Minggu, 14 Januari 2018

Cerpen



  My Fa
1 awalnya sesakit ini
“Brukkkkkkkkkk……………”  suara hantaman mobil lain membuyarkan lamunan singkatnya.
” eh Mbak,,nyetir itu pake mata, bukan pake hidung” sahutnya marah sambil menunjuk memundurkan mobilnya pelan “ awas kalau ketemu lagi….!? Gertaknya buru-buru meninggalkan mobil yang baru di tabraknya, gadis itu cukup lega, karena laki-laki setengah baya itu tidak turun dan meminta ganti rugi atau apapun sejenisnya.
Gadis itu menarik nafas dalam-dalam mengembalikan kesadarannya, sambil melihat jam yang tertera di hpnya. “sial…” gerutunya kembali melajukan mobilnya ketempat yang akan ditujunya.
“ Hei Rena…! Tumben telat” sapa gadis imut, berambut pendek saat gadis yang di panggil Rena, turun dari mobil. Tanpa berkata apa-apa Rena menyerahkan kunci mobil Dinda yang dipinjamnya kemarin. “ Rena…mobilnya kok gini….??” Teriak Dinda
“nanti saya jelaskan…!oke” Ujarnya tanpa menoleh.
Dua jam berlalu, Profesor Yahya terus memperhatikan Rena yang masih menyelesaikan ujian Skripsi, untung saja Rena cukup menguasai materinya, hingga tidak cukup sulit baginya untuk menjawab pertanyaan dari Profesor Yahya, meski waktu sudah habis dan teguran dari Profesor yang terus menghujaninya tidak membuat Rena gugup.
Setelah menyelesaikan ujiannya, Rena berlari kekelas Dinda, setengah berlari Dinda yang sudah menunggunya sejak  tadi, mengagetkan Rena dan menariknya menuju parkiran mobil menunjuk bagian depan yang sedikit hancur.
“mobil kamu apain sih ? sampai seperti ini”
“penjelasannya panjang Din, sekarang kita berdua ke bengkel dulu ” kini gantian Rena yang menarik Dinda naik kemobil.
Sejak tadi Rena terus diam melihat keluar jendela, entah apa yang dipikirkannya, Dinda belum bertanya sedikitpun, ia tahu kalau Rena memiliki sesuatu yang membuat pikirannya kacau.
“ Re…ayah menelponku kemarin, dia juga menelponmu tapi katanya, kamu tidak menjawab?” sahut Dinda sedikit tersenyum, pertanyaan itu cukup membuat mata Rena sedikit berpaling kepada Dinda.
“hmmmm……aku tertidur!? Katanya kembali melihat keluar jendela. Dinda tahu kalau saudara tirinya itu punya masalah yang tidak ingin diceritakannya. Rena dan Dinda memiliki perbedaan umur hanya seminggu, Rena lebih tua darinya mereka berdua cukup dekat dan akrab, tidak seperti saudara tiri pada umumnya. Rena bersyukur memiliki Dinda dan ayahnya. Kedatangan mereka bedua membawa suasana baru di keluarga Rena, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sejak umurnya masih lima tahun sedangkan Dinda sendiri selama dua tahun kehilangan ibunya karena mengidap kanker. Pertemuan pertama Rena dan Dinda memang tidak semulus seperti saat ini, mereka berdua sering bertengkar dan itu berlangsung hanya beberapa bulan saat ibu Rena dan ayah Dinda membawa mereka berkemah, saat itu pula Rena mulai lembut dan akrab dengan Dinda, begitupun sebaliknya, mereka berdua telah bersama selama 4 tahun dan tidak terasa kebersamaan mereka terjalin begitu erat.
Suasana rumah begitu sepi, hanya suara tv yang terdengar dari ruang tengah, ayah dan ibunya tidak di rumah, mereka berdua berada diluar kota menghadiri pernikahan teman ayahnya. Dinda sibuk dengan  Hpnya sedangkan Rena hanya duduk menonton acara yang tidak begitu menarik, bahkan sesekali Dinda mengodanya tetapi Rena hanya serius pada tayangan yang dia juga tak mengerti, meskipun hpnya beberapa kali berdering, Rena masih tidak peduli. Dinda Beranjak mendekati Rena meraih hpnya, nama seseorang yang begitu dikenal Dinda muncul di layar panggilan. Sudah ada puluhan pesan bahkan panggilan yang diabaikan Rena.
“ Kamu sama Keno kenapa?” Tanya Dinda, dia tahu saudaranya perempuannya itu bertengkar hebat dengan Keno, kekasih Rena yang sudah lama dua tahun menjalin hubungan. Rena bergeser sedikit dari tempat duduk, meraih bantal sofa memelukknya, terlihat menakutkan bagi Dinda jika sesorang wanita tidak menangis sedikitpun ketika mengetahui kekasihnya memiliki wanita lain. Dinda sudah tahu itu, ketika sempat mendengar Rena berbicara ditelepon.
“ lebih baik kamu nangis deh, daripada menahan perasaan sakit itu, sumpah !! kamu jadi menakutkan Rena “ ujar Dinda mendekat pada Rena, dan akhirnya dia mulai berbicara, Dinda sangat senang terasa baru saja mendengar suara Rena pertama kali.
“ Keno…pria bajingan itu……?” Rena berhenti sejenak, lalu kembali menatap Dinda yang tida sabar mendengar kisah percintaannya.
“ Dind, kamu tahu? Keno selingkuh dnegan siapa? “ Tanya Rena sebelum kembali melanjutkan, Dinda mengeleng tidak tahu.
“ Bahkan dia selingkuh dengan wanita yang kecantikannya tidak begitu jelas, tubuhnya pun tidak jelas dari mana? “ ujar Rena membuat Dinda bingung, tak lama berbicara Rena akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya sejak kejadian kemarin.
Pembicaraan singkat itu, begitu berkesan buat mereka berdua, Rena memang cukup tegar meskipun hatinya terasa berat dan ingin menangis, tetapi jika dipikir buat apa dirinya menangis untuk pria seperti Keno.
2. menangislah                    
Hari yang begitu cerah, siang itu matahari seperti lima jengkal dari kepala membuat orang-orang malas untuk keluar rumah dan lebih memilih berada di ruangan yang ber- AC, atau di Café menikmati minuman beku, bahkan toko es cream juga penuh dengan pelanggan yang tidak henti-hentinya. Saat seperti ini juga yang dipikirkan Rena. Dia ingin memberikan kejutan ulang tahun kepada Keno kekasihnya dengan mengunjungi studio miliknya. Keno merupakan salah anggota Band dan bermain dengan drummer, dan kadang menjadi vokalis. pertama kali bertemu dengan Keno begitu memorandum untuk Rena, saat itu Keno merupakan senior Rena di kampus. Perayaan kampus yang diadakan sekali setahun itu cukup meriah dengan hadirnya band Keno.
Setelah turun dari mobilnya, Rena kembali memperhatikan penampilannya pada kaca jendela samping studio Keno, dia ingin tampil cantik depannya, bahkan dia tidak memberitahu kedatangannya pada Keno. kotak kue yang di bawahnya cukup besar, dia kembali melangkah memasuki studio. Terdengar begitu senyap sampai akhirnya, Rena tiba di ruang latihan Keno. Tampak Doni, Reza dan Dicki mengobrol lalu Rena masuk berharap Keno juga berada di dalam.
“ Hei….” Sapa Rena meletakkan kotak yang sejak tadi memberati lengannya.
“ Re…Rena “ Dicki menhampiri Rena, dia sangat terkejut dengan kedatangan Rena yang mendadak. Reza dan Doni ikut berdiri dengan tiba-tiba, tingkah mereka begitu aneh seperti menyembunyikan sesuatu.
“ aku nggak nganggu kalian kan? “ ujar Rena berdiri membelakangi pintu.
“nggak kok, silakan duduk “ lanjut Dicki cemas
“ Keno mana?” Tanya Rena yang sejak tadi tidak melihat Keno.
“ Keno…dia lagi….??” Ucap Reza gugup.
“ Dia keluar beli makan siang, panas banget yah “ tambah Doni mengibaskan tangannya beberapa kali.
“ emang Ac nya nggak nyala ?” ujar Rena meraih Remote yang berada tepat di hadapannya.
“ Keno kok lama yah “ kata Dicki tegang, Rena sedikit aneh dengan  mereka bertiga karena merasa cukup lama menunggu, hp Doni terus berbunyi, Reza sibuk dengan mengirim sms keseseorang. Tanpa di sadari Rena merebut hp dari gengaman Reza.
“ kalian kok aneh…” tambah Rena membuka satu persatu pesan sms dari Keno. Reza tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali menatap hpnya sudah berada di tangan Rena.
Tubuh Rena tiba-tiba tersungkur, seperti seseorang yang baru saja kehilangan sebagian jiwanya.
“ Rena…..” Dicki meraih bahu Rena membantunya berdiri.
“ sorry Rena….Keno…?” belum sampai ucapan Dicki, Rena mengembalikan Hp Reza.
“ dimana dia sekarang?” Tanya Rena, mereka bertiga hanya bisa diam memberitahu keberadaan Keno.
“ingat,,aku nggak akan bisa maafin kalian bertiga, jika salah satu dari kalian menghubungi atau memberitahu Keno kalau akau akan menyusulnya sekarang” ancam Rena menunjuk mereka bertiga.
“ kami ikut…” sahut Reza berjalan lebih dahulu disusul Rena, tak lama Dicki dan Doni berlari dengan tegang masuk ke mobil Reza. Hanya rasa penyesalan yang mereka katakan sepanjang Rena mengemudi.
Tak lama mengalahkan perjalanan yang begitu macet hanya beberapa menit saja, Rena tiba di sebuah Café yang juga merupakan studio tempat Keno selalu tampil bersama teman-temannya, langkah Rena hampir tiba di sebuah ruangan yang sempat di baca di pesan masuk Reza. Mereka bertiga masih mengikuti Rena hanya suara bisik-bisik yang terdengar dari mereke bertiga. Tubuh Rena seakan sudah bersiap menghadapi apa yang akan dilihatnya di balik ruangan ini, sebelum membuka pintu, Rena membalikkan tubuhnya ke Dicki, Reza dan Doni.
“ kalian bertiga tahu hari ini hari apa?” Tanya Rena menunggu jawaban dari salah satu dari mereka.
“ hmmm hari kalian akan putus??” sahut Doni. Dicki dan Reza bersamaan memukul Doni.
“ hari ini hari ulang tahunnya” ujar Rena menatap kotak kue yang dibawanya lalu membuka kotak itu, tulisan ucapan ulang tahun ke-27 untuk Keno dan lilin berbentuk 27  menghiasi kue itu, Rena menyalakan lilin
“ Keno lupa hari ini ternyata………!!”  belum sempat Dicki meneruskan ucapannya, tangan Rena sudah memegang gagang pintu dan membuka pintu.
“ Rena….. “ ujar Keno tiba-tiba beranjak dari pelukan seorang gadis, Rena memperhatikan gadis itu sebentar dari ujung kaki hingga ujung rambut, menggunakan higher setinggi 15 cm, kaki, paha dan betis yang cukup putih dan mulus, menggunakan rok mini yang begitu pendek, pinggang yang langsing, buah dada yang seperti buah kelapa yang hampir jatuh dari pohonnya, leher yang tinggi, wajah yang bertopeng, bibir yang merah, Rena bisa menebak mereka pasti sudah berjam-jam berciuman, menjijikkan pikir Rena dia bahkan belum pernah melakukan hal seperti sejak bersama Keno. Setelah memperhatikan gadis itu, Rena tersenyum mengarahkan pandangannya kepada Keno.
“ ini tidak seperti yang kamu pikirkan Rena…” tambah Keno mendekati Rena memegang kedua pundaknya, hanya beberapa detik Keno melayangkan tatapan tajam kepada Dicki, Doni dan Reza yang hanya bisa menunduk melihat Rena.
“ selamat ulang tahun, Ken..” ujar Rena memberikan kue itu pada Keno dan membiarkannya meniup lilin terakhirnya.
“ uda deh,, Ken, kamu jujur saja sama gadis ini” gadis yang bersama Keno lalu berdiri menghampiri Rena tersenyum menarik lengan Keno menjauh darinya. Kue yang berada di tangan Rena terjatuh. Rena kembali tersenyum meraih serpihan kue yang terjatuh tadi dengan kedua tangannya, menghampiri Keno dan melemparkan kewajahnya. Rena segera beranjak dari ruangan itu, Dicki dan Reza mengikuti Rena, Doni menghalangi Keno mengejar Rena. Gadis yang bersamanya tadi masih berada disamping Keno dan tak lama, Keno mengusirnya keluar.
“ Rena…” teriak Dicki belum sempat ia menghampirinya.
Perlahan titik air membasahi kaca mobil, tangisnya yang sejak tadi di simpannya kini berjatuhan bersama derasnya hujan.

3 awal yang baik
Beberapa bulan berlalu, Rena mulai melupakan Keno dengan kesibukannya yang sekarang. Rena tidak seperti teman-temannya yang lain, yang melanjutkan studinya di luar negeri, atau bekerja di sebuah perusahaan, kini ia mewujudkan mimpinya sejak kecil, memiliki sebuah tempat yang bisa didatangi oleh banyak orang, sekedar untuk berbicara dan tertawa dengan menikmati secangkir kopi yang hangat dan makanan yang enak.
“ wauw..luar biasa” puji Dinda melihat orang-orang yang terus berdatangan di café milik Rena. Café”R begitulah nama tempat itu diberikan, sederhana tapi baginya begitu luar biasa, café “R cukup luas, dan strategis bagi orang-orang yang begitu penasaran dengan tempat ini. Selain makan dan minum, Rena juga menyediakan ruangan bacaan atau perpustakaan terbuka di Café “R. Berkat Dinda yang mempromosikan Café milik Rena, hanya beberapa bulan saja, Rena sudah bisa memperluas dan menambah fasilitas Café “R sesuai dengan keinginan pengunjung,
Tentu saja Rena begitu sibuk, apalagi malam ini adalah malam pergantian tahun, sebulan lalu Rena dan Dinda membuat event malam tahun baru sehingga hanya beberapa hari saja, reservasi sudah memenuhi kuota di café”R, Rena bahkan lupa kapan ia terakhir kali makan, meskipun Dinda juga sibuk bekerja tetapi sesekali ia membantu Rena di Café, dan malam ini Dinda datang membawakan makanan buatnya. “tubuhku rasanya sudah mencapai batasnya” ujarnya sambil terus di suapi oleh Dinda tangannya masih mencoret kertas-kertas yang tidak di mengerti Dinda. “ masih ada enam jam, sebelum jam delapan, setelah makan kamu harus istirahat dulu”.” Hmmm…masih banyak yang harus aku selesaikan Dinda”. Ujarnya menelan dengan cepat suapan terakhir Dinda.
“memangnya hanya kamu yang kerja di Café ini, manajer, dan karyawannya biarkan mereka bekerja, kamu hanya perlu duduk, istirahat dan menyuruh mereka melakukannya semuanya”.
“aku juga ingin membantu, pokoknya malam ini harus berjalan sempurna, biarkan café “R ini menjadi bahan pembicaraan orang-orang, kau tahukan kalau bulan depan café kita akan mengisi halaman pertama majalah” ujar Rena begitu semangat.
“lakukan sesuai keinginanmu, tapi untuk tiga jam kedepan aku ingin kamu istirahat dan tidur, sisanya aku yang urus” ujar Dinda keluar dari ruang kerja Rena yang begitu berantakan. Tempat itu sudah membuat Dinda sakit kepala.
Belum melangkah terlalu jauh dari ruang kerja Rena, seseorang dengan langkah terburu-buru sepertinya ada sesuatu yang baru saja terjadi. Dinda menghentikan langkahnya dan menyapa laki-laki itu dan beberapa detik memperhatikan papan nama yang tertera di di bajunya. “ Manajer Café Wahyu Prasetyo, ada apa?” tanyanya. “aku ingin menemui Mbak Rena ingin melaporkan sesuatu padanya”. “sampaikan padaku, Rena sedang tidur, tidak ada yang boleh menganggunya selama tiga jam kedepan” merebut kertas yang sejak tadi di genggam manajer Rena, Dinda begitu kaget saat pria itu menarik kembali kertas yang baru saja berpindah dari tangannya. “kamu dengar tidak, Rena lagi istirahat, artinya tidak ada satupun orang boleh menganggunya, bahkan pak Presiden sekalipun!!” ujar Dinda kesal. ”minggir” pria yang membuatnya kesal, mendorongnya hingga terjatuh, dan lengannya menabrak tembok.
Mendengar keributan di luar sana, membuat Rena terbangun dari tidurnya yang hanya beberapa menit. “ada apa?” Tanya Rena menghampiri mereka, melihat Dinda yang kesakitan memegang lengannya yang membiru. “apa yang kamu lakukan, cepat bawa dia keruangan, bawakan kotak obat dan es ” bentak Rena kepada manajernya itu. “apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Rena, yang begitu khawatir pada tubuh lemah Dinda, Dinda memang memiliki tubuh yang rentang terhadap luka, bahkan luka kecilpun bisa membuat Dinda deman beberapa hari. “hanya kesalahan kecil, apa luka ini akan membuatku tidak ikut menikmati malam pergantian tahun ini” ujar Dinda, dari raut wajahnya Rena sudah paham apa yang dipikirkan Dinda.” Dia manajer baru di café ini, sikapnya dan sifatnya memang seperti itu yang kudengar dari karyawan dan pelayan, dia sedikit arogan, cuek, pendiam dan bahkan tidak pernah tersenyum. Tapi pekerjaannya cukup bagus dan ramah dan aku menyukai pekerja seperti itu”. Dan tidak lama kemudian, manajernya masuk memberikan kotak obat dan es untuk mengkompres lengannya. “ Wahyu, kamu di sini dulu jaga dia, aku akan turun mengurus ini” tambah Rena mengambil kertas-kertas yang sejak tadi membuat Dinda kesal.
“maaf” ujar Wahyu singkat. Dinda mencibir dan berbicara pelan “ maaf katanya”. “iya maaf, doronganku bahkan tidak begitu kuat, dan kamu begitu mudahnya terjatuh” Wahyu berdiri beranjak dari tempat itu. “dasar laki-laki brengsek”.
“maaf atas kejadian tadi” sahut Wahyu saat menghampiri Rena. “tidak apa-apa?”
“Mbak bisa memotong gaji saya, karena kejadian tadi”.
“sudahlah, tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah begitu” Rena menepuk pundak Wahyu sambil tersenyum.
30 menit lagi kemeriahan pergantian tahun baru, kembang api dan bunyi terompet akan menggema di sekitar café dan seluruh dunia. Betapa tidak selain pergantian tahun baru juga menyimbolkan awal berdirinya café “R bertepatan dengan tahun baru ini.
“maaf yah, aku tidak menemanimu, waktunya hampir mulai” ujar Rena bersiap-siap, dia sedikit bersalah kepada Dinda yang terbaring sakit, gara-gara luka yang di dapatkanya tadi siang. “aku bisa melihat kembang api di luar sana, dan juga tidak ada yang istimewa” keluh Dinda tersenyem kecut, dia tidak ingin membuat Rena khawatir, meskipun terasa berat, Rena harus menemani orang-orang yang menjadi tamunya. Lima menit lagi, Dinda berusaha meninggalkan sofa tempatnya berbaring, dia melihat wajahnya di cermin sambil berkata “lihatlah dirimu Dinda, tubuhmu begitu lemah, dan bahkan luka sekecil ini membuatmu deman, di saat seperti ini dan semua ini gara-gara dia?”
“makanlah ini?” Wahyu muncul tiba-tiba menaruh beberapa kue yang di bawanya
“tidak usah” Ujar Dinda, berusaha tidak menunjukkan kalau ia sedang sakit.
“mengapa tidak turun ? sebentar lagi acaranya di mulai”
“aku tidak tertarik, pergilah!!” tanpa berkata apa-apa, Wahyu pergi meninggalkan Dinda sendiri, dari wajahnya, dia tahu gadis itu sangat kesal pada dirinya meskipun sudah meminta maaf.
Meski sedikit khawatir, Rena bisa merasakan kelegaan saat rencananya berhasil sesuai dengan keinginannya. Malam semakin larut waktu menunjukkan pukul empat, café sudah sepi pengunjung, pelayan dan karyawan membersihkan tempat itu sebelum mereka pulang. Malam yang melelahkan buat mereka tetapi meskipun begitu karena kebaikan hati Rena, semua karyawan, chef dan pelayan bekerja dengannya merasa nyaman.
“Mbak, aku pamit pulang” ujar Wahyu manajernya yang terakhir meninggalkan café, tapi Rena memanggilnya kembali.
“ kamu pasti lelah, tapi aku mau minta tolong sebelum kamu pulang”, Wahyu mengikuti langkah Rena masuk ke ruang kerjanya. Dinda tertidur lelap, Wahyu mengangkatnya menuju ke mobil.
“thanks yah Wahyu,” tambahnya masuk ke mobil “ oh iya, kitakan searah, gimana kalau barengan” lanjut Rena membuka pintu mobilnya. Meskipun beberapa kali Wahyu menolak, karena Rena adalah atasanya, mau tidak mau dia naik dan mengantikan Rena menyetir.
“oh iya mbak, Dinda temannya Mbak yah? Tanyanya.
“bukan, dia adik saya. Dia deman, makanya saya tidak bisa membiarkannya lebih lama di café. Maaf merepotkanmu”,
“tidak apa-apa Mbak”.
“sebenarnya dia sakit gara-gara kamu lho?” ujar Rena membuat Wahyu terkejut sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
“ternyata kamu tidak seperti yang orang-orang katakan, kamu baik dan perhatian juga” puji Rena, membuat laki-laki itu sedikit tidak merasa bosan.
“maaf Mbak, Dinda sakit gara-gara saya maksudnya?” bertanya dengan penasaranya, belum sempat mendapatkan jawaban, Wahyu lebih dulu turun di depan tempat tinggalnya.
4. pertemuan pertama
“kamu sudah baikan” ujar ibunya, membantunya menuruni tangga, menuju meja makan.
“lihat gadis cantik ayah” memuji kedua putrinya yang meskipun sudah dewasa dan umur yang seharusnya menikah tetap saja ayah dan ibunya masih memperlakukan mereka berdua gadis kecil.
“bagaimana kalau kita mencarikan jodoh untuk mereka berdua” lanjutnya ayahnya tersenyum menunggu kedua respon kedua putrinya itu.
“aku ingin menikah dengan laki-laki yang kucintai sendiri” sahut Dinda lebih dulu, menunggu jawaban Rena kemudian. “ terserah Ayah dan Ibu saja” jawaban Rena begitu sederhana membuat makan siang di hari libur mereka lebih menyenangkan.
“hari inikan libur, kok kamu mau ke café?”. Dinda yang sudah sehat, menghampiri Rena, Dinda begitu menyukai saudara perempuannya itu, meski Rena selalu di buat kewalahan dengan sikap Dinda, tetapi Rena tidak pernah mengeluh dan hanya tersenyum, dan hanya itulah obat kesepiannya selama ini.
“ Wahyu “ panggil Rena saat melihat Wahyu juga menuju ke Café.
“yah..hari ini semua karyawan libur, apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Rena
“maaf Mbak, selama ini setiap hari libur, saya selalu mengunjungi café, karena saya melatih diri saya”.
“melatih? Hei kamu itu manajer, tugasmu hanya mengawasi dan memberikan laporan padaku. Kamu tuh yah,”
“aku seorang barista Mbak, jadi,,,,,,,,” tiba-tiba Rena memotong pembicaraan Wahyu, sambil menuju ruang kerja Rena.
“ahhh..! aku lupa kalau kau juga seorang barista” Rena kembali menepuk bahu Wahyu menunjukkan kepuasan kepada manajer berbakatnya itu.
“Dinda gimana Mbak?” Tanya Wahyu, kembali Rena menatap manajernya itu, yang sudah dua bulan bekerja di cafenya.
“Mbak…? sekarang kita nggak kerja Wahyu, jadi tidak usah panggil Mbak dan terima kasih yah bantuannya kemarin”
“ iya… tapi kenapa datang ke café? rasanya aneh nggak manggil Mbak” ujar Wahyu
“umur kita sama, jadi nggak usah formal gitu” Rena kembali tertawa, ternyata Wahyu yang selama ini dibicarakan karyawan yang biasa di dengarnya berbanding terbalik. “ besok aku harus keluar kota selama dua hari” jelas Rena memberikan segala sesuatunya kepada Wahyu selama ia pergi dua hari ini.
Perjalanan menuju kota Jakarta selama dua jam lebih, di tambah cuaca  di kota itu hujan, membuat Rena mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan dan hanya menuju ke lokasi yang di tujunya. Pertemuan yang tidak di sangka saat Rena masuk ke toko keramik, sosok pria yang sudah tidak asing lagi berdiri di hadapannya, menatapnya dengan terkejut dan tentu saja Rena berdiri mematung memperhatikan sosok pria yang pernah ia sayangi dan cintai, yang pernah memberikannya janji masa depan kini berada dua langkah di depannya.
“hei Re..” sapanya tersenyum.
Rena mengembalikan senyuman Keno, meski satu tahun lebih berlalu, perasaannya itu baru saja terjadi kemarin. Dia kembali tersadar, baru saja sejenak ia kembali ke masa lalu yang hampir tidak pernah datang menghampirinya.
“hei…apa kabar?” balas Rena memberikan salaman perjumpaan pada Keno, dia mengajak Rena ke studio untuk berbincang-bincang dan bertemu dengan Reza, Dicki dan Doni. Tidak ada alasan untuk menolak ajakan Keno, bagi Rena itu hanya masa lalu yang menyakitkan. Anggap saja dia ingin mengunjungi teman-teman masa kuliahnya.
Tiba di studio miliknya, Reza, Doni dan Dicki awalnya terkejut karena kedatangan Rena yang barengan dengan Keno. Meskipun begitu Rena, di sambut hangat oleh mereka.
Meski setahun lebih berlalu mereka berempat masih tetap bersama dengan anggota yang sama. Meski sedikit canggung, dan gugup, Rena juga heran dengan perubahan sikap Keno, apakah sikap ini karena sudah setahun lebih setelah mereka putus dan tidak pernah bertemu lagi, atau hanya hatinya yang merasa bimbang.
Cukup lama mereka mengobrol, Rena memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore, dia harus segera ke bandara. “biar Keno yang mengantarmu ke bandara, taksi di saat hujan seperti ini jarang lewat sini” usul Reza mendorong tubuh Rena lebih dekat dengan Keno.“tidak usah,” ucapnya membuka pintu, di saat bersamaan itu pula seorang pria tinggi, berambut panjang di kuncir, menggunakan kaos oblong, jeans robek dengan ransel di pundaknya menatap tajam padanya, entah siapa yang ingin melepaskan tangannya lebih dulu dari gagang pintu. Karena terkejut dan takut, Rena cepat-cepat melepaskan tangannya. Tanpa mengatakan apa-apa pria itu membuka pintu lalu pergi. “maaf Re, dia adiknya Keno, kamu terkejutkan?” ujar Dicki mengantarnya masuk ke mobil Keno. “Dia Ray” Keno memperkenalkan pria yang ikut masuk dalam mobil bersamanya. Pria itu tidak mendengarkannya saat Rena memperkenalkan dirinya, dia hanya sibuk dengan gadget dan earphone di telinganya. Sepuluh menit perjalanan, pria yang di panggil Ray itu menutup matanya, sekali-kali kepalanya mengangguk pelan menikmati lagu yang didengarnya, mata Rena begitu penasaran dengan pria yang berada di belakangnya itu, entah dia merasa aneh dengan gayanya atau baru pertama kali melihat orang seperti itu. beberapa kali pandangannya terus melihat kaca mobil hanya untuk melihat Ray, tapi mata Rena tertangkap basah, Ray membuka matanya, menangkap mata Rena yang sejak tadi memperhatikannya. Sigap Rena salah tingkah dan melihat keluar jendela sedangkan dia kembali menutup matanya. “maaf” suara hening sejak tadi pecah, saak Keno dengan pelan mengatakan ucapan yang tidak pernah ia dapatkan. Rena memalingkan wajahnya ke arah Keno, Rea paham ucapan itu. “maaf, atas semuanya, maaf karena waktu itu…?”. Rena memotong ucapan Keno, “sudahlah, itu dulu” Rena melempar senyum getirnya, meski ia mencoba untuk memahami yang sudah terjadi dan sekarang ini adalah masa untuk melangkah kedepan, ia tidak ingin mundur karena pernah mengalami masa yang buruk untuk hatinya.
“mungkin Ray akan satu penerbangan denganmu, dia juga mau ke Bandung”
“dia memang seperti itu?” Tanya Rea, Keno tertawa pelan, walaupun kemungkinan besar Ray tidak akan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
“iya…dia itu pecinta seni, waktu kecil dia melukis di mana saja, membuat apa saja hingga dapur dan rumah begitu berantakan karena ulahnya, dan baru-baru ini dia membuat kekacauan di kantor polisi” sambil berbisik “ dia mencoret dinding kantor polisi dengan tulisan ejekan” jelasnya singkat, di benak Rena, pria ini hanya orang aneh yang sikapnya berbanding terbalik dengan Keno. “untuk apa di ke Bandung?” tanyanya kembali. “ayahku mengirimnya kesana, untuk mengadakan pameran pertamanya” jelasnya singkat.
Sesampainya mereka di bandara, sekejap mata, Ray menghilang begitu saja, Rena masih harus membeli tiket yang sudah di pesannya sejak siang tadi, dan lebih dulu masuk ke pesawat mencari tempat duduknya. Karena begitu lelahnya, Rena lebih dulu tidur tanpa menyadari bahwa pesawat telah lepas landas. Hanya 30 menit menutup matanya, sudah cukup untuknya melepas lelahnya, lagi-lagi dia di buat terkejut oleh pria yang bernama Ray, sejam pesawat ada di udara, dia baru menyadari satu tempat duduk dengannya. “ Hei…” sapa Rena lebih dulu. “jangan karena kamu kenal dengan Keno, kamu juga akan kenal padaku” ujarnya, Rena menghembuskan nafasnya yang berat ketika mendengar ucapan itu terlontar dari mulutnya. Pria itu menutup matanya memasang earphonenya kembali. ”apa mereka berdua sama brengseknya?” pikirnya. Rena melihat keluar jendela dia menyesal menyapanya barusan. Bercampur malu saat kejadian di mobil.

5 pertemuan kedua dan ketiga, apa ini takdir?
“aku merindukanmu?” sambut Dinda, memeluk erat saudaranya itu.
“hei..ini hanya dua hari” ujar Rena, melepaskan pelukan manja Dinda.” Mana Ayah dan Ibu?”. “ mereka ke café”
“café, kenapa ke sana?” ujarnya Rena penasaran.” Kau tahukan, gedung kosong yang berada di samping cafému itu, seseorang menyewanya untuk dijadikan galeri, dan yang mengejutkan, gosip yang kudengar, penyewanya seorang pria tinggi, kekar, dan incaran para wanita. Aku bahkan tidak sabar untuk berkenalan dengan orang itu, dan juga….” Dinda meraih majalah membuka halaman  “ lihat tubuh ini” ujar Dinda menunjukkan hanya tubuh kekarnya. “ini hanya tubuh, apa hubungannya dengan orang yang kau bicarakan itu” Rena sedikit tidak peduli.” Dia yang menyewa gedung itu, Fa,,,namanya Fa..”. “Fa, apa itu nama?” Rena dibuat bingung olehnya. “ hmmm, itu nama di majalah, dia juga seorang pelukis,
“wah dia luar biasa” puji Rena membuat hati Dinda senang, meski dia tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakannya.
Esoknya, Rena langsung menuju café, Wahyu manajernya menghampiri Rena begitu ia tiba, kesibukannya di awal tahun baru ini terkesan begitu indah buat Rena, betapa tidak, dia sangat berperan penting dan ikut membantu melayani pengunjung yang datang. “Mbak saya sudah memilih band Café, yang sudah direkomendasikan, “ Wahyu menyerahkan profilnya, tetapi Rena tidak begitu pemilih dan langsung mengambil keduanya. Dia begitu percaya dengan pilihan manajernya itu.
Seminggu berlalu dan hampir setiap hari, Dinda begitu rajin mengunjungi Rena dan pulang bersama, dan seperti malam ini, café hampir tutup dan karyawan sudah pergi, Dinda menunggunya di bawah, Rena harus kembali ke ruang kerjanya mengambil tas.
“Wahyu Prasetyo…” panggil Dinda saat melihatnya keluar dari café tanpa mengatakan apa-apa. “Wahyu, kamu kenapa sih? Sejak sore kemarin, kamu cuek dan tidak pernah berbicara padaku dan hari ini aku memanggilmu, tapi kamu tidak mengatakan apa-apa”, ujar Dinda mendekati Wahyu, mereka mulai dekat saat beberapa hari ini dan tidak heran, Wahyu menyimpan perasaan suka kepada Dinda dan begitupun sebaliknya. Kemarin sore adalah saat Dinda datang dan mengajak teman-temanya ke Café, yang mengejutkan Wahyu adalah teman-teman yang di bawanya, salah satunya seorang laki-laki yang begitu akrab dengan Dinda. Wahyu hanya menatap tajam padanya. Dinda menarik tangan Wahyu, ia tidak begitu suka ketika dia memberikan pertanyaan kepada seseorang tanpa menjawabnya.”emang salah saya apa ?”. Tanya Dinda kembali.”kamu tidak salah apa-apa” dengan judesnya, Wahyu melepas tangan Dinda yang kemudian mengejarnya.” Terus sikap kamu begini, kenapa?”. Wahyu menghentikan langkahnya berbalik kearah Dinda “aku hanya tidak suka, kamu tersenyum di depan pria itu, memegang lengannya bahkan tertawa, aku membencinya” ucapnya pergi begitu saja. Dinda dengan wajah bingung dan sedikit kesal mengerutu tentang Wahyu.
“wah, tadi aku melihat drama kalian berdua” Sahut Rena yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.”kenapa menatapku seperti itu?” Dinda mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil.” Kamu itu bodoh atau pura-pura tidak tahu, apa maksud Wahyu mengatakan omong kosong itu” Rena masih tersenyum mengingat kejadian tadi.”benarkan yang kubilang, itu omong kosong dan anehnya dia benci padaku, dia membenciku saat tersenyum dan tertawa, yaaaaa apa senyumku begitu jelek, dan tawaku seperti babi?” Dinda meraih cermin ditasnya, memperhatikan wajahnya dan beberapa kali mencoba kedua ekspresi itu. “Wahyu, menyukaimu, sangat jelas kenapa pria mengatakan itu saat dia cemburu” singkat Rena membuat raut wajah Dinda berubah.” Sepertinya malam ini aku harus mengunci kamarku supaya kamu tidak datang mengangguku”.
Semuanya terjadi begitu saja, dia begitu bahagia melihat Dinda benar-benar menyukai seseorang, meski sering gonta-ganti pacar, kali ini Wahyu berbeda bagi Dinda, pulang kerja Dinda selalu sempat datang mengunjunginya dan tentu saja untuk bertemu dengan Wahyu. Meski mereka merahasiakannya dari Rena, tapi mudah baginya untuk mengetahui hubungan mereka.
“sepertinya akan hujan” pikirnya, meski sudah malam, langit begitu pucat dan tak Nampak satupun bintang yang bersinar, dari kaca jendela Café, dia bisa merasakan embun dingin yang hinggap di kaca, dan benar saja gerimis yang mengawali datangnya hujan lebih deras lagi, Rea bisa menyaksikan orang-orang yang berlarian ke sana kemari untuk berteduh, angin berhembus begitu kencang, beberapa kali terdengar suara petir dan kilat yang menghiasi langit dan terlihat begitu jelas, pohon-pohon kecil dan besar yang berada di halaman Café, tertiup kesana kemari, pelayan café sibuk mengangkat kursi-kursi yang berada di halaman café, mereka harus membereskan kursi-kursi itu sebelum selesai. Waktu menunjukkan pukul satu malam, mungkin malam ini dia tidak akan pulang, melihat cuaca buruk di luar sana, tidak memungkingkan baginya untuk menyetir.
“cuacanya begitu buruk” ujar Wahyu, menghampirinya membawakan secangkir cappuccino kesukaanya.”kamu tidak pulang?” sambil duduk menikmati cappucinonya. “aku tidak suka cuacanya, malam ini saya harus tidur di ruang kerja lagi, dan kamu?”. “ oh… saya akan tidur di ruang istirahat, tidak mungkin keluar di saat hujan deras seperti ini “. Ujarnya pergi setelah pamit kembali ke ruang istirahat. Tinggal dirinya yang masih menatap keluar jendela menyaksikan jatuhnya rintik-rintik membasahi kaca, mobil dan motor yang lalu lalang melawan derasnya hujan, tangannya terasa hangat dengan cappuccino yang masih panas, sembari menikmati setiap seduhan buih-buih cappuccino yang tersisa, Rena berjalan ke arah pintu, hampir saja dia lupa mengunci pintu.
Tiba-tiba saja, tangannya terhenti ketika ia ingin memutar kunci, pintunya terbuka dan tubuhnya terdorong, wajahnya basah dengan tiupan angin yang membawa air hujan mengenainya, bersamaan itu pula seseorang sudah berdiri di depannya, dan terasa aneh baginya, tetes hujan itu masih mengenai wajah Rena ketika perlahan wajahnya terangkatnya, melihat sosok pria tinggi yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya, wajahnya sedikit tertutup dengan payung hitam diatasnya, perlahan payung yang sejak tadi mengenainya dengan tetesan air hujan terjatuh di lantai, sehingga wajah pria di bawa payung  dan keadaan basah yang masuk ke dalam cafénya terlihat jelas. Pikir Rena keadaan yang terjadi padanya sekarang, tidak lebih dari sebuah adegan film. Bahkan dirinya tidak sadar pria yang pernah satu mobil dan pesawat itu ada di hadapannya menatap wajah Rena yang terkejut kaku. Pria itu mengangkat tangannya dan mendorong bahu Rena mundur beberapa langkah. Dia masuk begitu saja dengan tubuh yang basah, Rena bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, bahkan tubuh yang dianggap kurus oleh Rea bukanlah tubuh kurus yang dipikirkan selama ini. Rena dengan cepat menghampirinya, dan lagi tanpa mengatakan apa-apa, pria yang bernama Ray itu hanya mengambil kunci yang sudah dititipkan oleh ibunya lalu pergi begitu saja, dan dia baru saja tersadar bahwa pria yang disebut Dinda adalah dirinya.

Hari ini tidak terlalu sibuk bagi Rena untuk melakukan pekerjaannya, seharian ini dia terlalu banyak diam, dan pikirannya melayang, tentu saja kejadian semalam membuat pikiran Rena kacau. Sekali-kali kakinya melangkah keluar café, entah apa yang dirisaukannya. Dia terus memandangi gedung kosong yang akan di jadikan galeri oleh pria yang bernama Ray. dirinya merasa gelisah karena orang-orang yang keluar masuk tempat itu, dan hanya Ray yang belum muncul.
“Mbak ngapain sih, mondar-mandir nggak jelas?” Tanya seorang pelayan yang sejak tadi berbisik di belakang bersama yang lainnya. Tidak biasanya, bos mereka terlihat gelisah dan tak tenang. Rena tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menyuruhnya pergi.
“Bos kemana sih?” Tanya Nina, salah satu pelayan, yang begitu penasaran saat melihat ekspresi bosnya menyuruh Wana pergi. “ nggak tahu, kalian semua bubar nanti Pak Wahyu marahin kita, ngumpul di sini!? Ujar Wana mendorong teman-temannya kembali bekerja.
“selamat siang !” suara ketukan seseorang membuyarkan lamunan Rena, Wahyu masuk dan memberitahukan kedatangan Band yang sudah di kontrak oleh Rena, mereka hari ini sudah membuat janji bertemu untuk menandatangani surat kontrak selama beberapa bulan kedepan. Betapa terkejutnya Rena saat melihat orang yang tidak asing lagi baginya masuk. “ternyata kalian” Rena menghampiri mereka berempat kembali membuka kertas-kertas berisi profil mereka, dia sama sekali tidak pernah membuka file yang diberikan Wahyu padanya. “aku tidak menyangka, café ini milikmu Rena” ujar Keno menerima surat kontraknya untuk di baca sebelum di setujui dan di tanda tangani oleh mereka.
“kita semua akan sering bertemu yah, beruntung sekali kami merekomendasikan band kami di café ini”. Tambah Dicki. Tidak terlalu lama merundingkan soal isi kontrak mereka, tanpa basa-basi mereka setuju dan resmi bekerja selama lima bulan ke depan. “ Rena, dia Keno kan? Ngapain dia di sini? Kamu sih nggak baca baik-baik sebelum memilih mereka” protes Dinda memperhatikan mereka dari kejauhan, semenjak Keno menyakiti Rena, Dinda juga ikut membenci laki-laki itu. “bagaimana kalau dia mencoba dekat denganmu lagi, aku akan membunuhnya!” ujar Dinda tidak suka dengan kedatangan mereka. “ kamu berlebihan deh, nggak mungkin aku bisa sama dia lagi, dan mau kuberi hadiah?” Tanya Rena mengedipkan matanya pada Dinda, sejenak dia lupa rasa kesalnya pada Keno.
Suara sorakan, memenuhi café, penampilan pertama Keno dan bandnya cukup memuaskan, meskipun sudah hampir malam, segerombolan pelajar  dan mahasiswa yang datang untuk bertemu dengan teman-teman mereka, bahkan yang datang hanya untuk menikmati perpustakaan di lantai tiga, menikmati berbagai macam makanan dan minuman yang mereka sukai tidak habis-habisnya berdatangan, sekejap saja Keno dan Bandnya sudah mendapatkan penggemar, dan mereka di sibukkan dengan gadis-gadis remaja yang meminta foto. Rena ingat betul kapan ia mulai jatuh cinta pada Keno, saat  Keno tampil di festival kampus dan saat seperti ini sama ketika beberapa tahun yang lalu.
Rena menarik nafas dalam-dalam, dia tidak ingin hatinya goyah hanya karena ini. Dia berjalan menuju keruang kerjanya, langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri di samping meja kerjanya, memeriksa satu persatu buku yang berada di raknya. Laki-laki itu berbalik lalu duduk. “ibumu memintaku membawakan surat-surat ini padamu”. Katanya dengan sikap yang sama, Rena hanya tersenyum mengambil surat yang dimaksud Ray dan memasukkannya langsung ke tasnya. “ aku  Ray” katanya tiba-tiba menyodorkan salaman pada Rena, yang terkejut dengan sikap anehnya. “ aku Rena “ balasnya, tapi salaman Ray tidak dihiraukannya. ” Keno ada di bawah!” ujarnya duduk di hadapan Ray, tetapi tak sedikitpun respon yang dia dapatkannya. “jangan katakan apapun kalau aku ada di sini!”ujarnya dengan suara yang serak dan agak dalam terdengar begitu kaku di telinga Rena, dan tidak lama setelah itu, Ray pergi tanpa mengatakan apa-apa.
“ dasar pria aneh “ Rena hanya geleng-geleng, merapikan meja kerjanya yang sedikit berantakan, suara bunyi hp menghentikan tangannya, bunyi itu terdengar asing baginya, bahkan hpnya, dan telepon tidak berdering sama sekali, Rena mencari arah bunyi itu berasal, dan tepat sekali perkiraannya, dia menemukan hp di bawah meja, mungkin terjatuh saat seseorang mampir di kantornya. Dia mengambilnya dan memeriksa hp yang tidak diketahui pemiliknya itu, hpnya berhenti berdering, dia bisa tahu siapa pemiliknya saat Rena melihat fotonya. “siapa wanita ini?” bisiknya pelan, matanya hanya fokus pada Ray, dia terlihat berbeda di foto ini, rambutnya pendek, dan cara berpakaiannya lebih rapi, sangat berbeda dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sudah cukup bagi Rena membuang pikiran aneh di otaknya, dia bergegas keluar mengejar Ray untuk mengembalikan hpnya. Tapi Ray sudah pergi begitu cepat, dia memutuskan untuk ke tempat Ray, dan tidak sengaja berpapasan dengan Keno.
“ kok terburu-buru!?” sapanya melihat Rena yang hampir menabraknya.
“tidak apa-apa, lho kamukan lagi kerja, jangan karena kita kenal kamu berani bolos, inikan hari pertama kamu kerja!” tambah Rena sedikit bercanda, Keno begitu senang bisa melihat Rena tersenyum seperti dulu, seperti saat mereka bersama, tidak  bisa dipungkiri Keno rindu saat-saat mereka bersama, rindu ingin mengenggam tangannya. Keno menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk menjernihkan pikirannya, tidak sepantasnya dia ingin mengulang kembali masa-masa itu bersama Rena. Sementara itu tanpa mereka sadari, Ray memperhatikan mereka dari tempatnya berada di lantai dua, cukup dekat sehingga Ray bisa melihat halaman café Rena. “pria bajingan itu, tersenyum tanpa beban!” ucapnya pergi.
“hei..” sapa Rena saat masuk ke ruangan yang masih berantakan, apa yang di lihatnya ruangan ini akan menjadi tempat karya-karya Ray di pajang, Ray dengan rambut panjangnya, sungguh berbeda dengan apa yang dilihatnya di foto itu.
“ada apa?” Tanya Ray, tangannya sibuk menggores kuas-kuas di kanvasnya, dia tidak begitu terkejut, karena tahu Rena akan datang menghampirinya setelah menyadari hpnya terjatuh saat ia berdiri di tempatnya.
“aku datang mengembalikan ini” memberikannya langsung “ yah karena kamu ingin Keno tidak tahu, jadi aku datang sendiri memberikannya” lanjut Rena menyempatkan dirinya menikmati lukisan-lukisan Ray. “aku dengar kamu akan mengadakan pameran pertama yah!” ujarnya berhenti pada sebuah lukisan yang Nampak sebagian, karena tertutupi oleh lukisan lainnya. Lukisan seorang wanita yang sangat mirip dengan wanita yang berada difoto bersama Ray. “jangan sentuh itu!” Ray menarik lukisan dari tangan Rena, dan menaruhnya kembali, tanpa di sadarinya, dia membuat tangan Rena terluka akibat terlalu keras menarik lukisan itu. Rena dengan cepat menyembunyikan tangannya yang meneteskan darah, sebuah paku yang tertancap di lukisan tadi membuat goresan dalam di telapak tangan Rena. Dia segera meninggalkan tempat itu setelah meminta maaf padanya.
Hal yang paling dibenci oleh Rena adalah darah, melihatnya saja dapat membuat kepalanya sakit dan tubuhnya lemas jatuh pingsan. Rena mencoba menahannya, ia sempat melihat Dinda dari kejauhan menikmati makan malamnya bersama Wahyu, hadiah makan malam yang diberikan kepada mereka berdua, setelah Dinda melihatnya dan menghampirinya, tubuhnya tidak lagi bisa bertahan, dan tidak sadarkan diri, Keno yang juga berada di sana segera berlari dan membawanya ke ruang istirahat. Keno tahu betul kelemahan Rena, setelah lukanya di perban, Dinda, Wahyu dan Keno menunggu Rena sadarkan diri.
Sementara itu Ray baru sadar apa yang telah di lakukannya tadi, setelah melihat darah Rena berceceran di lantai, Ray mengejarnya tapi terhenti saat melihat dari kejauhan Rena jatuh pingsan, dan di bawa oleh Keno. semuanya berawal dari kejadian itu, setelah apa yang terjadi Ray terus memikirkan Rena karena dirinya ia bisa terluka.




6. mulai dekat denganmu!
Meski selasa pagi ini tidak begitu cerah, Rena masih bisa menikmati paginya dengan sarapan nasi goreng kesukaannya. Ayah dan Ibunya serta Dinda sejak pagi tadi sudah meluncur ketempat kerjanya, hanya sabtu dan minggu dia bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Dia memandangi lukanya yang di dapatnya tadi malam, menghela nafas berdiri dari meja makan dan memulai paginya dengan menuju ke Café,
“apa yang terjadi?” Tanya Wahyu bersamaan masuk kedalam café. “hanya terjatuh, ini tidak apa-apa, karena aku terlalu ceroboh” jelasnya singkat, Wahyu tidak bisa lagi bertanya apa-apa setelah mendengar jawaban Rena. Meski tadi ia sempat melihatnya memperhatikan seseorang yang masuk ke dalam galeri. Tidak lama kemudian Keno juga datang, ia tahu kedatangannya terlalu cepat, seharusnya dia berada di café pukul empat sore, tetapi ia datang sebagai pelanggan, sekaligus melihat keadaan Rena. Meski tidak mendapatkan jawaban yang menyakinkan darinya. Setelah beberapa menit mengobrol, Rena berdiri dari tempatnya, menghampiri Nina, menyuruhnya menyiapkan minuman pesanan Keno. “kamu tidak apa-apa?” Tanya seseorang yang suaranya begitu di kenalnya, Rena berbalik melihatnya tangannya di raih oleh orang itu, Rena sekali lagi hatinya di buat berdebar olehnya, Ray mengusap pelan tangan Rena yang terluka.” Aku minta maaf atas kejadian tadi malam “ lanjut Ray masih mengengam lengan Rena yang bahkan tidak bereaksi saat tiba-tiba Ray menarik tangannya melihat lukanya.
“Ray,,,ngapain kamu di sini?” Keno menghampiri mereka berdua, apalagi setelah tahu yang datang adalah Ray, terlihat jelas kedatangan Keno membuat Ray tidak suka, wajah Keno berubah melihat Ray memegang Rena, yang akhirnya melepas tangannya dari Keno. “ ada yang ingin aku bicarakan!” ujar Ray berjalan menuju lantai dua, Rena bingung dengan sikap Ray yang aneh. “kalian sudah kenal?” Tanya Keno, Rena terpaksa memberitahu Keno apa dan kenapa mereka bisa kenal.
“seharusnya aku yang minta maaf, menyentuh lukisanmu tanpa izin, jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi” ujar Rena meletakkan secangkir teh yang sudah disiapkannya. “baiklah kalau begitu, oh iya aku datang karena ingin minta tolong padamu, apa hari ini kamu sibuk?” Tanya Ray. “memangnya ada apa?” tanyanya balik. “karena kamu bos di café ini, mungkin tidak masalah kalau aku meminjammu sehari saja” Ray memperhatikan Rena yang bingung, apa ini ajakan jalan-jalan yang dipikirkannya baru saja. “iya ini ajakan jalan-jalan” lanjut Ray seolah ia bisa mengetahui apa yang dipikirkan Rena. “aku juga sudah kasih tahu manajer kamu, jadi ayo..” ajak Ray, Rena masih terdiam memperhatikannya. “apa kamu akan diam saja?” lanjut Ray menarik tangan Rena turun, dia hanya mengikuti langkahnya, entah apa yang dipikirkan Rena, ia tidak bisa melakukan apa-apa saat laki-laki itu mengenggam tangannya, membawanya keluar café. meski di lihat oleh semua orang di café itu, karyawan yang saling berbisik, Wahyu yang mengejarnya hanya sampai di depan pintu, Keno yang terkejut mereka bersama, berusaha mengejarnya tetapi tidak kalah cepat langkah Ray yang mendorong tubuh Rena masuk ke mobil dan segera pergi.
“aku ingin memulainya lagi dengan Rena” kata-kata itu tiba-tiba terlontar dari mulut Keno, Dicki, Doni dan Reza yang tadinya bercanda saling mengejek satu sama lain terdiam. “kamu yakin? “ ujar Dicki.”kalau saya jadi kamu, bakalan mikir-mikir lagi, kamu masih ingat nggak, wajah Rena saat memergoki kamu selingkuh”. Lanjut Doni duduk di samping Keno. “ tolong Ken, walaupun kita tahu kamu sudah berubah, tapi saya tidak yakin dengan Rena, jangan buat masalah lagi” nasehat mereka memang benar, tetapi Keno ingin meminta maaf dan ingin mengulang semuannya, dia menyesal melakukan semua itu.
Berjam-jam Rena hanya duduk sendirian melihat Ray dari kejauhan, entah apa yang dilakukannya mengajaknya berkeliling dari galeri satu ke galeri lainnya. Dia pasti mencari ide untuk pamerannya nanti. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Rena masih sabar menunggu Ray keluar, Rena lagi-lagi dibuat terkejut, Ray menempelkan minuman dingin di pipinya, sontak Rena melepaskan tangannya dari pagar besi, kedua kakinya yang bertumpuh pada pagar membuat keseimbangannya hilang, Rena hampir terjatuh dan Ray menangkap tubuhnya. “apa kamu senang membuat orang lain terkejut?” ujar Rena sedikit kesal.” Sudah sore, aku harus balik ke café!” lanjut Rena berjalan lebih dulu masuk ke mobil.
“Ren, kamu dari mana sih” teriak Dinda saat melihatnya turun dari mobil Ray.”yah..bukankah dia Fa, si pelukis itu?” Tanya Dinda mengejar Rena yang masuk ke café.”kok dia beda banget yah!”. “hum rambutnya yang gondrong itu” ujarnya meninggalkan Dinda sendirian, yang masih penasaran dengan mereka.
“ Rena…” panggil Keno, ia sejak tadi menunggu kedatangan Rena.” Ada apa?”.
“besokkan kamu nggak kerja, aku mau ajak kamu jalan!” ajak Keno berharap Rena mau menerima tawarannya. “aku punya ide?” tiba-tiba Rena turun menyuruh Wahyu mengumpulkan semua pekerja café, tanpa terkecuali. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, café lebih cepat tutup tidak seperti biasanya. Setelah memastikan semuanya berkumpul.
“ada apa sih Ren?” bisik Dinda penasaran.
“ gimana kalau minggu ini, kita semua pergi kesuatu tempat yang indah!” ucap Rena, menunggu respon mereka.
“liburan…!” Sahut  Nina semangat. Melihat bosnya mengangguk, bersamaan mereka bersorak setuju dan senang dengan pengumuman yang mengejutkan mereka dan tidak habis pikir, memang mereka harus melakukan kegiatan liburan ini, minimal sekali setahun untuk menciptakan saling kerja sama dan kekeluargaan di antara mereka. Rena tidak bisa memutuskan kemana mereka akan pergi, dan hanya menunggu usul-usul dari yang lainnya.
“gimana kalau ke pantai?”.usul Nina lagi
“ pantai terlalu biasa, gimana kalau ke puncak, di sana kita bisa nginap semalam, pemandangannya sangat bagus dan juga udara sangat alami.” Jelas yang lainnya. Setelah semuanya setuju, mereka memutuskan ke puncak minggu ini. Dan menyuruh mereka mengurus keperluan perjalanan mereka. Karena ini adalah hadiah selama bekerja di café , biaya perjalanan mereka di tanggung oleh pemilik café.
“Ren, hummm selain karyawan café, orang luar bisa ikut nggak?” Tanya Dinda
“orang luar ? siapa?” ujarnya, mengarahkan pandangan pada Dinda lalu melihat Wahyu yang berdiri di samping Dinda. “kalau kamu ikut, aku harus menjagamu juga, kamu tahukan, kalau kamu itu deman kalau terluka” bisik Rena. “ kan ada Wahyu yang jagain saya”. Tambah Dinda menyenggol Wahyu.” Yah udah, kamu turun dulu, ada yang harus aku bicarakan dengan dia” tunjuk Rena pada Wahyu.
“apa kalian pacaran?” Tanya Rena.
 “maaf Mbak…!”.
“yah..!! apa jawaban dari pertanyaanku itu, maaf!!, apa kamu tahu bagaimana keadaan Dinda?” tanyanya kembali menyakinkan raut wajah Wahyu. Tapi Wahyu tidak mengerti sama sekali dengan pernyataan yang didapatnya.”kamu ingat pertama kalian bertemu, dia mendapatkan luka di lengannya, dan setelah itu dia sakit !!” jelasnya, mendengarkan penjelasan panjang dari Rena, membuat wahyu beranjak pergi begitu saja, dari wajahnya Rena bisa tahu, kalau pria itu merasa bersalah pada Dinda dan berlari menghampirinya.” Mereka berdua membuatku iri “ pikirnya dalam hati. Cinta seperti teka-teki, kadang mendapatkan hal yang mudah untuk dipahami dan terkadang ada hal yang begitu rumit untuk dijelaskan. Kadang orang yang merasakannya langsung merasa bodoh sendiri, ia tidak tahu apa yang dihadapinya, apakah ini cinta? Membuat nafasmu terengah-engah, berdebar, dan selalu ingin memberontak. Iya orang yang benar-benar merasakannya akan sulit untuk paham situasi dan kondisi, apalagi ketika cinta itu tumbuh perlahan lalu semakin tinggi, dan tidak tertahankan, rasanya ingin mati ketika perasaan itu tidak mampu diucapkan dengan kata-kata, ungkapan itu lebih muda dilakukan dengan perhatian, membuat orang yang kita perhatikan merasakan jengkel agar dia selalu terlibat dalam kehidupan mereka, terus bersama dan akhirnya jatuh cinta dan mengungkapkannya, semua seperti itu !.
Sehari sebelum berangkat, Rena datang lebih cepat sebelum café buka, di saat bersamaan itu juga Ray datang menghampirinya, dan untuk kesekian kalinya, Rena terkejut melihat penampilan Ray, ini terlalu siang bagi Rena untuk bermimpi. Rambut gondrongnya yang kemarin sudah tidak ada lagi, terlihat lebih keren, menggunakan tuxedo, meski sedikit berantakan membuktikan bahwa ini adalah pertama kalinya ia menggunakan pakaian formal seperti itu. Rena memandang takjub pada Ray, tanpa berkedip dia menghampiri Rena. “apa aku terlihat aneh bagimu” ujar Ray mendekatkan tubuhnya tepat di hadapan Rena. “aku mencarimu karena ini…!” bisik Ray memberikan dasi bercorak biru putih kepada Rena, meski terlihat sedikit malu. “oh …aku akan memakaiannya!” katanya gugup, wajahnya yang memerah, dan kini jantungnya berdetak kacau, hatinya berdebar itulah perasaaan yang dirasakan mereka berdua. Memakai dasi hanya memerlukan satu menit, tapi entah berapa menit yang mereka habiskan, tangan Rena terlihat gemetar, sekali menunduk menyembunyikan wajahnya ke dada Ray. Ini pertama kalinya ia memasangkan dasi keseorang pria selain ayahnya. “cepatlah,,,aku akan terlambat!!” ujar Ray, mendorong tubuhnya lebih dekat dengan Rena. Dia bisa merasakan nafas gadis itu berpacu dengan cepat, Ray tersenyum, Rena bisa lega bisa menyelesaikan urusan dasi itu, dengan cepat Rena mundur menjauh dari Ray yang sejak tadi membuatnya nafasnya tidak karuan. Tetapi tubuhnya kembali di tarik oleh Ray. “sampai jumpa nanti malam!” bisik Ray di samping wajahnya lalu pergi.
Dengan kedua tangannya, Rena menutup wajahnya sambil tersenyum, berlari ke ruang kerjanya . “kau lihat itu!!” ujar Nina, menyaksikan hal seperti itu adalah hal yang tidak biasa bagi mereka. Tanpa Rena sadari, beberapa pelayan cafenya, telah menjadi penonton dari awal sampai akhir. “ kalian tahu, ternyata Mbak Rena dan Keno pernah pacaran lho, aku dengar itu saat teman-teman membicarakannya” Lanjut Nina, dia sudah di juluki ratu gosip di café ini. “kalian kembalilah kerja, café sudah seharusnya buka sepuluh menit yang lalu!” tegur Wahyu, hal yang biasa baginya untuk menegur mereka. Kejadian tadi membuat Rena tersenyum sepanjang hari, pikirannya seolah tidak ada di tempat ini, bahkan ia tidak menghiraukan pelayan yang memperhatikan sikap Rena.
“dia memang seperti itu kalau lagi jatuh cinta!” tambah Dinda bergabung dengan pelayan-pelayan yang sejak tadi menghebohkan Rena. “ngomong-ngomong dia jatuh cinta dengan siapa?” Tanya Dinda, ia baru saja sadar kepada siapa ia berbicara, memperhatikan satu persatu wajah ketiga pelayan wanita itu, dan segera pergi ketika Wahyu datang. “sebaiknya kau tanyakan saja sama Rena” tambah Wahyu juga pergi meninggalkan Dinda sendirian. “jangan sampai dia jatuh cinta dengan Keno…!! Keno…??? apa benar dia !!!” ujarnya kesal, setelah melihat Keno menghampiri Rena. Dinda memang tidak menyukai Keno, meski hampir bertemu setiap hari, dia mungkin adalah keluarga satu-satu Rena yang menentang hubungan mereka. Malam ini Rena duduk menyaksikan band Keno yang menghibur pelanggan yang datang, dan tentu saja dia menunggu seseorang, Ray mengatakan padanya bahwa malam ia akan datang menemuinya. Café juga akan tutup lebih cepat mengingat besok mereka akan mengadakan perjalanan panjang untuk berlibur. Rena terus memandangi jam, terlalu lama baginya untuk menunggu. Dari belakang Ray ternyata sudah datang, sulit baginya mencari Rena di kerumunan orang-orang ini. “ayo kita bicara di luar saja, di sini terlalu bising” ajak Ray menarik lengan Rena. “berhentilah menarik tanganku tanpa alasan!!” protes Rena. Wajah Ray tampak begitu bahagia, baru kali ini Rena melihat Ray tersenyum lepas malam ini. “ memang ada apa?? Kamu kelihatan bahagia sekali” ujarnya, duduk di samping Ray. “rekomendasi pameranku di setujui. Aku akan mengadakan pameran pertama tunggalku dua bulan lagi”.
“benarkah..?? wah itu bagus sekali, meskipun kamu cukup terkenal di bidang ini, tapi mengadakan pameran itu sungguh luar biasa, bahkan di usia muda seperti ini” seru Rena menepuk pundak Ray, tapi tangannya kembali diraih olehnya. “jangan menepuk pundakku seperti anak kecil” ujarnya tidak suka. “ yah kamu itu setahun lebih muda dariku, kamukan Cuma beda satu tahun dengan Keno, aku dan Keno…!” perkataannya terputus saat Ray menarik lengan, menarik tubuh Rena. “bisakah kamu tidak membicarakan dia di depanku!!” Ray berdiri dari tempat duduknya dan kembali ke galeri, dia sedikit kesal mendengar nama Keno. “ada apa dengan mereka, dia tidak begitu suka dengan kakaknya sendiri”.
Dari kejauhan, sepasang mata terus memantau Rena dan Ray, tidak lain adalah Dinda. “aku tahu apa yang harus aku lakukan, ide ini tiba-tiba saja muncul di kepalaku!” ujar Dinda. “apa kamu seorang fans, seolah-olah mengikuti idolanya sendiri” ejek Wahyu, “benar…aku tidak akan membiarkan idolaku jatuh ke tangan orang yang salah” katanya mengebu-gebu. Wahyu hanya bisa mengelengkan kepalanya. “jangan suka mencampuri urusan orang lain” . “ini bukan orang lain Yu, Ini Rena, saudaraku, meski dia saudara tiriku, aku sangat menyayanginya, dia selalu cerewat demi kebaikanku, aku bahkan belum melakukan apa-apa untuk membalas kebaikannya” Dinda berdiri dari persembunyiannya, wajahnya terlihat sedih, Wahyu mencoba menghiburnya dan mengikuti rencana Dinda yang akan menemui Ray setelah ini.
Dan benar saja, sepuluh menit kemudian, Dinda masuk menemui Ray tanpa sepengetahuan Rena. “hei, aku Dinda, saudaranya Rena, ingatkan?? Kita sering bertemu di cafe” sapa Dinda, menghampiri Ray yang sibuk mencoreti kanvasnya. Tanpa basa-basi, Dinda mengajak Ray untuk ikut bersama mereka besok. “aku tidak bisa, banyak yang harus aku kerjakan, aku sudah terlalu banyak berlibur dan aku bukan siapa-siapa di café itu, jadi tidak ada alasan aku harus pergi”. Ucapnya menyuruh Dinda keluar. “kamu suka dengan Rena kan?” Tanya Dinda tiba-tiba. “oke… beri aku alasan kenapa aku harus pergi” Ray berdiri melipat kedua tangannya, menunggu penjelasan darinya. “kamu tahu Keno, vokalis band café !!? aku tidak tahu apa kamu pernah melihatnya, dia mantannya Rena, mereka putus setahun lebih yang lalu, Rena sepertinya mulai jatuh cinta lagi dengannya, bahkan Keno juga ingin meminta maaf dan memulai kembali dengan Rena, aku tidak suka dengan pria brengsek yang bernama Keno itu”. jelas Dinda, Ray mulai terhanyut dengan cerita mengenai Rena, sepertinya Dinda tidak tahu kalau Ray dan Keno bersaudara, dan bahkan dia mengatakan pria itu brengsek di depan Ray.
Setelah mendengar semua cerita dari Dinda, Ray mulai memikirkan apa yang pernah terjadi di masa lalu, saat dirinya mulai membenci Keno, kakak kandungnya sendiri, dan semua itu karena wanita yang bernama Siska, wanita yang sangat di sukai olehnya, siska adalah cinta pertama Ray, meski Siska sudah mengetahui perasaan Ray, ia tidak pernah membalas perasaan itu. di lain sisi ternyata Keno juga menyimpan perasaan kepada Siska, walaupun sudah ia sudah tahu kalau Ray menyukainya, tetapi tetap saja dia mendekati Siska. Dan pada akhirnya dengan sendirinya, perlahan Ray mengetahui itu semua. Siska lebih memilih Keno di banding dirinya, hanya beberapa bulan mereka pacaran, Siska memutuskan untuk berpisah dengan Keno dan menerima tawaran kerja di luar negeri.
Dan sekarang, wanita yang bernama Rena yang membuat hatinya mulai terbuka untuk mencintai lagi, yang membuat hatinya terus  ingin melihatnya. Dia mulai menyukai Rena meski terkadang tidak yakin dengan perasaan itu dan Rena berasal dari masa lalu Keno yang pernah menyakitinya. “aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi!!” tutur Ray, mematikan semua lampu dan masuk ke dalam kamarnya.
7. sekarang tekan tombol Remove untuk masa lalu ini
Esok datang begitu cepat, pukul delapan pagi semuanya telah berkumpul di halaman café, tiga bus sudah menunggu dan siap mengantar mereka. Butuh waktu enam jam untuk sampai ke lokasi. meski perjalanannya begitu melelahkan, mereka semua tertidur pulas, mungkin karena masih terlalu pagi, Rena asyik dengan gadgetnya, chatting bersama teman-temannya dan mendengarkan musik, perjalanan seperti ini, Rena sama sekali jarang tertidur, karena ia tidak ingin melewatkan pemandangan-pemandangan yang dilaluinya, sesekali mengambil foto dan menguploadnya di sosial media. Rena bahkan bukan selebriti tapi banyak memiliki penggemar di akunnya. Rata-rata dari mereka adalah pengunjung setia café, dan tidak jarang sebagian dari mereka adalah siswa dan mahasiswa.
Tidak terasa perjalanan panjang itu berakhir di sebuah villa tempat mereka menginap, kelelahan yang mereka rasakan seolah terbayar dengan pemandangannya. Rena tidak langsung masuk ke villa, ia begitu semangat dan tidak sabar untuk mengelilingi tempat ini, di depannya sekarang terbentang perkebunan teh yang begitu luas, gunung yang menjulang tinggi samar tertutupi awan kabut. Kakinya melangkah menghampiri beberapa turis yang sedang berbincang dan mengambil beberapa foto, meski tidak terlalu ia berjalan, dan villanya masih terlihat jelas dari tempat ini. Rena begitu menikmati suasana tenang seperti ini.
Seseorang menghampiri Rena dari jarak 50 meter, sosoknya tidak begitu jelas, perlahan menghampirinya, Rena hanya diam di tempatnya menunggu orang itu lebih dekat lagi. “Ray…!!!” serunya terkejut melihat orang yang menghampirinya adalah Ray. “kamu kok..?? kamu ngapain di sini? Kamu bisa di sini??” ujar Rena, tidak tahu harus mengatakan apa, dia benar-benar terkejut melihat Ray di sini. “Ray, aku tidak tahu harus mengatakan apa, kamu selalu membuatku seperti ini, datang tiba-tiba dan membuatku tidak bisa berpikir, bagaimana bi…??”. Tiba-tiba Ray memeluknyanya, kata-katanya terpotong begitu saja dan apa arti pelukan ini bagi Rena. “dasar aneh…” melepas pelukan Ray “ jangan membuatku salah paham seperti ini…Keno tahu kamu ada di sini?” Tanyanya menjauh dari Ray dan berjalan lebih dulu di ikuti oleh Ray. “tidak, jadi jangan katakan padanya kalau aku ada di sini!? “tuturnya membingung Rena berpikir dan penasaran, apa yang terjadi di antara mereka berdua, Ray terlihat begitu benci pada Keno. “kalian berdua saudara, kenapa kalian nggak akrab sih?”. “ada sesuatu yang terjadi di masa lalu, yang membuatku benci sampai saat ini” singkatnya, meski tidak dapat jawaban yang memuaskan, untuk hari ini dia tidak berhak tahu dengan kehidupan pribadi mereka. “ jam delapan malam temui aku di samping villa, aku ingin menunjukkan seuatu padamu “ tuturnya pergi meninggalkan Rena.
Sementara yang lainnya sibuk melakukan aktifitasnya masing-masing, Rena terus memandangi jamnya, masih ada 30 menit menuju pukul delapan. Di benakknya hanya ada Ray. “ Hei” sapa Keno duduk di sampingnya. “ada apa? “ tanyanya sejak tadi memperhatikan Rena yang begitu gelisah. “nggak kok, mungkin karena cuacanya terlalu dingin !” tutur Rena, sweater yang di gunakan Keno di kenakannya pada Rena. “makasih” ucapnya tersenyum. “Ren, aku ingin bicara padamu”, gugup Keno sedikit khawatir dengan apa yang akan dikatakannya pada Rena. “bukankah kita sedang bicara sekarang !!”. “ iya tapi tidak di sini, aku harus mengatakannya padamu malam ini”. Meski sedikit berusaha menyakinkan Rena, Keno senang saat Rena setuju.
“Ren, waktunya makan malam!” panggil Dinda kesal melihat Keno berada di samping Rena. “sepertinya Keno berusaha dekat lagi denganmu!” bisik Dinda menjauhkannya dari Keno. “tidak mungkin, kamu tahukan ? meski aku sudah memaafkannya, aku tidak akan kembali padanya lagi” bisik Rena, menyakinkan kekhawatiran Dinda. “Ren, kamu sudah ketemu sama Ray nggak??” Tanya Rena berbisik, ekpresi Rena berubah melihat sorot mata Dinda, sekarang dia tahu mengapa Ray bisa ikut dengan mereka.
Malam itu tanpa sepengetahuan yang lainnya, Rena keluar villa, dari kejauhan Ray sudah menunggunya, di bawah sinar lampu yang redup, Rena dibuatnya takjub, pria yang berdiri di sana, membuatnya detak jantungnya dan perasaannya berubah. Saat Rena mendekat padanya, Ray langsung memakaikannya syal di lehernya. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju tempat yang akan di datanginya, sedikit canggung, tangan mereka sesekali saling bersentuhan, dan itu membuat Ray tidak tahan dan berhenti. “ yah, kamu menyakiti tanganku “. Ucap ray, Rena langsung menjauh dan minta maaf, kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Tidak terlalu jauh, mereka tiba di sebuah kolam kecil, tidak ada satupun sesuatu yang istimewa yang bisa dia saksikan, meski menerawang beberapa kali, yang dilihatnya hanya sebuah pohon yang besar yang berjarak lima meter dari kolam. “hanya ini?” tutur Rena sedikit kecewa, entah apa yang ingin ditunjukkan oleh Ray. “tunggu dulu, ini sebentar lagi “. Tidak lama kemudian, Rena melihat sebuah cahaya kecil yang keluar dari rimbungnya pepohonan, satu persatu dan kemudian menjadi banyak, cahaya itu terbang tepat di atas kolam kecil, pantulan cahaya yang dihasilkan oleh bias-bias air menjadi lebih indah. Rena tidak bisa berucap apa-apa. Kunang-kunang itu telah menyihir matanya. Hanya beberapa menit, sekumpulan kunang-kunang itu kembali ke pohon setelah memperlihatkan dirinya sebentar, mereka datang di malam hari, dan hanya terlihat sebentar, karena kunang-kunang itu keluar hanya untuk mencari makanan.
“bagaimana kamu mengetahui tempat ini?” Tanya Rena kembali melanjutkan langkahnya menuju villa. “warga di sini yang memberitahuku, “ katanya berjalan di di samping Rena. Ray kembali berhenti, menunggu Rena yang terlalu jauh darinya. “ “kamu kenapa sih?” Tanya Ray kesal. Rena terkejut, tanpa alasan Ray marah padanya. “perhatikan jalanmu, dan kau terlalu jauh di sampingku” ujarnya membuat Rena bingung dengan sikapnya yang begitu cepat berubah.” Yah !!! tadi kamu melarangku terlalu dekat karena menyakiti tanganmu, dan sekarang…??” ujarnya menghela nafas dan pergi begitu saja, tetapi Ray meraih tangannya, mengenggam jemari Rena yang begitu dingin, tangan hangat Ray membuat Rena melupakan kekesalannya, dia tersenyum sambil tertunduk, wajahnya memerah bukan karena udara yang begitu dingin, tetapi tangan Ray yang mengaitkan jari-jarinya.
Sementara itu, para karyawan Rena melakukan aktifitasnya di halaman villa, menikmati sup yang di sediakan oleh salah satu chef café. Keno sejak tadi mencari keberadaan Rena, meski sudah bertanya tapi tidak ada yang tahu keberadaan Rena. Keno menghampiri Dinda, ia yakin kalau dia tahu Rena di mana. “ Rena tadi keluar membeli sesuatu” ucapnya berbohong, Dinda yakin kalau Rena saat ini bersama Ray. “ kamu berbohong lagi? “ sahut Wahyu melihat Keno keluar.
“kenapa dia pergi sendiri malam-malam begini” ucapnya dalam hati, dia berdiri di pintu masuk villa, berharap Rena segera datang. “ Rena…!!” panggilnya menghampiri Rena yang sedang berjalan sendirian, setelah berpisah dengan Ray beberapa menit yang lalu.
 “kamu dari mana sih?”
“cari udara segar” singkatnya tersenyum’
“di luarkan dingin, kenapa jalan sendiri”
“oh iya, tadikan kamu mau ngomong sesuatu sama aku, “ ingat Rena, mengikuti langkah Keno, di samping villa terdapat taman kecil, lampu di sana cukup terang dan sepi untuk mereka berbicara. “kamu mau ngomong apa?” lanjut Rena, terlihat jelas wajahnya begitu bahagia mengingat apa yang terjadi, tangannya masih terasa hangat membekas. ”aku mau kita pacaran lagi” lontarnya, memperhatikan raut wajah Rena yang langsung berubah. “aku menyesal, aku ingin mengulang semuanya dari awal”. Tutur Keno menunggu respon yang akan dikatakan Rena. “maaf Ken, aku tidak bisa !! kamu tahukan, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang” tegas Rena, Keno memegang tangannya penuh harap. “oke, tapi izinkan aku untuk memperbaikinya, aku sangat menyukaimu, kamu tidak tahu setahun ini aku terus memikirkanmu” jelas Keno. “ sudah Ken, aku tidak ingin membahasnya, bukankah sebaiknya kita tetap seperti ini, berteman dengan baik dan semuanya akan berjalan baik-baik saja” tambah Rena melepas genggaman Keno perlahan. “aku mohon Ren, aku tidak tahan hanya melihatmu setiap hari, tersenyum dan tidak memilikimu”.tuturnya meski cara menyakinkan Rena begitu memaksa. “jangan egois, kamu tidak tahu hari-hari yang aku jalani saat kamu mengkhianatiku Keno…..di sini begitu sakit, jadi aku mohon jangan buat masalah” Rena berdiri dari tempat duduknya, membelakangi Keno, perasaan itu tiba-tiba hadir dari masa lalunya, mengembalikan ingatannya saat mendapatkan Keno selingkuh dengan wanita lain. air matanya mengalir, meski sudah berusaha menahannya. “kau tahukan, aku sudah berusaha meminta maaf padamu, menghubungimu sampai puluhan kali, setiap kita bertemu di kampus kau selalu menghindariku”.jelas Keno.
” tapi…kenapa baru sekarang Keno?? kenapa?” ujarnya dengan suara serak. “kenapa tidak mencariku, mendatangi, dan berusaha.! mungkin saja aku hatiku akan goyah dan kembali padamu, tapi ini sudah setahun lebih Ken…”’.
“iya aku tahu, maka dari itu sekarang aku ingin memperbaiki semuanya”. Berusaha menyakinkan hati Rena.
“tahu apa kamu tentang apa yang aku alami haaa!!” bentak Rena membalikkan tubuhnya, melihat Keno yang sekarang menghampirinya.
“apa kamu tahu, bagaimana kecewa dan sakitnya aku, setiap hari selama beberapa bulan, harus berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura tersenyum padahal semuanya di sini,,,,,??” pekiknya, suaranya tak begitu jelas tertutupi suara tangisnya, ia memukul dada Keno berulang kali “ di sini sakit Ken, kenapa harus mengingatkan aku semuanya!!”.
“maafkan aku Ren…” mendekati Rena, mencoba menenangkan dengan memeluk erat tubuh Rena.
“hentikan…!!” suara itu memecah suasana tegang, Rena terlepas dari tangannya, kini pelukan itu tidak di dapatkannya, dan menjadi milik Ray. Rena melepaskan semua tangisan dan kepedihannya di pelukan Ray. “jangan memaksanya seperti ini, jangan egois Keno atau aku bisa membuat tinjuku melayang!” ucap Ray begitu marah, tangannya yang sejak tadi mengepal yang sejak tadi sudah memperhatikan dan mendengar pembicaraan mereka.
“pergilah Ray, kamu tidak ada urusan dengan semua ini!!? Usirnya mendekati Rena yang masih menangis, Ray sangat mengerti luapan kesedihannya, semuanya tumpah, bekas masa lalu yang di alaminya, menumpuk begitu lama dalam pikirannya, mengubahnya menjadi kesedihan dan air mata.
“sekarang dia urusanku, dengar Keno, aku tidak bisa lagi mengalah seperti dulu, aku tidak bisa lagi bersembunyi dari orang yang aku cintai, dulu aku membiarkanmu memilikinya. Karena aku yakin kamu bisa membahagiannya, tapi sekarang….! Sekarang meski Rena lebih memilihmu, aku tidak akan membiarkannya. Melihat Dinda dari kejauhan, dia memanggilnya membawa Rena masuk. Tinggal mereka berdua di tempat itu.
“sejak kapan kalian dekat…??” ujar Keno.
 “apa aku harus menjelaskannya?”. Maju selangkah, mendapatkan kerah Keno. “jauhi Rena, sekarang jawaban yang selama ini kamu ingin tahu, sudah kau dapatkan!” tuturnya menjauhkan tangannya dari Keno.
“ karena Siska lebih memilihku, jadi kebencianmu padaku seperti ini!?” bentak Keno, gilirannya meraih baju Ray. “Rena masih mencintaiku, jadi jangan masuk di kehidupan kami”. Jelasnya melepas tangannya.
“cinta…?? “. Bentak Ray meninggalkanya Keno sendirian. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, yang hanya akan membuatnya semakin benci kepada saudaranya itu.
Tangis Rena perlahan redup, Dinda masih di sampingnya menemaninya. Ini kedua kalinya ia melihat langsung Rena menangis. Selama ini ia berusaha tegar sendiri. Tapi ketegarannya di luapkan malam ini.
“kamu baik-baik saja?” Tanya Dinda
“hemmm…aku baik-baik saja, rasanya lega sudah menangis seperti ini!” katanya, membersihkan sisa-sisa air mata yang masih basah di pipinya. “apa yang lain melihatku dengan keadaan seperti ini??” ujarnya. “tentu saja!” jawab Dinda pelan berdiri mengambilkannya segelas air putih.
“benarkah…ahmmm !!” keluhnya merasa malu, bahkan masih sempat berpikir apa yang akan di gosipkan tentangnya, memikirkan karyawan dan pelayannya melihat keadaanya yang begitu memilukan. Tawa Dinda pecah melihat Rena terus menggerutu dan mengira-gira.
“mereka memang melihatmu masuk, tapi tidak melihatmu menangis, karena saat membawamu tadi Wahyu menutupimu dengan selimut, kau bahkan tidak sadar” tutur Dinda menghilangkan kekhawatirannya sejenak. “maaf Ren, karena memaksa Ray untuk datang dan menceritakan semuanya”. Sesalnya menunduk.
“Ray dan Keno itu saudara, apa kau tahu?” ujar Rena membuat Dinda terkejut tidak percaya. “benarkah…aku tahu sekarang !! waktu itu Dicki dan Doni pernah cerita tentang Keno yang tidak memiliki hubungan baik dengan adiknya, ah !! ternyata dia Ray”. Dinda sudah tahu apa yang terjadi, mendengar cerita Dicki ia menjelaskan situasinya pada Rena. “Siska…??? Gadis yang ada di foto hp milik Ray” pikirnya, ia benar-benar paham yang sebenarnya terjadi antara Keno dan Ray. Sepanjang malam ia terus memikirkannya, Ray dan gadis itu, melihatnya masih menyimpan foto di hpnya, dan lukisan yang ada di galerinya, membuat hatinya bimbang. Jika memang benar Ray sudah melupakannya, dia tidak mungkin menyimpan foto-foto mereka.
Meski pagi sudah tiba, Rena masih bermalas-malasan di tempat tidurnya, waktu menunjukkan pukul Sembilan pagi, mengingat kejadian semalam membuatnya bingung, bagaimana ia harus bertemu Keno. apa yang harus dikatakannya nanti?, apa dia harus meminta maaf? Semua kebingungan itu berkumpul di kepalanya. “ayo turun, hari ini kita akan jalan-jalan di kebun strawberry” ajak Dinda menarik paksa Rena. “bersikap seperti biasanya saja, seolah tidak terjadi apa-apa !!” tambahnya. “ tidak semudah itu melakukannya !!” ujarnya menuruni tangga.
“ selamat pagi “ sapa Rena, menutupi mata bengkaknya dengan kacamata.
“Mbak baik-baik saja kan?? “ Tanya Nina, pertanyaan itu membuat Rena berpikir kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan mereka
“Mbak sih, keluar malam-malam , cuaca dingin seperti ini rentang kena hipotermia “ tutur Nina, jawaban konyol yang bisa mereka terima, sepertinya Wahyu dan Dinda yang melakukan ini semua. Lagi-lagi meringankan pundaknya. Masalahnya sekarang adalah Keno, dari kejauhan sesekali ia memperhatikannya. Meski sedikit canggung. Menempuh perjalanan hanya selama 20 menit, mereka tiba di perkebunan stowberry, ada banyak hal yang bisa di lakukan di sini, selain strawberry, mereka juga bisa melihat perkebunan apel yang cukup luas.
Sudah hampir siang, mereka masih menikmati suasana di tempat itu. meski di sibukkan dengan pekerjaan di sosial media, tidak membuat Rena untuk lupa bersenang-senang.
“ oh iya..sore ini kita harus balik, masalahnya besok siang, ada Klien kita dari malang yang akan datang, beritahu yang lain “ ujarnya kepada Wahyu. “…dan juga panggil Keno ke sini!” katanya. Tidak lama, Keno, Dicki, Doni dan Reza menghampiri Rena. “besok akan ada mitra kerja kita dari Malang yang akan datang, Café R akan buka cabang di sana, jadi besok kalian ikut rapat bersama kami” perintah Rena, begitu tegas ketika ia berada di posisi di mana seharusnya ia menjadi  atasan dari puluhan orang yang di bawanya.
Setelah menyampaikan itu, Dicki, Doni dan Reza pergi, hanya Keno yang masih berdiri di sampingnya. “oh iya Ken, beberapa minggu yang lalu aku mengirimkan  beberapa video penampilan kalian di sebuah stasiun rekaman, dan respon mereka cukup baik dan untuk besok mereka juga akan datang untuk  bertemu kalian “ tuturnya begitu jelas. Keno hanya mengangguk. Rasanya tidak mungkin ia mengungkit kejadian semalam di saat seperti ini. Baru saja terpikirkan olehnya, Rena lebih dulu memulai pembicaraan itu.
“apa yang terjadi tadi malam, aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi, jadi aku mohon, jika kamu benar-benar mengerti, biarkan ini menjadi masa lalu kita “ ucapnya pelan, berharap Keno akan memahaminya. “bagaimana dengan Ray, asalkan bukan dia Rena, jika kamu menyuruhku untuk memahamimu, terus bagaimana caranya kamu bisa memahamiku!!”  ucapan itu seakan menjadi cambuk pedih bagi  Rena. “kita harus kembali ke villa, semuanya harus sudah siap pulang sore ini “ tambahnya lalu pergi.
Meski liburan kali ini terkesan singkat bagi Rena, tetapi itu cukup membuatnya mendapatkan cerita hari ini, karena kesibukannya ia bahkan lupa tentang Ray, ia bahkan tidak tahu di mana dia sekarang, masih berada di sini atau sudah lebih dulu pulang mendahuluinya, setelah semuanya bersiap dan naik ke bus, Rena di kejutkan dengan kedatangan Ray. “bukankah dia Ray,!!” tunjuk Nina, suaranya yang begitu jelas, membuat orang-orang yang sedang duduk,berdiri melihat keluar jendela. Keno ikut kaget melihat Ray di luar sana bersama Rena. “ah..aku ingat..laki-laki gondrong, yang menyewa gedung di samping cafekan??, dia seorang pelukis !!” tutur yang lainnya, kembali duduk.
“ada apa?” Tanya Rena, bersikap normal agar orang-orang yang penasaran dengan mereka, tidak terganggu. “ayo kota pulang bersama!!” ajak Ray, meraih tas yang di bawanya. “ Yah…!! mana mungkin aku pergi begitu saja, mereka melihat kita” tambah Rena berusaha menarik tasnya. “  Dinda akan menjelaskannya, jadi tenang saja, ayo…!!” Ray menariknya, membawanya masuk ke dalam mobilnya. Bus juga berangkat di ikuti bus yang lainnya, mobilnya berada tepat di belakang bus itu.
“kamukan atasan mereka, jadi lakukan hal yang perlu di lakukan oleh seorang bos,, yaitu mendapatkan privasi perjalanannya sendiri” jelasnya.
“soal yang terjadi semalam, kamu dan Keno…!” ungkap Rena.
“kamu sudah dengar ?? semuanya berawal dari sana “ ucapnya singkat.
Rena masih memperhatikan Ray, dia masih sama ? masih membuatnya begitu kagum dan cukup membuat hatinya berdetak, Rena menarik nafas, ada hal yang ingin diketahuinya langsung, tapi ia sama sekali tidak berani melontarkan pertanyaan itu, alasannya masih menyimpan foto dan lukisan milik gadis yang mebuat Rena begitu penasaran, sehebat apa dia sehingga membuat hati Ray, membeku sampai saat ini. Dia ingin menanyakan semua itu, agar kebimbangan di dalam hatinya lenyap, agar pikiran dan hatinya tidak salah menempatkan kebaikan Ray selama ini, dia tidak ingin jatuh lebih dalam kepada perasaanya , tidak ingin berharap lebih untuk hatinya.
8 jika memintaku untuk menunggu
Meski keadaan sedikit berubah, kehidupan yang di jalani terus mengalir sesuai kehendakNya, dia tidak ingin memaksa takdir memihaknya terus-menerus, yang di lakukannya hanya berdoa kepada Sang Pencipta.
Bertemu setiap hari karena tuntutan pekerjaan harus membuat Rena memisahkan urusan pribadi dan pekerjaannya. Walapun Keno masih berusaha mendapatkan hatinya, yang dilakukan Rena hanya berusaha menghindarinya dengan alasan yang masuk akal. Semakin hari perasaan Rena membuatnya bimbang, di lain sisi ia berusaha menghindari perasaannya kepada Keno yang semakin hari, semakin memberatkan hatinya, dengan perhatian dan perlakukan Keno kepadanya. Di lain sisi juga dia memikirkan Ray. Tetapi beberapa hari ini dia Ray tidak terlihat, galerinya juga terkunci, dia tidak ingin menanyakan Keno tentang Ray, yang di lakukannya hanya menunggu. Malam itu pukul Sembilan, Rena melihat cahaya lampu di galeri, dia begitu senang, Ray pasti sudah datang. Rena berlari, meski gerimis tidak menahan langkahnya menemui Ray.
Saat dirinya sudah masuk, yang dilihatnya bukanlah Ray, tetapi seorang gadis yang berdiri memperhatikan lukisan-lukisan yang bergantung di dinding. Rambutnya yang panjang terurai begitu manis, menggunakan kaos, dan cardigan, di tambah rok mini, kakinya mulus dan tinggi.
“hei..” sapa Rena, gadis itu berbalik dan tersenyum padanya, dipikiran Rena ia begitu terpesona dengan kecantikan gadis yang di lihatnya sekarang.
“kamu siapa?” Tanya Rena, wajahnya tidak asing, Rena mengingat di mana ia pernah melihatnya. Tiba-tiba hp gadis berbunyi.
“aku di galeri tempat Ray, kamu dimana??...Cafe’R…??baiklah aku akan segera kesana” ujarnya menutup telpon.
“Aku akan mengantarmu…!!” ujar Rena.
“kamu kerja di sana?” Tanya gadis itu mengikutinya.
“ah iya…aku pemilik café, aku datang karena ada urusan dengan Ray, tapi sepertinya dia belum datang.
“kebetulan sekali, apa kamu kenal Keno? dia bilang kerja di cafe ini!!” tanyanya langsung duduk di tempat Rena mengantarnya.
“Iya, aku akan memberitahunya, mungkin dia sedang siap-siap tampil, aku akan menyuruhnya menemuinya setelah itu.” menyerahkan menu padanya, sebelum pelayan datang.
“silahkan memesan dulu, pelayan akan segera membawanya, oh iya aku tinggal dulu yah” pamit Rena ke ruang istirahat, di mana Keno sering berada.
“Ken, seorang wanita mencarimu di luar sana,,aku lupa menanyakan namanya, tapi aku sudah kasih dia, kamu akan menemuinya setelah tampil “ jelas Rena.
“Siska…?? Dia pasti Siska” sahut Reza, membuat raut wajah Keno berubah saat melihat Rena mendengar nama Siska. Rena tidak menanggapi dan hanya pergi.
“siapa dia?” Tanya Dinda menunjuk gadis yang bernama Siska.“baru lima menit di sini, semua pria di tempat ini seolah hanya melihatnya!” tutur Dinda.
“Siska ?? pantas saja, wajahnya begitu familiar, gadis yang ada di foto bersama Ray, cinta pertamanya yang tidak terbalaskan dan juga pernah memiliki hubungan dengan Keno, membuatku sakit kepala” ucapnya dalam hati. Rena memutuskan untuk pergi dan kembali ke ruang kerjanya, dia tidak ingin memikirkan masalah ini. Setibanya di ruangan, dia mendapatkan Ray sedang berdiri melihatnya, Rena tidak tahu kedatangannya. Tiba-tiba saja ia merasakan hatinya yang merasa, karena melihat Ray yang dirindukannya. “Yah…dua hari menghilang tanpa kabar, kamu dari mana sih?” mendekati Ray. “kamu merindukanku??” ucap Ray. “apa yang kamu lakukan selama ini, kamu kemana?” Tanya Rena kembali, air matanya seolah ingin tumpah. “apa begitu merindukanku?” ulang Ray. Tetapi Rena belum menjawab pertanyaan itu, sama ketika ia juga tidak menjawab pertanyaan darinya. Rena begitu saja memeluk pria yang ada di hadapannya. “kemarin aku harus ke buru-buru kembali ke Jakarta, aku bahkan tidak tahu nomormu” ujarnya pelan, memegang kedua pundak Rena, dan mengelap air matanya. “aku minta maaf karena pergi tanpa memberitahumu” ujarnya. Rena langsung meraih hp milik Ray, saat membukanya, Rena masih melihat foto itu.
“aku sudah menyimpan nomorku , jadi kamu harus menghubungiku!!” tutur Rena, terlihat lesuh. Mengembalikan hpnya. “oh iya, tadi aku bertemu Siska di galeri, sekarang dia ada di bawah bersama Keno”. mendengar itu Ray langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa. Rena hanya melihat punggungnya yang menjauh. “aku ini siapa ? kenapa harus cemburu, bagi Ray aku hanya seorang yang butuh diperhatikan” tutur Rena pelan, menjatuhkan tubuhnya di sofa. Menutupi wajahnya  dengan tissue.
“ Siska…??” sapa Ray menghampiri mereka berdua.
“Ray…apa kabar?” sapanya kembali, gadis itu terlihat senang setelah sekian lama tidak bertemu. “kapan kamu datang?” Tanya ray.
“seminggu yang lalu, tapi aku baru sempat mengabari kalian, dan mencari tempat kalian setelah bertanya dengan Tante Widya” jelasnya. Siska memang akrab dengan orang tua Ray.
Malam semakin larut, Rena masih belum bisa memejamkan matanya, begitu banyak yang menganggu pikirannya. Bahkan sampai ribuan kali ia menghitung, kantuk yang ditunggunya tak kunjung datang. Tiba-tiba hpnya berdering. Baru kali ini dia mendapat pesan di saat larut malam begini. “apa kau sudah tidur?” bacanya, Rena terkejut, orang yang mengiriminya sms adalah Ray. Pukul dua lewat 15 menit, jari-jarinya langsung membalas sms darinya, tak berapa lama, ia mendapatkan balasannya. Ray meminta maaf atas sikapnya tadi, dan ia menyuruh Rena menemuinya besok di galeri. Entah karena sms dari Ray yang membuatnya lega, Rena kini bisa dengan cepat tertidur lelap.

Bangun pagi, pukul delapan sudah menjadi hal yang biasa bagi Rena, dan sudah menjadi pemandangan yang biasa, ketika dirinya bangun, sarapan pagi seperti nasi goring, roti dan susu sudah disiapkan oleh ibunya begitu pagi. Sendiri di rumah saat pagi, dan menikmati sarapannya sendirian.
Hari itu seperti yang sudah dijanjikan, Rena datang ke galeri, Ray langsung menyambutnya, rambutnya yang masih basah dan aroma sabun masih begitu kuat, itu berarti Ray baru saja selesai mandi, tanpa mengeringkan rambutnya terlebih dahulu, ia segera menemui Rena.
“kamu sudah sarapan ?” Tanya Rena. Ray hanya menggelengkan kepalanya. Duduk di samping Rena. “aku membawakanmu ini?” lanjutnya mengeluarkan kotak makanan yang berisi nasi goreng buatan ibu Rena.
“kamu harus sering-sering membawakanku sarapan” ujarnya membuka kotak makanan dan segera menghabiskannya.” Oh iya, kenapa menyuruhku datang?” Tanya Rena.
“Hmm…hanya ingin melihatmu saja !” ujarnya.
“kamu nggak sibuk?”
“nggak, buat apa aku menyuruhmu datang??” tambahnya mengeluarkan kanvas dan beberapa cat dan kuas dari bawa meja. “ duduklah di situ, hanya 20 menit “ lanjutnya, Ray ingin melukis wajah Rena, meski beberapa kali menolak tapi akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya duduk selama 20 menit.
“Ray,,,??” ucapnya
“hmmm…!!? Singkatnya, tangannya sibuk dengan cat-cat yang digoreskannya di kanvas.
“Siska…dia cinta pertamamu?” tanyanya meski terasa berat.
“kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“tidak, hanya ingin tahu saja !!” tutur Rena.
Setelah beberapa menit, lukisan yang di tunggu Rena selesai, karena begitu semangatnya Rena tidak sengaja menumpahkan beberapa cat dan mengenai kakinya. “ maaf” katanya menyesal. “naiklah ke atas, kamu bisa membersihkan kakimu di sana” katanya mengantar Rena masuk ke kamarnya dan meninggalkannya sesaat.
“selamat pagi “ sapa seseorang, dengan senyum cerianya menghampiri Ray yang sedang merapikan lukisan Rena. Wajah Siska berubah melihat lukisan seorang wanita yang dilukis oleh Ray. “dia pacarmu?” Tanya Siska duduk, Ray tersenyum kemudian menjawab pertanyaannya. “aku bahkan belum mengatakan perasaanku dengan benar kepadanya “ ujar Ray.
“Ray, apa kamu ingin tahu kenapa aku kembali?” Tanyanya tiba-tiba, tetapi Rena sudah turun dan melihat Siska datang.
“Dia Rena…!” katanya mengenal Rena kepada Siska.
“Hei…kami sudah bertemu kemarin!” tegas Rena, menyalami Siska.
“kalian bicaralah, aku harus ke café” katanya pergi meninggalkan mereka berdua.
“dia wanita yang kamu sukai?” tunjuknya.”Ray…!!” Siska langsung memeluk Ray. “aku merindukanmu Ray, aku ingin kembali padamu, !” tuturnya melepaskan pelukannya, meraih tangan Ray.
“kenapa tiba-tiba kamu seperti ini!?” ujar Ray begitu terkejut dengan sikap Siska yang tiba-tiba memeluknya
“aku tidak bisa melupakamu Ray, selama empat tahun aku dipenuhi rasa bersalah, terkadang kamu masuk dalam mimpiku, ada waktu di mana aku harus terjaga semalaman mencoba menghubungimu, tetapi aku bahkan tidak tahu nomormu dan Keno. aku sudah menunggu setelah menyelesaikan studiku, aku akan kembali menemuimu Ray, saat melihatmu ada di majalah, aku benar-benar yakin untuk menemuimu lagi” jelasnya begitu panjang. Ray tidak bisa mengatakan apa-apa, dia membalas pelukan Siska, seketika itu hatinya luluh. Terlalu lama hatinya membeku, terlalu lama hatinya tertutup hanya karena Siska. Dan inilah kesempatan baginya untuk memulai dari awal, dan seketika itu juga dia melupakan perasaannya kepada Rena.
Hari berlalu, semenjak kedatangan Siska siang itu, Ray tidak pernah lagi menyapanya dan bahkan setiap malam, dia hanya menatap layar ponselnya, menunggu jika Ray akan mengiriminya pesan. Tapi semuanya sia-sia, Rena meletakkan hpnya. Menutupi wajahnya dengan bantal, dan menangis semalaman. Dia seolah di permainkan oleh keadaan, dan  waktu tidak memihaknya saat ini. Dia seolah merasa asing dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
“selamat ulang tahun !” tiba-tiba ucapan itu memenuhi seluruh café, suara tepuk tangan dan ucapan selamat mengelilinginya, kesedihan yang di rasakan akhir-akhir ini membuatnya lupa seketika. Dia bahkan lupa hari ini adalah hari kelahirannya. Rena begitu senang karena banyak orang-orang di sekitarnya yang begitu mencintainya,tidak sulit baginya untuk mengalihkan kesedihannya. Meski malam ini adalah pesta yang cukup meriah. Tetapi ia tidak membohongi hatinya, ia benar-benar merasa kosong, ia melangkah meninggalkan keramaian, keluar café menghirup udara segar. Pandanganya mengarah ke tempat Ray, lampunya masih gelap. “aku merindukanmu !!” bisiknya, melihat layar hpnya mencari nama Ray. Dia memberanikan dirinya mengirimi sebuah pesan singkat.
“hari ini aku berusaha untuk lahir kembali, melupakan rasa ini. Aku begitu bodoh harus menyimpanmu di hatiku. Hari ini izinkan aku bertemu denganmu. Aku menunggumu di café” jarinya terhenti, dia sedikit menyesal mengirim sms itu.
“Rena…kamu ada di sini?? dari tadi aku mencarimu !” ucap Keno menghampirinya.
“ini untukmu!!” menyodorkan hadiah kepada Rena, isinya kalung berbentuk hati, dan di sana terdapat inisial nama Rena. “hadiah ini tidak pantas untukku Ken !”. ujar Rena mengembalikannya. “jangan membuat aku merasa malu, menolak hadiahku “. Tambah Keno. memasangkannya di leher Rena. “terima kasha Ken!!” ucapnya senang.
satu persatu pengunjung meninggalkan café, malam ini Rena ingin menginap di ruang kerjanya, dan alasan lainnya ia menunggu Ray.
Saat mendengar suara pintu terbuka, Rena cukup senang, tetapi yang datang bukanlah Ray, tetapi Siska. “dia tidak akan datang !! jadi aku mohon jangan menunggunya”. ujarnya. “kamu wanita yang baik Ren, aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang lebih menyayangimu, dan itu bukan Ray”. Tegasnya kembali, mendengar itu membuat seluruh tubuh Rena remuk. “ aku tidak percaya, aku ingin mendengarnya langsung, di mana Ray sekarang?” Rena berlari keluar, tetapi di tarik oleh Siska. “apa kamu bodoh Ren, jika kamu tidak percaya coba pikirkan, buat apa dia mengabaikan smsmu, dan menyuruhku datang menemuimu, pikirkan itu baik-baik “ katanya kemudian pergi, setelah melihat Rena tidak berkutik dengan ucapannya,
Rena menjatuhkan tubuhnya di lantai, hatinya begitu sakit, air matanya terus mengalir, rasa sakit yang dirasakannya benar-benar tertancap kuat, seolah seseorang sedang menarik sesuatu dari hatinya untuk keluar, tangisnya yang tersedu-sedu ia tahan dengan menutup mulutnya. Jiwanya seakan tidak bersamanya lagi. Meski ia menangis sekuat-kuatnya takkan ada seorang yang tahu tentang dirinya.
Sementara itu, Siska meski merasa bersalah telah berbohong kepada Rena, demi mempertahankan Ray tetap di sisinya, ia harus egois dan menyakiti orang lain. ia hanya mementingkan perasaan dan kebahagiannya sendiri. Waktu di saat Rena mengirimkan sms kepada Ray, Siska sedang bersamanya, meski hanya sekilas ia melihat sms Rena, dan berusaha agar sms itu tidak di baca oleh Ray. Tetapi itu hanya sementara, setelah mengantar Ray kembali ke galeri, beberapa menit kemudian dia membuka pesan singkat dari Rena. Tanpa berpikir apa-apa, Ray berlari sekuatnya, pintu café sudah terkunci, lampu di ruang tengah sudah gelap, tapi ia tahu kalau Rena masih di dalam menunggunya. Meski beberapa kali berteriak memanggil Rena, yang dilakukannya hanya sia-sia. Tapi itu tidak membuatnya menyerah. Ray berlari ke halaman samping café, ia melihat dari bawah jendela ruang kerja Rena lampunya masih menyala, ia kembali berlari ketempatnya dan membawa tangga diletakkannya ketembok, tidak lama ia sudah sampai di jendela, ia melihat Rena terbaring di sofa, dengan langkah hati-hati Ray mengeser jendela dan masuk. Rena tertidur lelap, dia menghampiri gadis itu, gadis yang sudah menangis berjam-jam, Ray lebih mendekat, melihat jelas wajah Rena. Tangannya merapikan rambut Rena yang berantakan, Ray bisa merasakan kesalahan yang baru saja di lakukan kepada wanita yang sejak tadi menunggunya. Ray meraih selimut dan menutupi tubuh Rena yang kedinginan, dia bisa merasakan nafas Rena yang begitu berat, bulir air matanya yang masih mengalir, tangannya yang masih mengenggam bagian dada bajunya, dia memang tertidur tetapi seolah tidur itu hanya penutup lukanya.
“Ren, maafkan aku !!” bisiknya, mengenggam tangan Rena, matanya terus menelusuri wajah Rena, “maafkan aku yang begitu bodoh, aku tidak sadar ada dirimu yang memikirkanku, maaf karena terlambat menyadarinya”. Ujarnya mengeratkan genggamnya.
Sepanjang malam, Ray terus berada di samping Rena, hatinya masih penuh dengan rasa penyesalan, di dalam hatinya dia berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak mengabaikan Rena. Malam berlalu, dan pagi tiba bersama sinar matahari yang terpancar di kaca jendela, cahayanya membelai hangat di pipi Rena, cukup hangat hingga membuatnya terbangun, dan terkejut melihat Ray yang  duduk sambil tertidur di sampingnya, memegang tanganya. “bagaimana dia bisa masuk?” ucapnya dalam hatinya, melepaskan tangannya dengan hati-hati agar Ray tidak terbangun, tetapi Ray menarik kembali tangannya. “lima menit” ucapnya pelan, Ray masih menutup matanya. Rena merebahkan kembali tubuhnya, menatap wajah Ray yang persis di sebelah wajahnya. “10 menit…!!” ujar Ray mendekatkan wajahnya. “kenapa 10 menit?” ujar Rena. “lima menit memegang tanganmu, dan lima menit menatap wajahku” tambah Ray, Rena hanya tersenyum kecil dan menggunakan waktunya menghafal titik, lekuk garis di wajah Ray.
“bertanyalah…!!” sahut Ray.
“apa yang harus aku tanyakan?” balasnya.
“semua yang ingin kamu ketahui…!!”.
“hmmm…terima kasih untuk datang..”ujar Rena
“itu bukan pertanyaan !!”. lanjut Ray, masih memejamkan matanya.
“baik..!! bagaimana dengan Siska, apa kamu akan kembali padanya?” Tanyanya, Ray terdiam beberapa detik.
“kalau aku kembali padanya, bagaimana denganmu?”.
“aku hanya takut, orang yang aku sukai, tidak bahagia bersamaku. Ray..!! jika saja kamu tidak datang malam ini, tetap saja aku tidak akan bisa membencimu”. Ujar Rena.
“kenapa?”. Ucapnya membuka kedua matanya, menatap Rena yang begitu dekat dari wajahnya.
“karena aku tidak punya alasan untuk membencimu, dan aku juga percaya padamu, meski aku adalah titik yang paling kecil di hatimu, aku juga akan bahagia setidaknya aku pernah mengisinya” Tutur Rena bersama senyumnya yang membuat hati Ray semakin menyukainya.
“kamu tidak akan menjadi titik kecil dihatiku, tetapi selimut yang akan terus memberikannya kehangatan, dan aku tidak akan mengucapkan kata-kata ini, ‘jadilah pacarku’ “. Ujar Ray, mendengar kata-katanya membuat Rena mengerti maksud Ray. 
Cinta tak selamanya harus di ucapkan, cinta hanya akan jatuh pada tempat yang akan di tujunya. Meski kadang cinta membuat orang tersakiti, tetapi cinta yang baik akan memberikannya penjelasan, kenapa, mengapa dan kapan cinta yang tepat akan datang.
8. memilih jalan yang tepat
“Dindaaa…..!!!” teriak ibunya dari bawah, berulang kali sampai Dinda keluar dari kamarnya. “ Rena belum bangun?” Tanya ayahnya, yang sejak tadi sudah menunggu di meja makan, sambil membuka halaman surat kabar.
“Rena nggak pulang Ayah…!!” ujarnya menuruni tangga.
“loh…dia nginap lagi di café?, kan bahaya perempuan nginap sendiri”. Tutur ibunya sambil menyiapkan sarapan pagi. “inikan hari sabtu, kenapa dia nggak pulang? Gimana kalau kita susul dia ke café” ajak ibunya.
“Bun, Ayah… eeee Dinda mau ngenalin seseorang  ke kalian “ ucap Dinda, sedikit takut.
“pacar yah?? Jangan kenalin dulu kalau nggak serius!” tegas ayahnya.
“kali ini serius Yah, malah Wahyu yang ngotot ingin ketemu kalian !!” tambahnya sedikit khawatir dengan respon kedua orang tuannya.
“dia kerja apa?” Tanya ibunya.
“dia manajer di café Rena, “
“oh pantas kamu sering ke sana…” tambah ibunya.
“Ayah mau lihat dulu, Ayah nggak mau loh kalau kamu salah pilih!” ujarnya sedikit menasehati Dinda,
“ Ayah sama Bunda pasti suka deh, kali ini Dinda serius !!” ujarnya manja.
“ jadi kapan kita ketemunya?” Tanya Ayahnya kembali.
“malam ini Yah, di café Rena karena berhubung Ayah nggak sibuk, kenapa nggak, dan nanti Dinda kenalin sama pacarnya Rena juga”. Ujar Dinda menatap bergantian kepada Ayah dan Ibunya yang begitu senang.
Sementara itu di café, Ray dan Rena masih mengobrol tentang mereka berdua.
“kapan kamu udah mulai suka sama aku?” Tanya Rena serius.
“belum lama ini sih, aku mulai memikirkanmu saat pertama kali kau datang di ketempatku dan tanganmu terluka, dan kamu pingsan, awalnya hanya merasa bersalah, kita sering bertemu tanpa sengaja, dan semua itu yah…semuanya seperti ini,walaupun melihatmu setiap hari tapi aku sering merindukanmu dan pada akhirnya Siska datang…” ujarnya berhenti, menarik nafas, melihat wajah Rena sebelum melanjutkan ceritanya. “dia membuatku goyah beberapa saat, aku berpikir perasaanku padamu, hanya perasaan yang datang sementara waktu, tapi semuanya sudah tidak sama, jika aku bersama Siska, entah kenapa yang ingin ku temui adalah dirimu.” Jelasnya, Rena hanya tersenyum mendengar penjelasan Ray, dia terlalu banyak salah paham selama ini.
“aku akan datang lagi nanti malam” ujar Ray berdiri dari tempatnya.
“orang tuaku akan datang untuk makan malam, jadi malam ini kita….??”.
“benarkah,,,!? Kalau begitu sampai ketemu nanti malam” ujarnya memotong ucapan Rena lalu pergi
“kau kemana?” Tanyanya berdiri mengantar Ray keluar.
“kenapa? Mau ke ikut denganku !” ucapnya menggoda Rena, kembali menutup pintu dan melingkarkan kedua lengannya di bahu Rena, menatapnya sambil tersenyum. “lepaskan…!!” dorong Rena, dari wajahnya yang terlihat sangat malu saat Ray memandang serius padanya.
“tentu saja aku akan kembali ke galeri, aku jugakan tinggal di sana, tidak ada tempat yang bisa aku datangi kecuali galeri itu dan……???” kembali memandang Rena. “ dan dirimu…!! “ bisiknya, lagi-lagi dia membuat hati meningkatkan level cintanya kepada Ray. “ ah…kalau kamu rindu padaku, kamu bisa datang, aku tidak akan kemana-kemana hari ini, banyak yang harus aku selesaikan” tambahnya lagi sebelum pergi.
Hari ini adalah hari yang begitu tak terduga bagi Rena, semalam ia menangis begitu sakit, dan ketika ia terbangun sesuatu yang indah berada di depannya. Baginya kejadian yang buruk yang telah berlalu bagaikan mimpi buruk, ia tahu bahwa kebahagian dan kesedihan hanya titipan untuknya yang harus di gunakan sebaiknya.
Waktu menunjukkan pukul dua siang, melewati jam makan siangnya, karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menyelesaikannya tak ada lagi kegiatan yang di lakukannya hari ini. Tiba-tiba ia ingat dengan Ray dan kata-katanya ia bisa datang kapan saja jika mau. Rena berjalan menuju ke dapur, dan menyuruh chef membuatkan kotak makan siang untuknya. Saat itu ia melihat Wahyu dan  mengajaknya mengobrol mengenai makan malam bersama orang tuanya sembari menunggu makan siangnya.
“aku keluar sebentar yah!!” ujarnya membawa kotak makan siangnya ketempat Ray.
Tapi hari itu juga tanpa Rena tahu, Siska juga datang menemui Ray. Ketika Rena masuk ia mendengar suara Siska yang sedang menangis dan menumpahkan kemarahanya kepada Ray. Rena hanya berdiri tidak jauh dari mereka,  dia tidak bermaksud untuk menguping, tetapi untuk pergi ia juga tidak bisa, karena Ray melihatnya datang, Siska berdiri membelakangi Rena, jadi ia tidak tahu kalau ia datang.
“kau tahukan Ray, aku kembali ke Indonesia karena dirimu “ ucapnya sambil menangis memegani tangan Ray.
“sudah tidak ada yang bisa aku katakan, sekarang kamu pergilah” ujarnya, sambil terus memperhatikan Rena yang masih berdiri, Ray melepaskan tangan Siska dan menghampiri Rena. “masuklah, aku sudah menunggumu!” ucapnya menarik lengan Rena. Siska yang masih menangis hanya bisa pergi dengan kemarahannya.
“apa dia baik-baik saja? Dia nangis Ray, nggak baik buatnya pergi menyetir dengan keadaan seperti itu” ujar Rena khawatir kepada Siska, ia bisa merasakan kesedihan Siska, meski sedikit bersalah ia tahu Siska tidak mungkin menerima keadaan yang dialaminya.
“aku sudah menghubungi Keno untuk menjemputnya, jadi tidak usah khawatir” jelasnya. “kamu bawa makanan?” Tanyanya membuka makanan yang di bawa Rena, ia masih memikirkan Siska. Sehingga pikirannya saat itu begitu kacau, Ray yang menyadari itu, dan menjelaskan apa yang terjadi. “aku mohon Ren, jangan pikirkan hal itu, saat ini hanya kamu, dan pikirkan tentang kita berdua” ujarnya menyakinkan hati Rena.
Meskipun begitu Rena belum yakin kepada Ray masih yang ingin di pastikan dan hal itu sangat menganggu pikirannya. Sembari Ray merapikan lukisan-lukisannya, Rena mencuri kesempatan mencari lukisan Siska, meski beberapa kali ia mencari tetapi ia tidak menemukan lukisan itu. hatinya sedikit lega, Ray berbalik memperhatikan Ray yang sedang sibuk, masih ada yang membuatnya begitu penasaran. Ia belum melihat ponsel Ray. Tetapi tanpa di sadari oleh Rena, Ray sejak tadi sudah memperhatikan Rena dengan tingkahnya yang mencurigakan. Ray sedikit paham apa yang di pikirkan Rena tentangnya, hati gadis itu masih bertanya-tanya akan sesuatu.
“Ren, ayo duduk, ada yang ingin aku katakan!” sahut Ray duduk di samping Rena.
“aku harus kembali ke café, kita bisa bicara nantikan !!” ujarnya berdiri, tetapi tangan Ray menariknya kembali duduk, lebih dekat, Ray melingkarkan tangannya di pinggang Rena, memeluknya dari belakang, menaruh wajahnya di di bahu Rena, tepat di samping wajahnya. Rena terkejut dengan sikap Ray yang tiba-tiba memeluknya, selama ini sudah wajar bagi Rena ketika Ray memegang tangannya, tapi kali ini tidak sama, Ray yang sekarang kini sangat dekat dengannya, ia bisa merasakan detak jantungnya lebih dekat, dadanya yang datar dan kekar. Rena memalingkan wajahnya sedikit. Ia ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Ray, mengapa ia melakukan ini? Rena diam sejenak menunggu Ray mengatakan sesuatu lebih dulu.
“ayo kita menikah…!!” ujarnya, ucapan yang sangat jelas di dengarnya, kini Rena lebih terkejut lagi, semua keraguannya seakan sirna begitu saja, di hatinya serasa ada sesuatu yang ingin meledak, aliran darahnya seakan terhenti, bahagia ? iya tentu saja hal itu bercampur dengan dirinya saat ini.
“ya…jangan bercanda Ray!” ujarnya menarik nafas lebih dalam, melepas pelukan Ray dan berdiri di hadapannya yang masih duduk dan tangannya masih mengenggam tangan Rena.
“Aku serius…” tatapnya membiarkan Rena kembali ke café, terlihat dari wajah Rena yang begitu senang mendengar permintaan Ray. Sesampainya di café ia masih saja terus tersenyum mengingatnya, hanya dirinya yang merasakan kebahagian itu, sepanjang ia berjalan senyumnya itu membuat para pelayan heran dan membisikkan Rena. Dia bahkan tidak memikirkan itu semua.
Akhirnya matahari kembali redup kembali ke tahtanya, malam ini Rena sendiri yang mengatur dan mendekorasi meja makan, sebentar lagi kedua orangnya tiba, sementara itu Dinda tiba lebih dulu ia sedang bersiap-siap sedangkan Wahyu berdiri begitu cemas di samping meja kasir, melihat itu Rena menghampiri Wahyu.
“ tenang saja, orang tuaku bukan seperti adegan di film-film kok, dia akan langsung menyuruhmu cepat-cepat melamar Dinda ” ujar Rena, tertawa melihat sikap Wahyu. Setelah mengatakan itu Rena menuju ke dapur memeriksa persiapan makan malamnya. Meski pengunjung café cukup banyak, tetapi semuanya masih terkontrol dengan baik. Sementara memeriksa makan malamnya, Dinda masih bersiap-siap dan Wahyu sedang bersamanya, Rena sudah menyuruh pelayan untuk memberitahu mereka jika Ayah dan Ibunya tiba.
Tidak lama kemudian, Ayah dan Ibunya sudah tiba dan duduk di tempat yang sudah di sediakan, tidak lama setelah itu, Ray juga datang menghampiri mereka, karena mereka sudah kenal dengan Ray tidak sulit bagi Ayah dan Ibunya untuk berbicara banyak. Di susul Dinda dan Wahyu setelah itu Rena. Ia begitu terkejut melihat Ray bersama dengan mereka.
“apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya berbisik.
“bertemu dengan mereka !” ucapnya mengedipkan matanya kepada Rena.
“Keno…!!” panggil Ayahnya setelah melihatnya turun dari panggung. “Keno kerja di sini juga?? Kalian pasti selalu bertemu!” ujar Ayahnya yang memang sudah kenal dengan Keno, mereka sering bertemu saat Rena masih pacaran dengan Keno. meskipun kedatangan Keno sedikit membuat Rena canggung dan Ray tidak begitu suka, mereka berusaha untuk menjaga pembicaraan.
“jadi kalian berdua saudara??” ujarnya Ayahnya semangat, melihat Ray dan Keno.
“ senang sekali rasanya malam ini melihat putri-putri Ayah bersama dengan orang-orang yang dicintainya, oh iya Nak Keno, apa kamu juga serius dengan hubungan kalian, saya terkejut saat tahu kalian putus dan ternyata kalian bisa bersama lagi” jelas Ayahnya, membuat wajah Dinda mengernyit karena Ayahnya sepertinya sudah salah paham, sedangkan Rena langsung terbatuk-batuk mendengarnya. Tiba-tiba Ray berdiri membuat semuanya terkejut, setelah tenang ia tersenyum kepada Ayah Rena. “Oh iya Pak…perkenalkan aku Ray…kekasih Rena, tadi siang aku sudah melamarnya, dan sekarang aku akan melamarnya segera secara resmi” ujar Ray memperkenalkan dirinya, walaupun masih bingung Ayah dan Ibunya masih tidak mengerti apa yang terjadi, dan meminta maaf kepada Keno.
Usai makan malam dan perbincangan singkat mereka, Ayah dan Ibunya langsung pulang, sedangkan Ray dan Keno sudah tidak terlihat sejak tadi. Mereka berdua sudah berada di galeri, Keno tidak ingin pembicaraan mereka terganggu dan di tempat ini mereka bisa berbicara banyak.
“Apa Siska baik-baik saja?” Tanya Ray mengawali pembicaraan.
“Apa dia akan baik-baik saja, setelah kamu menolaknya ??” ujar Keno. “ dan apa maksudmu ingin menikah dengan Rena, jangan main-main Ray!!” lanjutnya terlihat begitu marah setelah apa yang di dengarnya.
“menurutmu aku bercanda ? Rena…dia adalah wanita yang sudah masuk dalam kehidupanku, membuatku jatuh cinta lagi setelah sekian lamanya, dan aku mulai melupakan kebencianku kepadamu, karena dia membuat semuanya baik-baik saja” jelasnya. Mendengar jawaban dari Ray membuat Keno tidak bisa berkutik, dia kemudian pergi dengan kemarahannya dan menendang kanvas-kanvas yang terletak di lantai. Ray berteriak sekeras-kerasnya menumpahkan kekesalannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa kepada dirinya dan rasa bersalahnya yang begitu besar karena membenci kakaknya begitu lama.
Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit keadaan yang sulit perlahan mulai membaik, lima bulan berlalu dan kontraknya di café sudah berakhir, Keno dan Bandnya menerima tawaran rekaman, berkat Rena kini Keno akan menggapai mimpinya, tidak ada alasan bagi Keno untuk tetap tinggal di kota ini. Tinggal di sini hanya akan membuatnya sulit melepaskan Rena, untuk itu dengan Keno perlahan akan menerima apa yang terjadi, memperbaiki hubungannya dengan Ray adalah hal yang terpenting untuknya saat ini. Seminggu sebelum pameran tunggal Ray, Dinda dan Wahyu juga akan menikah, berlipat kebahagian yang dirasakan Rena saat ini.
Hari yang begitu di nanti oleh Ray, tentu saja karena siang ini adalah pembukaan resmi pameran kekasihnya. Rena datang ke galeri lebih cepat dan membantu persiapan Ray. Rena begitu kagum dengan karya-karya yang dihasilkan oleh tangan seorang Ray, lukisan abstrak dan 3 dimensi yang begitu menakjubkan tergantung indah di dinding, bagi seorang yang betul-betul mengerti arti sebuah keindahan lukisan Ray benar-benar bisa membuat mata orang-orang tidak berkedip.
Satu persatu tamu undangan sudah memenuhi ruang pameran, kedua orang tua Rya juga ikut serta menyaksikan karya-karya anaknya. Rena bisa melihat orang-orang yang pakar dan ahli seni, datang untuk memberikan penilaiannya, Jhon Bobby seorang pelukis tubuh yang sangat terkenal dan pelukis asal Eropa itu turut memeriahkan para wartawan dan reporter yang datang. Rena tidak menyangka pameran Ray sukses dan berjalan dengan baik, pujian dan ucapan selamat menghujani kupingnya.
Mendapatkan respon positif terhadap-hadap karya-karyanya merupakan kebanggaan yang luar biasa bagi diri Ray, sekarang galerinya terbuka untuk pengunjung yang akan melihat lukisannya. Tapi di balik kesuksesan Ray tidak serta merta membuatnya cukup bahagia karena di lain sisi Ray harus menerima tawaran dari pihak Jhon Bobby untuk memperkenalkan karyanya di luar Indonesia dan untuk itu juga selama beberapa bulan ia akan berpisah dengan Rena.
Berpisah sementara waktu bukanlah beban besar baginya, tetapi janji yang pernah di buatnya kepada Rena, yaitu untuk datang melamarnya pada hari yang sudah mereka rencanakan, mungkin jalan satu-satunya yang harus di lakukan Ray adalah menolak tawaran itu.
Sementara itu ternyata Rena juga mengetahui tentang tawaran itu, tidak mudah bagi Ray untuk mengatakan langsung kepada Rena. Setelah memikirkan matang-matang malam itu Rena mendatangi Ray,
“Hei…”sapanya duduk di samping Ray yang sedang merapikan peralatan lukisnya, hari ini ia terlihat begitu lelah.
“maaf yah, seharian ini aku tidak menghubungimu” ujar Ray.
“nggak apa-apa kok, aku juga sibuk di café lagipula kita kan juga dekat, jadi nggak masalah kalau ingin bertemu” ucapnya memandangi Ray dan menyeka pipinya. Merasakan sentuhan tulus dari Rena membuat Ray kembali tersenyum dan langsung berbaring di paha Rena. “hum kau benar, aku begitu lelah hari ini, hingga lupa untuk mengisi kembali tenagaku” ucapnya tersenyum menutup kedua matanya.
“ini adalah kesempatan yang langkah dan hanya datang sekali Ray, jadi tidak masalah jika kamu ingin pergi”ujar Rena, Ray diam beberapa saat setelah mendengarnya.
“janjiku padamu lebih penting” ucapnya membuka matanya melihat wajah Rena.
“kita bisa menikah setelah kau kembali nanti, lagi pula hanya beberapa bulan saja, aku tidak masalah” tegasnya berusaha menyakinkan Ray, dan dengan alasan yang membuatnya Ray harus berubah pikiran dan menerima tawaran itu, karena kepercayaan Rena yang harus membuatnya harus pergi dan membuat Rena menunggu lebih lama lagi. Itu semua tidak masalah bagi Rena, selama ia percaya dengan keteguhan hatinya menunggu akan menjadi sesuatu yang lebih indah yang harus dijaganya. Hanya beberapa bulan kemudian, semua mimpinya akan terwujud.
Hari yang istimewa akhirnya tiba di hadapan Rena, memandangi dirinya di cermin dengan gaun pengantin impiannya. Harum bunga memenuhi ruangan resepsi dan Ijab Kabul. Hari yang ditunggunya akan menjadi hari yang begitu membahagian untuk mereka berdua, saling bergandengan tangan dan di saksikan pasang mata, senyum merona dari kedua orang tua Rena dan Ray, teman-teman dan tamu yang datang menambah kebahagiannya. Langkah yang di jalaninya bersama-sama adalah tolak ukur untuk membuat masa depan mereka sebagai sepasang suami istri akan jauh lebih menantang lagi.
Nb : jangan takut untuk memulai dan jangan takut untuk mengakhiri, sama saat kau ribuan kali berpikir untuk memulai, dan putuskan sekali saat kau mengakhiri.
END
03 januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar