku Ray…kekasih Rena, tadi siang aku sudah melamarnya, dan
sekarang aku akan melamarnya segera secara resmi” ujar Ray memperkenalkan
dirinya, walaupun masih bingung Ayah dan Ibunya masih tidak mengerti apa yang
terjadi, dan meminta maaf kepada Keno.
Usai makan malam dan
perbincangan singkat mereka, Ayah dan Ibunya langsung pulang, sedangkan Ray dan
Keno sudah tidak terlihat sejak tadi. Mereka berdua sudah berada di galeri,
Keno tidak ingin pembicaraan mereka terganggu dan di tempat ini mereka bisa
berbicara banyak.
“Apa Siska baik-baik
saja?” Tanya Ray mengawali pembicaraan.
“Apa dia akan baik-baik
saja, setelah kamu menolaknya ??” ujar Keno. “ dan apa maksudmu ingin menikah
dengan Rena, jangan main-main Ray!!” lanjutnya terlihat begitu marah setelah
apa yang di dengarnya.
“menurutmu aku bercanda
? Rena…dia adalah wanita yang sudah masuk dalam kehidupanku, membuatku jatuh
cinta lagi setelah sekian lamanya, dan aku mulai melupakan kebencianku
kepadamu, karena dia membuat semuanya baik-baik saja” jelasnya. Mendengar
jawaban dari Ray membuat Keno tidak bisa berkutik, dia kemudian pergi dengan kemarahannya
dan menendang kanvas-kanvas yang terletak di lantai. Ray berteriak
sekeras-kerasnya menumpahkan kekesalannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa
kepada dirinya dan rasa bersalahnya yang begitu besar karena membenci kakaknya
begitu lama.
Seiring berjalannya
waktu, sedikit demi sedikit keadaan yang sulit perlahan mulai membaik, lima
bulan berlalu dan kontraknya di café sudah berakhir, Keno dan Bandnya menerima
tawaran rekaman, berkat Rena kini Keno akan menggapai mimpinya, tidak ada
alasan bagi Keno untuk tetap tinggal di kota ini. Tinggal di sini hanya akan
membuatnya sulit melepaskan Rena, untuk itu dengan Keno perlahan akan menerima
apa yang terjadi, memperbaiki hubungannya dengan Ray adalah hal yang terpenting
untuknya saat ini. Seminggu sebelum pameran tunggal Ray, Dinda dan Wahyu juga
akan menikah, berlipat kebahagian yang dirasakan Rena saat ini.
Hari yang begitu di
nanti oleh Ray, tentu saja karena siang ini adalah pembukaan resmi pameran
kekasihnya. Rena datang ke galeri lebih cepat dan membantu persiapan Ray. Rena
begitu kagum dengan karya-karya yang dihasilkan oleh tangan seorang Ray,
lukisan abstrak dan 3 dimensi yang begitu menakjubkan tergantung indah di
dinding, bagi seorang yang betul-betul mengerti arti sebuah keindahan lukisan
Ray benar-benar bisa membuat mata orang-orang tidak berkedip.
Satu persatu tamu
undangan sudah memenuhi ruang pameran, kedua orang tua Rya juga ikut serta
menyaksikan karya-karya anaknya. Rena bisa melihat orang-orang yang pakar dan
ahli seni, datang untuk memberikan penilaiannya, Jhon Bobby seorang pelukis
tubuh yang sangat terkenal dan pelukis asal Eropa itu turut memeriahkan para
wartawan dan reporter yang datang. Rena tidak menyangka pameran Ray sukses dan
berjalan dengan baik, pujian dan ucapan selamat menghujani kupingnya.
Mendapatkan respon
positif terhadap-hadap karya-karyanya merupakan kebanggaan yang luar biasa bagi
diri Ray, sekarang galerinya terbuka untuk pengunjung yang akan melihat
lukisannya. Tapi di balik kesuksesan Ray tidak serta merta membuatnya cukup
bahagia karena di lain sisi Ray harus menerima tawaran dari pihak Jhon Bobby
untuk memperkenalkan karyanya di luar Indonesia dan untuk itu juga selama
beberapa bulan ia akan berpisah dengan Rena.
Berpisah sementara waktu
bukanlah beban besar baginya, tetapi janji yang pernah di buatnya kepada Rena,
yaitu untuk datang melamarnya pada hari yang sudah mereka rencanakan, mungkin
jalan satu-satunya yang harus di lakukan Ray adalah menolak tawaran itu.
Sementara itu ternyata
Rena juga mengetahui tentang tawaran itu, tidak mudah bagi Ray untuk mengatakan
langsung kepada Rena. Setelah memikirkan matang-matang malam itu Rena
mendatangi Ray,
“Hei…”sapanya duduk di
samping Ray yang sedang merapikan peralatan lukisnya, hari ini ia terlihat
begitu lelah.
“maaf yah, seharian ini
aku tidak menghubungimu” ujar Ray.
“nggak apa-apa kok, aku
juga sibuk di café lagipula kita kan juga dekat, jadi nggak masalah kalau ingin
bertemu” ucapnya memandangi Ray dan menyeka pipinya. Merasakan sentuhan tulus
dari Rena membuat Ray kembali tersenyum dan langsung berbaring di paha Rena.
“hum kau benar, aku begitu lelah hari ini, hingga lupa untuk mengisi kembali
tenagaku” ucapnya tersenyum menutup kedua matanya.
“ini adalah kesempatan
yang langkah dan hanya datang sekali Ray, jadi tidak masalah jika kamu ingin
pergi”ujar Rena, Ray diam beberapa saat setelah mendengarnya.
“janjiku padamu lebih
penting” ucapnya membuka matanya melihat wajah Rena.
“kita bisa menikah
setelah kau kembali nanti, lagi pula hanya beberapa bulan saja, aku tidak
masalah” tegasnya berusaha menyakinkan Ray, dan dengan alasan yang membuatnya
Ray harus berubah pikiran dan menerima tawaran itu, karena kepercayaan Rena
yang harus membuatnya harus pergi dan membuat Rena menunggu lebih lama lagi. Itu
semua tidak masalah bagi Rena, selama ia percaya dengan keteguhan hatinya
menunggu akan menjadi sesuatu yang lebih indah yang harus dijaganya. Hanya
beberapa bulan kemudian, semua mimpinya akan terwujud.
Hari yang istimewa
akhirnya tiba di hadapan Rena, memandangi dirinya di cermin dengan gaun
pengantin impiannya. Harum bunga memenuhi ruangan resepsi dan Ijab Kabul. Hari
yang ditunggunya akan menjadi hari yang begitu membahagian untuk mereka berdua,
saling bergandengan tangan dan di saksikan pasang mata, senyum merona dari
kedua orang tua Rena dan Ray, teman-teman dan tamu yang datang menambah
kebahagiannya. Langkah yang di jalaninya bersama-sama adalah tolak ukur untuk
membuat masa depan mereka sebagai sepasang suami istri akan jauh lebih
menantang lagi.
Nb : jangan takut untuk
memulai dan jangan takut untuk mengakhiri, sama saat kau ribuan kali berpikir
untuk memulai, dan putuskan sekali saat kau mengakhiri.
END
03 januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar